Hallo, Ulama!

Refleksi Haluan 17 November 2008

Oleh Fachrul Rasyid HF

 

Hallo ulama!. Pada shalat Idul Adha di Lapangan Proyek Senen, Jakarta 10 Zulhijjah 1390 atau 6 Februari 1971 silam, Buya H. Zainal Abidin Ahmad yang lebih dikenal dengan sebutan ZA Ahmad membaca khutbah berjudul “Di Tubir Jurang Kehancuran”.

 

Pada penggelan terakhir khutbah setebal 30 halaman seperempat quarto itu Buya ZA Ahmad mengutip hadits dialog antara sahabat dan Rasulullah tentang tanda-tanda kehancuran. Antara lain, bila para pemuda sudah rusak moralnya, kaum wanita berbuat di luar batas kehormatan, dan para ulama meninggalkan tugas jihad?. 

 

Kemudian, diantara ulama bukan hanya meninggalkan tugas amar makruf nahi mungkar tapi lebih hebat dari itu. Mereka ada yang memandang perbuatan mungkar sebagai kebaikan dan kebaikan sebagai kemungkaran.

 

Lantas Nabi bertanya kepada para sahabatnya. “Bagaimana jadinya, kalau kamu sendiri sudah ikut berbuat kemungkaran dan mencegah kebaikan?”. Bahkan nabi menginbgat hal yang lebih gawat. “Waspadalah. Saatnya akan muncul penguasa sesat dan menyesatkan yang membuat hukum hanya untuk memuaskan nafsu dan golongannya tanpa peduli nasibmu. Kalau kamu patuh, kamu dibawa ke jalan yang sesat. Sebaliknya, kalau menentang kemaksiatan yang mereka sponsori, mereka akan menyusahkan atau bahkan akan membunuh kamu”.

 

Sahabat bertanya. Apa yang mesti kami lalukan ya, Rasulullah!. Nabi berkata: “Jadilah seperti sahabat setia Nabi Isa. Mereka rela tubuhnya digergaji dan di bawa ketiang gantungan”.

 

Hallo ulama! Khutbah Buya ZA Ahmad sudah berlalu 37 tahun. Apakah yang diperingatkan nabi, dan dikhutbahkan Buya ZA Ahmad kini sudah di depan mata? Bukankah kenakalan sudah berubah jadi kejahatan remaja sehingga tak beda lagi kejahatan remaja dan orang dewasa?

 

Apa komentar anda melihat penolak UU Anti Pornografi dan Pornoaksi mendalilkan kebebasan bereskspresi, budaya dan hak – hak wanita? Apa pendapat anda melihat kaum muslimin digiring ke lapangan dengan dalih ibadah mendengar tablig akbar disertai undian berhadiah yang mendalilkan Nabi mengundi istri saat akan berangkat perang. Bukankah Nabi mengundi istrinya tak berbuah hadiah dan undian berbuah hadiah adalah judi dan dilarang Islam?.

 

Hallo ulama!. Tolonglah umat karena mereka kesulitan membedakan antara ibadah wajib, sunat dan bahkan yang dilarang, begitu melihat orang lebih suka meramaikan lapangan tablig akbar, zikir bersama atau menyanyikan asmaul husna, meski dilarang, ketimbang meramaikan shalat jamaah di masjid.

 

Hallo ulama!. Bantulah umat membedakan da’i yang artis dan artis yang da’i?. Bukankah seorang da’i punya hak dan kewajiban dan sifat yang harus diperlihara?  Apa pendapat anda tentang pengobatan alternatif berjamaah dan seruan bersyirik,  meramal nasib yang lagi marak diserukan lewat SMS dan tayangkan televisi itu?.

 

Hallo ulama!. Bukankah sudah ada ulama yang memandang perbuatan mungkar sebagai kebaikan dan kebaikan sebagai kemungkaran? Tolong selamatkan umat dari ulama politisi dan politisi ulama karena sama sukanya memanfaatkan Alquran dan hadits, dan simbol-simbol untuk kepentingan kedudukan dan golongan.

 

Hallo ulama! Masih adakah anda? (*)

2 Tanggapan ke “Hallo, Ulama!”

  1. abdulsalamabuzar Berkata:

    Kerek buat Bung Farasy!
    Anda selama ini memang sangat kritis kepada komunitas-komunitas profesional, seperti komunitas perguruan tinggi, komunitas agamawan, terlebih-lebih kepada komunitas Ulama, da’i, muballigh dan ustadz-ustadz yang menjadi benteng dan penjaga gawang akidah umat.
    Sikap kritis yang anda perlihatkan itu, semoga saja, berasal dari niat yang tulus dan lurus demi perbaikan dan pencerahan.
    Namun satu hal yang perlu anda ingat bahwa menyangkut eksistensi ulama dan segenap slogardenya, yang sering jadi sasaran kritik anda itu. Janganlah sampai menggiring diri anda sendiri terjebak dalam sikap anti-otoritas, relatifisme atau pun nihilisme kaum ulama yang merupakan tujuan yang hendak dicapai oleh gerakan Liberal Islam.
    Saya khawatir terhadap seseorang yang suka mengkritik tajam terhadap sesuatu yang, katanya, kritik itu karena cintanya kepada sesutu itu. Tetapi kritik yang dia lontarkan itu dapat membentuk opini keliru terhadap objek yang menjadi sasaran kritik. sehingga alih-alih memperbaiki citra ulama, malah sebaliknya semakin mendegradasi bahkan mendekonstruksi peran ulama di tengah umatnya…….
    Hati-hati bung Farasy…..!

    • fachrulrasyid Berkata:

      Alaikum salam Bung Abdul Salam Abuzar.
      Terimakasih atas perhatian anda pada tulisan saya “Halo, Ulama”. Anda agaknya belum membaca sepenuhnya tulisan itu sehingga anda berprespsi lain tentang saya. Jika anda cermati tulisan singkat itu secara seksama dan objektif tentu respon anda akan berbeda. Tapi saya memang sudah menduga, bila menulis soal ulama, mubaligh atau dai sama artinya memasuki ranah tabu dan sensitif. Penulis bisa dicap berbuat SARA atau tergelincir pada aliran tertentu dan bersiap-siaplah dihadang reaksi, termasuk reaksi seperti komentar anda. Si penulis bisa dianggap jil dan sebagainya.
      Saya tak habis berfikir, kenapa kelaziman yang berkembang di tengah umat ini adalah sikap reaktif bukan inisitif dan alternatif sesuai perintah agama. Padahal ulama, mubaligh dan dai adalah budayawan, orang yang membentuk prilaku dan menanamkan nilai-nilai Islam, di tengah masyarakat. Proses pembudayaan nilai-niulai itu memerlukan pemahaman terhadap perkembangan, metoda dan solusi. Sayang karena ulama dan mubaligh selama ini ditempatkan pada ranah tabu, ia jadi steril dari kritik dan sepi evaluasi. Akibatnya sering tak mampu merespon perkembang umat sebagai makhluk berbudaya yang terus berkembang dan memerlukan kritik dan dan evaluasi itu. Akibatnya, meski perguruan tinggi Islam kian berkembang, jumlah ulama dan mubaligh meningkat namun di depan mata muncul sebuah realita yang patut dipertanyakan. Nilai-nilai apakah yang diamalkan masyarakat kita ini ? Nilai agama, hukum positif yang berlaku, nilai adat atau nilai barat?
      Saya tak menaruh curiga seperti orang lain mencurigai saya. Menurut saya, sesuai perkembangan pengetahuan dan teknologi, ulama dan mubaligh sekarang sudah memiliki rencana tata ruang wilayah dakwah berisikan peta kondisi ril kehidupan beragama di tiap wilayah desa, kecamatan, kabupaten hingga provinsi. Dengan cara itu sebuah pengajian tak lagi untuk seratus masjid. Dengan cara itu ulama dan mubalig tahu kondisi pendidikan, pengetahuan agama dan tingkat ekonomi masyarakat sehingga bisa membimbing dan mengajarkan agama relevan dan efektif untuk tiap kelompok masyarakat. Sayang kebiasan berbicara tekstual membuat kita lupa kontekstual, realita dan perkembangan sehingga orang jadi sensitif.
      Kalau saja Perguruan Tinggi Islam dan Ormas Islam mau membuka bengkel tentang persoalan tersebut saya berminat ikut jadi “kuli” di situ. Sebab, berbicara kritik terhadap ulama dan mubaligh yang ada kadang bak mengobati kudis dan kepala. Ada yang rela kepalanya digundul, meski agak malu, asal kudisnya bisa diobati, kepalanya jadi sehat dan rambut tumbuh subur. Tapi ada yang menolak rambutnya dipangkas karena malu jadi gundul. Akibatnya, kudisnya tak kunjung bisa disehatkan.

      Terimakasih atas saran anda agar saya berhati-hati. Saran itu saya amalkan dengan prinsip sederhana: menjadikan Islam sebagai subjek bukan objek kajian. Dengan cara itu insyaalah tak akan terjerembab pada jurang JIL. Mohon maaf, mudah-mudah di lain ruang kita bisa bertemu lagi.

Tinggalkan Balasan