Padang Ekspres Selasa 8 Januari 2008
Oleh Fachrul Rasyid HF
Menulis sejarah di depan pelaku sejarah atau sekurang-sekurangnya di depan saksi sejarah, bagi sebagian orang menjadi sebuah kendala. Bagi saya adalah keberuntungan. Keberuntungan itulah yang saya dapatkan ketika menulis sekilas riwayat Prof. Dr. HAMKA, pada Padang Ekspres 26 Desember 2007 lampau.
Semula saya menduga tulisan itu tak akan mendapat tanggapan, apalagi koreksi dari pembaca. Sebab, pengalaman selama 25 tahun lebih di media massa, jarang ditemukan di daerah ini orang yang mau berpartisipasi, mengoreksi, memperkaya atau membantah tulisan, pendapat bahkan berita yang keliru sekalipun.
Tak berlebihan kalau muncul pertanyaan, apakah koran memang dibaca orang atau tidak. Tapi yang pasti, sejak beberapa tahun belakangan, berpolemik dianggap seolah “bacakak”, sebuah persepsi yang keliru untuk era komunikasi dan kemajuan pendidikan sekarang.
Karena itu tulisan Kamardi Rais Dt. P. Simulie bertajuk “Koreksi Kecil atas Tulisan Fachrul Senin, 31-Desember-2007 lalu, adalah sebuah keberuntungan. Sebab, Dt Simulie adalah bagian dari saksi sejarah masa lalu, termasuk saksi bagi sejarah HAMKA. Kalaulah Dt., Simulie tak ada, tentu diragukan akan ada orang lain yang mau memberikan kesaksiannya.
Lagi pula menulis pendapat, ilmu, pengetahuan, dan pengalaman tak ada yang bersifat mutlak keberananya. Artinya, semua itu akan terbuka terhadap kritik, koreksi, pengurangan atau penambahan di sana-sini.
Tulisan saya, “Hamka, Sosok Ideal Seorang Ulama”, pada prinsipnya hanyalah menempatkan HAMKA sebagai sebuah contoh mewakili sosok sejumlah ulama besar Minangkabau. Tulisan itu dilengkapi matrix/ tabel 13 indikator pada ulama panutan zaman dulu dan ulama sekarang. Indikator itu adalah hal-hal yang realistis /konkret, bukan 5T yang berisikan ungkapan simbolis seperti ditulis Dt. P. Simulie.
Indikator itu saya observasi dan kumpulkan sejak 1983 silam dan kini sedang dalam bentuk draf Buku Profil Ulama Minangkabau. Artinya angle tulisan bukan pada HAMKA itu sendiri melainkan pada perbedaan sosok ulama dulu dan sekarang. Mungkin karena keterbatasan ruangan, tabel indikator belum diturunkan. Berikut saya munculkan kembali.
|
Ulama Panutan/ Hamka |
Indikator |
Ulama Sekarang |
|
prilaku terpuji, terbuka dan dikenal luas |
Kepribadian |
tertutup dan tak dikenal |
|
kebiasaan dan prilaku anak dan istri terpuji |
Keluarga |
banyak tak mendukung keulamaan |
|
punya kepedulian sosial, peka dan responsif terhadap pekembangan |
Kepedulian |
rendah, kurang peka dan tak berani merespons perkembangan |
|
teruji dalam berbagai hal |
Kecerdasan |
jarang teruji di depan publik |
|
teruji secara moril, marteril dan an intlektual |
Kejujuran |
jarang secara moril, materil dan intlektual |
|
teruji dalam berbagai situasi dan kondisi |
Keberanian |
tak teruji, bahkan banyak yang kehilangan keberanian |
|
menguasai bahasa Arab dan punya spesialisasi ilmu |
Kompetensi Keilmuan |
tak banyak menguasai bahasa Arab/ spesialisasi ilmu tak jelas |
|
bersikap,dan berusaha bukan pegawai negeri |
Kemandirian |
tak mandiri dalam bersikap, berusaha, sebagain besar pegawai negeri |
|
imam tetap sholat jamaah, pemimpin organisasi sosial dan politik |
Kepemimpinan |
tak punya jamaah tetap, jarang memimpin organisasi sosial/politik |
|
masyarakat dan negara, agama, dan urusan duniawi |
Konsultan masyarakat |
tidak berada di tengah-tengah masyarakat |
|
guru,mubaligh, berbasis di masjid dan madarasah |
Kependidikan |
banyak jadi guru, mubalig keliling. Tak punya basis masjid atau madrasah |
|
berfikir, bersikap, berpendapat dan bertindak |
Konsisten |
cenderung tak istiqamah berpendapat dan bersikap |
|
punya sejumlah buku, artikel/karangan di bidangnya (79 judul) |
Karya tulis |
hanya menulis skripsi, buku internal, jarang punya karya tulis buku/ artikel untuk publik |
Namun demikian beberapa koreksi Dt. P. Simulie ada benarnya. Tentang karya Tafsir Al-Azhar , Dt. P. Simulie benar. Tafsir itu memang 30 jilid sesuai juz Alquran, bukan 5 jilid seperti yang salah saya ketik. Tapi, bahwa HAMKA pernah jadi konsul Muhammadiyah di Makassar, (menurut Dt. P. Saimulie di Medan) bisa dibaca dari Wikipedia Indonesia, Ensiklopedia Bebas Berbahasa Indonesia. Begitu juga tentang HAMKA bergelirya di hutan-hutan Sumatera Utara saat melawan Agresi Belanda itu.
Berikut kutipannya,” Pada tahun 1945, beliau membantu menentang usaha kembalinya penjajah Belanda ke Indonesia melalui pidato dan menyertai kegiatan gerilya di dalam hutan di Medan. Pada tahun 1947, Hamka diangkat menjadi ketua Barisan Pertahanan Nasional, Indonesia”.
Saya tak menyebut HAMKA hanya sekali hadir dalam kongres Muhammadiyah. Tapi saya menulis, hadir pada Kongres 31 Muhammadiyah di Yogyakarta 1950 Hamka berksempatan mereformasi pola pembangunan Muhammadiyah. Saya sengaja memilih momentum itu sebagai simbol betapa besar pengaruh HAMKA terhadap Muhamamdiyah. Sekali lagi saya tak sedang menulis biografi, tapi indokator ulama pada HAMKA. Karena itu saya tak menulis kehadiran HAMKA pada kongres yang lain.
Dalam kontek itu pula saya tidak menyoal apakah Partai Masyumi dibubarkan atau dilarang pemerintahan Orde Lama. Yang ingin saya petik adalah HAMKA yang mendekam dalam penjara Orde Lama (tahun 1964-1966) justru mampu menghasilkan karya besar, seperti Tafsir al-Azhar.
Begitu pun saya berterimakasih atas tulisan Dt. P. Simulie dengan beberapa alasan. Pertama, saya melihat masih hidupnya daya kritis Dt. P. Simulie, paling tidak untuk hal-hal yang bersifat masa lalu. Kedua, mudah-mudahan daya kritis, apalagi dituangkan dalam bentuk tulisan, mampu menggugah daya kritis dan kepedulian sosial orang muda, terutama sekitar 3.700 dosen dan sekitar 350 profesor doktor yang kini “ngendon” di sejumlah perguruan tinggi.
Ketiga, semoga pula taradisi menulis ini mampu mengingatkan kalangan wartawan muda bahwa jadi wartawan bukan hanya menulis berita tapi juga jadi pembaca, pengamat dan pengkritik yang jernih, jujur dan objektif. (*)
Ditulis oleh fachrulrasyid
Ditulis oleh fachrulrasyid
Ditulis oleh fachrulrasyid