S-U-M-B-A-R

Opini Singgalang Sabtu 25 Agustus 2012
Oleh Fachrul Rasyid HF

Pelesatan Sumbar, Semula Urusan Mulus Berakhir Ricuh, bukan hanya muncul dari beberapa pengusaha yang berpengalaman buruk berinvestasi di daerah ini, tapi juga dari mereka yang bukan pengusaha.  Sebut saja Ahmad, 55 tahun. Pengalamannya membuka kebun sawit 10 hektar di sebuah nagari di Pesisir Selatan cukup dramatis. Bayangkan, tiga tahun ia bertarung melawan kongkalingkong seorang ketua kelompok tani.
.
Alkisah, Juni 2009 ketua Kelompok Tani itu, sebut saja Mardin, 45 tahun, mendatangi Ahmad. Ia  mengaku mendapat kuasa dari KAN setempat  mengelola hutan ulayat sekitar 1.500 hektar. Mendalilkan ikatan keluarga, kebetulan Ahmad suami dari eteknya sendiri, Mardin membujuk dengan berbagai jaminan kemudahan agar Ahmad bergabung dalam kelompoknya.

Caranya, untuk  anak nagari dijatah 2,25 hektar /keluarga. Untuk anggota asal nagari lain berlaku aturan berbagi dua hasil pembukan lahan. Dibuka 6 hektar, separuhnya untuk kelompok, separuh untuk sipembuka lahan. Untuk Ahmad yang sumando, berlaku ketentuan bagi tiga.

Ahmad yang mau berkebun 10 hektare untuk atas nama istri dan empat anaknya diwajibkan membuka lahan 15 hektar, 5 hektar untuk kelompok. Biaya pembukan lahan 15 hektar itu dipatok Mardin Rp 28 juta.  Ahmad pun menyerahkan uangnya, sejak  Juli s/d September 2009  sebanyak Rp 21 juta. Janjinya, dalam dua bulan lahan 10 hektare itu siap ditanami, dan Ahmad akan melunasi biaya pembukaan lahan itu.

Ternyata sudah enam bulan belalu belum sejengkal pun lahan yang disiapkan. Ketika didesak, Mardin menyerahkan lahan miliknya 2 hektar. Kemudian ia menunjukkan semak belukar. Ahamad pun menanam 200 dari 600 batang bibit sawit yang disiapkannya. Sisanya ditanam di semak belukar yang kemudian dikerjakannya sendiri dengan biaya Rp 3 juta/hektar.

Setelah diukur, rupanya lahan itu hanya 6,5 hektar. Mardin berkilah. Katanya, lahan itu belum cukup 10 hektar karena Ahmad belum membayar uang imas timbang, bahasa lain dari biaya tebas tebang. Ia menunjuk perjanjian bertulis tangan yang dibuatnya sendiri di buku hariannya.  Padahal sejak awal Mardin menolak dibuat perjanjian tertulis dengan alasan hubungan keluarga.

Merasa dikibuli, 1 Mei 2011, Ahmad melapor ke SekretarisKAN. Berdasarkan bukti yang ada, SekretarisKAN menegaskan bahwa uang imas timbang sudah dibayar Ahmad sesuai kwitansi yang diteken Mardin. Mardin pun diperintahkan menyediakan lahan 10 hektar untuk Ahmad tanpa harus melunasi sisa pembayarannya. Karena kenyatannya lahan itu   dikerjakan sendiri oleh Ahmad.

Menjawab perintah itu, 2o Juli 2011, Mardin dan beberapa pengurus kelompok turun ke lokasi. Kepada Ahmad kemudian diserahkan lahan Ibrahim dan diganti dengan lahan di tempat lain. Ahmad pun membuka lahan tersebut.  Tapi ketika diukur, total luas lahan Ahmad masih 9,5 hektar atau kurang 0,5 hektar.  Padahal dari 9,5 hektar itu 7,5 hektar dibuka sendiri Ahmad sehingga menghabiskan Rp 25 juta. Mardin sendiri yang telah menerima uang Rp 21 juta hanya membuka lahn 2 hektar. Artinya, untuk 9,5 hektar itu Ahmad menghabiskan Rp 46 juta dari Rp 28 juta/10 hektar yang disepakti.

Toh Ahmad menerima kenyataan pahit itu. Pada 19 Mei 2012 ia memagar lahannya dengan kawat berduri. Pada 2 Juni 2012, sesuai permintaan Mardin, Ahmad mendatanginya di rumah Walinagari, untuk meneken surat penyerahan lahan tersebut. Walinagari ikut meneken sebagai saksi.

Sudah aman? Ternyata esoknya Ahmad mendapati pagarnya dibuang dan di sela-sela  pohon sawitnya ditanami bibit sawit dan jagung oleh sepadannya. Mereka mengaku menyerobot lahan Ahmad atas petunjuk Mardin.  Tapi Mardin yang dilapori hanya berjanji segera menyelesaikannya. Tapi beberapa hari kemudian ia mengirim pesan SMS. Katanya, ia masih mencari para penyerobot. Padahal yang dicari sehari-hari ada di lahan itu.

Merasa dipermainkan, 10 Juni 2012 Ahmad melaporkan kasus itu ke Polsek setempat. Mardin jadi salah seorang  saksi. Tapi, entah dapat dekingan dari mana, di depan polisi Mardin berbohong. Ia menggiring Ahmad jadi tersangka. Katanya, surat penyerahan lahan yang ditekennya dibuat dalam keadaan terpaksa. Ukuran dan batas-batas lahan Ahmad bukan seperti dalam surat itu.

Padahal kepada polisi Ahmad telah menyerahkan sejumlah barang bukti, kwitansi, foto-foto pengurus bersama Mardin sedang memasang patok batas, beberapa surat, termasuk tiga saksi yang menguatkan kepemilikan lahannya.  Karenanya,  Walinagari tadi pun akan melaporkan Mardin ke polisi karena merasa dicemarkan nama baiknya.

Menurut tetua nagari, persoalan itu sebetulnya gampang diselsaikan. Mardin tinggal mengukur lahan para sepadan, yang  menurut anggota pengurus sudah pas di batas lahan Ahmad. Lalu, mengakui surat dan patok batas lahan Ahmad. Tapi Mardin punya skenario lain. Ia sengaja memancing terjadinya penyerobotan untuk meneror Ahmad. Bila Ahmad meninggalkan lahannya, seperti dilakukannya kepada sejumlah warga, Mardin menjualnya  ke orang lain.

Ahmad tak surut. Ia kini siap melaporkan Mardin ke polisi dengan tuduhan penipuan sesuai  pasal 383 KUHP:  menyerahkan barang (lahan) yang beda luas, bentuk dan sifatnya dari yang dijanjikan. Atau pasal 385 tentang tindak pidana menjual atau menukar milik orang lain secara melawan hukum. Ancaman hukumannya empat tahun penjara. Dan itu pasti ramai karena belasan korban yang sama kini bersiap melaporkan Mardin ke polisi dengan tuduhan serupa.

Namun bila polisi setempat berpendapat lain, seperti banyak terjadi selama ini, tak mustahil para korban akan bertindak dengan caranya sendiri-sendiri. Jika itu terjadi,  benarlah semula urusan mulus berakhir ricuh.(*)

About these ads

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 463 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: