Sumatera Barat Kini Terasa Makmur

Oleh H. Fachrul Rasyid HF

Sebagian besar penduduk Sumatera Barat berada di pedesaan.  Peningkatan hasil pertanian, perkebunan, peternakan dan perikanan selama tiga tahun terakhir membuat kehidupan rakyat kini terasa kian makmur.

Padi manguniang, jagung maupiah, taranak bakambang. Pribahasa Minang itu adalah ungkapan kemakmuran yang kini kian terasa di Sumatera Barat. Cobalah masuk ke pasar-pasar di pelosok provinisi ini. Hampir semua kebutuhan pangan bisa didapatkan. Beras misalnya, jumlahnya melimpah dalam berbagai jenis dan kualitas. Begitu juga sayur-mayur, kacang-kacangan, umbi-umbian. Tak heran jika kini nyaris tak terdengar lagi keluhan kekurangan bahan pangan. Bahkan sebagian besar produk pertanian itu mengalir memnuhi pasar-pasar di provinsi tetangga.

Semua itu adalah rezeki yang danugerahkan Allah berkat kerja keras Pemerintahan Gubernur Gamawan Fauzi dan Wakil Gubernur Marlis Rahman, kini Gubernur Sumatera Barat, membangun kehidupan rakyat petani melalui berbagai pendekatan dan pembinaan di bawah Ir. Djoni, Kepala Dinas Pertanian Tanaman Pangan Sumatera Barat sejak tiga tahun terakhir.

Peningkatan ekonomi dan kesejahteraan rakyat memang bertumpu pada petani. Maklum 60% dari 4,456 juta penduduk Sumatera Barat, atau  639.700 kepala keluarga (KK) dari 1.052.100 KK adalah keluarga petani. Diantaranya, terhimpun dalam 7.887 kelompok tani menggarap 238.342 hektare lahan padi sawah

Selama lima tahun terakhir petani terus dibina, dibekali pengetahuan dan keterampilan disamping dukungan teknologi dan perlatanan mesin pertanian, bantuan pupuk, dan penyediaan benih padi. Mereka didampingi 1.726 tenaga penyuluh, 176 pengamat hama penyakit, 28 orang pengawas benih dan 157 mantri pertanian. Kemudian dilengkapi lima unit laboratorium dan empat unit brigade pelindung tanaman dengan bebergai perlatan dan 108 balai peenyuluh pertanian.

Kerja keras itu membuahkan hasil. Tahun 2006 produksi padi Sumatera Barat masih sekitar 1.888.489 ton, tahun 2007 naik jadi, 1.938.170 ton, tahun 2008 meningkat 1.965.634 ton dan tahun 2009 naik jadi 2.060.220 ton. Tahun 2010 ditargetkan produksi padi Sumatera Barat mencapai 2,2 juta ton.

Sejak dua tahun belakangan, Sumatera Barat yang sebelumnya membeli jagung dari provinsi Sumatera Utara kini malah menjual jagung ke provinsi lain. Sebab, produksi jagung Sumatera Barat mengalami peningkatan. Tahun 2005 produksi jagung masih 157.1457 ton.  Tahun 2006 naik jadi 202.298 ton, dua tahun berikutnya meningkat jadi 223.233 ton dan 351.843 ton. Tahun 2009 sudah mencapai 410.090 ton.  Tahun 2010 ditergetkan 453.878 ton. Sentra prtoduksi jagung terbesar Sumatera Barat dua tahun terakhir adalah Kabupaten Pesisir Selatan dan Kabupaten Pasaman Barat.

Selain padi, produksi tanaman pertanian lainnya juga lain mengalamai kemajuan yang cukup besar. Kacang tanah misalnya,  rata-rata setiap tahun Sumatera Barat menghasilkan lebih 10 ribu ton, kacang hijau sekitar 11 ribu ton, sekitar 114 ton, ubi jalan sekitar 150 ribu ton, pisang sewkitar 75 ton,  manggis sekitar 21 ribu ton, jeruk sekitar 26 ribu ton, salak sekitar 3 tonm, markisa sekitar 60 rtibu ton, kentang 35 ribu ton, tomat sekitar rata-rata 28 ribu ton, bawah merah 20 ribu ton, wortel sekitar 12 ribu ton, kubis 80 ribu ton,  produksi cabe rata-rata 37 ribu ton setahun.

Bidang pertanian memang merupakan basis kemakmuran rakyat. Di saat rakyat merasa mulai makmur, maka dengan sendiri tumbuh keinginan untuk memenuhi kepuasan jiwa dengan menghias diri dan pekarangan dengan bunga-bungaan dan tanaman hias. Dan memelihara bunga dan tanaman hias itupun membuka lapangan kerja dan mata pencaharian  pembibitan tanaman hias. Setidaknya, di Sumatera Barat kini terdapat  92 kelompok tani pembibitan dan penjualan tanaman hias itu. Sebagian besar terpusat di Kota Padang Panjang, Padang, Kabupaten Solok dan Agam.

Sukses peningkatan produksi pertanian itu langsung berpengaruh pada penurunan jumlah penduduk miskin. Pada awal pemerintahan GAMA jumlah penduduk miskin di Sumatera Barat 10,89%. Akibat perubahan kriteria kemiskinan, tahun 2006 jumlah penduduk miskin meningkat jadi 12,51%. Tahun 2007 turun jadi 11,90% dan 9,80% pada tahun 2008. Tahun 2009 turun jadi 9, 54% dari  4,76 jiwa penduduk. Tahun 2010 ini diharapkan jumlah penduduk miskin akan jauh lebih berkurang mengingat

sekitar  71,8 persen penduduk miskin itu berada di pedesaan dan sebagain besar adalah petani. Jika kini pendapatan petani makin membaik dan akan terus membaik, tentulah jumlah penduduk miskin semakin hari semakin berkurang.

Target tersebut tentu masuk akal mengingat sekitar  71,8 persen penduduk miskin itu berada di pedesaan dan sebagain besar adalah petani. Jika kini pendapatan petani makin membaik dan akan terus membaik, tentulah jumlah penduduk miskin semakin hari semakin berkurang.

Dengan Coklat Mengangkat Pendapatan Rakyat

Membangun ekonomi akyat. Misi itulah yang direalisasikan Gubernur/Wakil Gubernur Sumatera Barat Gamawan Fauzi – Marlis Rahman melalui gerakan penanaman kakao alias coklat di tahaun pertama masa jabatannya,  akhir 2005 silam.  Komoditi ini jadi pilihan, selain harga jualnya yang menjanjikan, tanaman ini bisa dikembangkan di lahan pekarangan hingga ke areal perkebunan. Tujuannya tak lain, memberi sumber pendapatan kepada rakyat sehingga mampu mengurangi angka kemiskinan.

Langkah itu dimulai dengan sosialisasi 11.210 petani yang digerakkan 900 petugas. Kemudian diadakan pelatihan 15.710 petani diantaranya 1.800 dilatih melalui Sekolah Lapang Pengendalian Terpadu Kakao, 600 petani dilatih menangani kakao pasca panen. Masih ada lagi pelatihan budidaya kakao yang untuk 550 petugas/penyuluh dan 1.950 orang petani. Pelatihan sambung pucuk kepada 150 orang petani kakao pada 6   Kabupaten/Kota.

Setelah sosialisasi dan pembimbingan dan pembinaan, dilakukan pembagian bibit gratis ke petani sampai di pelosok nagari untuk areal seluas 25.042 hektare di 17 Kabupaten/Kota. Lima tahun berjalan, di awal 2010 luas kebun kakao di Sumatera Barat mencapai  tanaman kakao sudah mencapai 82.620 hektare. Sampai akhir 2010 luas areal kebun kakao di Sumatera Barat akan mencapai 108.098 hektare, mendekati target nasional.

Soalnya, tahun ini melalui APBD Provinsi, masih akan dibagikan bibit kako untuk masyarakat di 14 kabupaten/kota sebanyak 370.000 batang. Kemudian disediakan pula bibit kakao jenis sambung pucuk 50.000 batang melalui kegiatan pelatihan sambung pucuk dengan lokasi untuk 6 kabupaten/kota. Semua itu akan menambah luas arela kebun kakao sekitar  450  hingga  550 hektare.

Sementara dengan dana APBN tahun 2010 ini disediakan pula bantuan bibit kakao jenis Somatic Embriogenesis (SE) sebanyak 200.000 batang yang akan disalurkan pada 2 Kabupaten/Kota dan untuk perluasan areal peremajaan dan rehabilitasi  tanaman kakao seluas 1.000 hektare. Ini akan menambah areal kakao sekitar  1.200 – 1.550 hektare. Sampai akhir Desember 2010 luas kebun kakao binaan provinsi Sumatera Barat akan mencapai  84.700 Ha. Kemudian ditambah kebun kakao milik perusahaan perkebunan, dan swadaya masyarakat dan oleh Pemda Kabupaten/Kota sekitar 1.400 hingga 1.700 hektare.

Seiring perluas lahan, produksi kakao pun mengalami peningkatan yang sangat berarti. Pada tahun 2005 masih sekitar 14.068 ton,  tahun 2006 naik jadi 16.244 ton, tahun 2007 naik lagi jadi 18.361 ton. Tahun 2008 melonjak hingga 32.376 ton dan tahun 2009 menjadi 42.000 ton. Akibatnya ekspor kakao Sumatera Barat pun mengalami kenaikan yang cukup pantatis. Tahun 2005 masih 3.201 ton dengan nilai ekspor  sebesar 3.384.583,14 US$ , tahun 2006 naik 5.653 ton/ US$ 5.653, 400,  tahun 2007 sebanyak 8.111 ton/ US$ 10.717.000,  tahun 2008 sebanyak 12.283 ton/US$ 12.283.000, tahun 2009 menjadi 38.000 ton  US$ 80 jutadengan nilai sekitar 80.000.000  US$. Pencapaian vulume dan nilai ekspor kakao Sumatera Barat dari tahun 2005   -2009 adalah seperti tabel 3.

Niat baik Gamawan Fauzi – Marlis Rahman untuk meningkatkan pendapatan petani akhirnya dikabulkan Allah SWT. Kini boleh dibilang para petani kakao paling bersukacita. Maklum harga biji kakao di tangan petani kini berkiosar Rp 24.000 hingga  Rp 29.000/ kilogram. Ini melebih harga komiditi lain, seperti sawit yang cuma Rp 1.300/ kilogram dan karet sekitar Rp 9.000 hingga Rp 13.000/kilogram.

Tak pelak sukses itu membuahkan penghargaan. Pada 23 November 2009 Gubnernur Marlis Rahman diwakili Ir. Fajaruddin Kepala Dinas Perkebunan Provinsi Sumatera Barat, menerima Penghargaan dari Menteri Pertanian RI karena dinilai komit mengembangkan kakao. Kelompok tani kakao yang dinilai paling berhasil diberikan penghargaan Kelompok Tani kepada Kelompok Tani Kakao Bunga Rampai Kabupaten Padang Pariaman, penghargaan diserahkan oleh Wakil Presiden RI pada tanggal 15 Desember 2009 di Jakarta.

Selain kakao yang kini jadi primadona pendapatan rakyat Sumatera Barat, ada lagi kerbun kelapa sawit. Sejak tahun 2005 hingga tahun 2009 mengalami perluasan yang cukup besar, dari 281,162 hektare pada tahun 2005 menjadi 328.337 hekatre pada tahun 2009. Hanya klebun karet yang kurang berkembang akibat pengaruh perkebunan kakao dan kelapa sawit. Pada tahun 2005 kebun karet sekitar 141.389 hektare dan pada tahun 2009 151.628 haktare. Luas kebun komoditi lain, seperti kasea vera, kopi, nilam, pinang dan cengkeh sebagian bertahan dan yang lain cenderung berkuarang. Hal itu sangat dipengaruhi nilai jual yang berkembang.

Perkembangan Produksi Komoditi Utama Perkebunan Sumatera Barat Tahun 2005 s/d 2009

No Komoditi Produksi  (ton)
2005 2006 2007 2008 2009
1 Kakao 14.068 18,721 20,917 32.376 40.988
2 Kelapa sawit 715,873 731,247 771,406 794,167 795.450
3 Karet 85,387 89,631 89,714 103,880 103.993
4 Kelapa Dalam 79,046 78,678 79,829 82,595 82.748
5 Kopi Arabika 24,999 29,909 29,576 33,339 16.720
6 Casia vera 43,600 37,508 35,232 36,648 37.499
7 Cengkeh 1,512 1,518 1,602 1,741 1.760
8 Gambir 13,249 12,973 13,115 13,930 13.955
9 Pinang 4,217 3,937 4,655 4,655 4.655
10 Nilam 621 211 343 396 407

Sumbar Menuju Swasembada Daging

Sumatera Barat sejak 2005 silam dipersiapakan menjadi satu dari 18 provinsi di Indonesia sebagai daerah pendukung swasembada daging nasional.  Alasannya, antara lain, karena beternak merupakan salah satu budaya tertua di Minang. Hal itu bisa dilihat dari konstruksi  rumah adat Minangkabau yang menyediakan kolong  2,5 hingga tiga meter.

Kolong berfungsi sosial dan ekonomi. Diantaranya, untuk tempat memasak dan persiapan kenduri. Untuk menyimpan padi, gudang kayu api atau bahan bahan bangunan, termpat bermain anak-anak dan jadi kandang ternak, sapi, kuda, kambing, itik  dan ayam. Karena itu kolong juga disebut kadang. Status sosial seseroang juga dilihat dari jumlah dan jenis ternak yang dimiliki. Bahkan sebuah nagari dianggap makmur apabila pertanian, dan peternakannya sukses sesaui dengan ungkapan  padi manguniang, jaguang maupiah, taranak bakambang.

Berangkat dari potensi budaya beternak itu dan didukung ketersediaan lahan untuk 3 juta ternak sapi Pemda Sumatera Barat sejak Gubernur/Wakil Gubernur Gamawan Fauzi dan Marlis Rahman melalui Dinas Peternakan, sejak awal pemerintahannya Agustus 2005 silam memang menjadi peterrnakan sebagai satu prorgam proriotas. Maka dialkukanlah kersajasama antara Dinas Peternakan, Fakultas Peternakan Universitas Andalas, Balai Penyelidikan Penyakit Ternak, Laboratorium Kesehatan Masyarakat Peternak dan sebagainya.

Kemudian dibangun pula Balai Inseminasi Buatan bernama Tuah Sakato di Payakumbuh. Balai Pembibitan Ternak Unggul di Padang Mengatas Kabupaten Limapuluh Kota.  Disamping iutu Pemda Provinsi terus menyiapkan tenaga pendudukung pengembangan peternakan tersebut. Antara lain 35 orang Asisten Teknis Reproduksi, 58 tenaga pemeriksa kebuntingan, 200 tenaga inseminator, 136 pos inseminasi buatan,  dan 25 unit laokasi inseminasi buatan.

Kerja keras unit pelaksana itu membuahkan hasil. Populasi sapi potong Sumatera Barat mengalami peningkatan drastis dari 419.552 tahun 2005 mencapai 492.272 pada tahun 2009, sebagian dipasar ke Provinsi Riau. Ternak jenis lain juga mengalami kemajuan. Lihat tabel berikut :

2005 2006 2007 2008 2009
- Sapi Perah 714 608 688 768 826
- Sapi Potong 419,552 440,461 446,473 469,859 492,272
- Kerbau 201,421 211,531 190,015 196,854 202,997
- Kuda 4,599 4,123 4,466 3,726 3,467
- Kambing 210,532 223,836 221,276 227,561 254,449
- Domba 6,052 6,806 5,874 5,335 4,567
- Babi 29,847 14,258 12,920 12,870 12,403
- Ayam Ras Petelur 5,608,482 6,396,311 6,347,337 6,684,013 7,203,319
- Ayam Ras Pedaging 11,357,781 12,847,327 12,648,143 14,202,592 13,495,318
- Ayam Buras 5,725,515 5,107,278 4,529,106 4,638,908 5873,480
- Itik 985,442 1,050,752 1,003,445 1,054,957 1,106,046

Untuk memacu populasi sapi potong  Sumatera terus berupaya mengembangkan bibit unggul memalui embrio transfer, misalnya embrio sapi Cipalang, Jawa Barat disuntikkan ke sapi simental betina di Sumatera Barat. Anak sapi jantan hasil inseminasi berusia setahun dibeli dari peternaknya seharga Rp 22,5 juta /ekor.  Tiap tahun dihasil anak sapi unggul sekitar 10 dan 15 ekor atau bull (pejantan unggul) yang sebelumnya dibeli dari Australia seharga Rp 50 juta/ekor.

Sumatera Barat kini memiliki  81 ekor bull penghasil sperma yang dimanfaatkan untuk pengembangan sapi unggul daerah . Selain dipakai sendiri,  sapi pejanjtan  unggul dijual ke provinsi lain seharga Rp 45 juta/ekor.

Menurut Edwardi, Kepala Dinas Peternakan Sumatera Barat teknologi embrio transfer ini berkembang di negara-negara maju seperti Jepang untuk menghasilkan sapi unggul. Pada teknolosi embrio transfer, sperma bull disimpan dengan sistem pembekuan disebut semen beku kemudian diinsemniasi kapan saja ke sapi betina   lakol.

Karena Sumatera Barat kini satu-satunya penghasil semen beku. Pada tahun 2009 hasil straw Sumatera Barat mencapai 124.807. Mengingat produksinya yang cukup baik dan jumlah yang cukup besar, semen beku Sumatera Barat dipakai dalam provinsi 115.747 dan dijual memenuhi kebutuhan seluruh provinsi di Sumatera dan sebagian Jawa barat sebanyak 9.060. Pejabat negara tetangga seperti Malaysia dan Thailand juga telah datang ke Sumatera Barat menjajaki pembelian semen beku tersebut. Berdasarkan pengalaman tersebut Sumatera Barat kini berbagi ilmu  melalui  Internasional Training Centre for Livestock Development.

Melihat perkembangan tersebut, awal Mei 2010 Pemerintah Spanyol menetapkan  Sumatera Barat tyermasuk satu dari tiga provinsi Indonesia yang diberi bantuan teknologi dan peralatan rumah potong hewan berjumlah Rp 180 milyar. Dengan teknologi rumah potong hewan itu nanti akan dengan mudah diketahui kondisi dan penyakit hewan yang akan dipotong. Itu, selain ikut mempercepat swasembada daging,  juga akan membantu mempercepat rencana penjualan daging Sumatera Barat ke Singapura, Brunai Daruisslam dan Malaysia. (*)

3 Balasan ke Sumatera Barat Kini Terasa Makmur

  1. hans brownsound mengatakan:

    thanks infonya pak.
    sangat membantu! :D

  2. Samuraider Kampuang mengatakan:

    memang pak perkembangagn pertanian, dan agroindustri di sumbar saat ini telah berkembang pesat…mudah-mudahan dengan pembangunan jembatan layang kelok sambilan akan dapat menjadi faktor peningkatan pemasarannya ke daerah timur sumatera…

    • fachrulrasyid mengatakan:

      Terimakasih anda telah mengunjungi halaman ini. Semoga apa yang direnakan itu segera menjadi kenyataan dan rakyat Sumatera Barat bisa lebih makmur.

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 704 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: