Islam dan Budaya Islam

8 Agustus 2013

Oleh Fachrul Rasyid HF

Islam dan Keadaban: Eksistensi, Tantangan dan Peluang. Inilah tema seminar yang diangkat dalam rangka ulang tahun ke 50 Fakultas Adab IAIN Imam Bonjol Padang, 15 Agustus 2013 ini.  Prof. Dr.Machasin, MA, Pjs Kepala Balitbang Kemenag berbicara tentang Ilmu Adab, Eksistensi, Tantangan dan Harapan. Prof.  Dr. Nashruddin Baidan, MA, berbicara Konstribusi Keilmuan Alumni Fak Adab, Drs. Irhash A Samad, MH, berbicara soal Presfektif Keilmuan Budaya dalm Konteks Pengembangan Budaya Minangkabau.

Tidak ditegaskan  apakah Islam dan Keadaban dimaksud adalah Islam dalam konteks perkembangan ilmu sastra Arab atau Islam dalam konteks budaya Islam. Dilihat dari keberadaan Fak. Adab (Sastra) tampaknya pembiacaraan lebih mengarah pada Islam dan Kebudayaan Islam sesuai dengan Fak. Adab yang kini dipopulerkan sebagai Fak. Ilmu Budaya.

Dengan beberapa alasan, sasaran  tema seminar itu tentu saja menarik disiasati. Sebab, Islam sebagai basis nilai dan budaya Islam sebagai aplikasi nilai sejauh ini masih berada di dua bibir jurang yang tak kunjung bertaut. IAIN umumnya dan Fak. Adab khususnya masih berperan sebagai ajang penyebaran teori-teori keilmuan atau teks-teks Islam ketimbang sebagai lembaga pembudayaan Islam, meski lembaga pendidikan dianggap sebagai wadah akulturasi budaya yang efektif.

Sikap dan peran tekstual itu kemudian menjelma dalam pendekatan dan pengajaran bahkan metoda dakwah Ilsmiyah di tengah-tengah masyarakat. Hampir semua mimbar dari surau dan sekolah –sekolah hingga ke perguruan tinggi Islam diwarnai kajian-kajian tekstual normatif sehingga meski secara keilmuan Islam, paling tidak ilmu-ilmu dasar keislaman telah diperkenalkan kepada masyarakat, namun belum mampu membentuk budaya Islami.

Meski lembaga pendidikan Islam terus berkembang, namun  pendekatan tersebut terus diwariskan sejak berabad –abad silam. Inilah penyebab kenapa muncul pemilahan/ pemisahan urusan agama (Islam) dan realitas kehidupan. Agama seolah hanya urusan pengetahuan, urusan ibadah dan urusan akhirat.  Islam sebagai basis nilai sekan berhenti sampai pada pengetahuan, ibadah dan akhirat itu.

Tak heran jika orang semakin rajin menunaikan sholat, menjalan puasa Ramadhan dari tahun ke tahun, semakin ramai yang menunaikan ibadah haji dan umrah dan ibadah lainnya, tapi budaya Islam semakin jauh dari kehidupan.

Sebuat saja soal menutup aurat. Berpuluh-puluh tahun wanita menjalankan sholat dan ke masjid menutup aurat sesuai syariat Islam. Tapi begitu keluar dari masjid atau usai menunaikan sholat, kebanyak mereka kembali ke pakaian biasa yang tak lagi menutup aurat.

Singkat kata, semakin banyak masjid yang dibangun, semakin ramai jamaah sholat dan pengajian, semakin banyak yang beribadah haji dan semakin banyak lembaga pendidikan Islam, tapi semakin ramai pula kejahatan dan kemaksiatan. Kenyataan itu memperlihatkan bahwa agama begitu terpisah dari kehidupan.

Kenapa nilai-nilai Islam belum melahirkan budaya Islami, salah satu penyebab utamanya adalah karena Islam belum diajarkan sebagai basis nilai kehidupan riil yang berimbalan akhirat. Para ilmuwan, akademisi, da’i dan ulama tak lagi memerankan diri sebagai budayawan, pembentuk budaya Islam. Artinya, Islam tidak dikembangkan secara kontekstual normatif. Dalam bahasa lain bisa dikatakan, Islam belum diajarkan untuk menjawab dan membentuk budaya masyarakat. Inilah tantang terbesar dan terberat yang sedang diahadapi Islam dan umat Islam hari-hari ini.

Padahal agama dalam konteks pembentukan budaya lokal Minangkabau, misalnya, sudah dirumuskan dengan sederhana : Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah. Prinsipnya, Syarak (Islam) mengato (menentukan nilai) adat memakai (membudayakan/ mewujudkannya dalam bentuk budaya). Sayang, pemahaman sederhana itupun tak mendapat sambutan akademisi IAIN.

Maka, membicarakan Islam dan Keadaban: eksistensi tantangan dan peluang, tentunya tidak hanya dibicarakan dalam presfektif transformasi keilmuan, tapi lebih pada aplikasi nilai-nilai Islam.

Dalam konteks ini maka, seharusnya M.Ts.N dan MAN yang kini hanya menjadi sekolah umum bernuansa (beraroma) Islam, harus dikembalikan menjadi lembaga pembudayaan/ pembentukan karakter  Islam sehingga jilbab tak hanya jadi pakaian seragam belaka. IAIN yang digiring jadi UIN sehingga hanya jadi pusat studi/ belajar Islam harus dikembalikan sebagai pusat pengembangan ilmu dan budaya Islam. Ini mestinya jadi tugas pokok Balitbang Kementerian Agama.

Selain itu methoda dakwah yang larut dalam pendekatan tekstual normatif, harus diubah jadi kontekstual normatif sehingga setiap norma yang ajarkan Islam mampu diaplikasikan/ terasa berguna dalam kehidupan nyata.

Begitupun seminar itu tentulah hanya sekedar pemenuhan acara ulang tahun atau sekedar menyentuhkan ujung lidah ke Departemen Agama, kebiasaan yang tak kunjung luntur di IAIN. Artinya, tak banyaklah yang bisa diharapan dari seminar tersebut. (*)


Dakwah dan Radikalisme

8 Agustus 2013

Teras Utama Padang Ekspres Sabtu 3 November 2012

Oleh Fachrul Rasyid HF

Dakwah dan radikalisme. Inilah tema besar yang akan dibicarakan empat profesor dalam seminar di Fakultas Dakwah IAIN Imam Bonjol Padang Sabtu 3 November 2012 ini. Pilihan tema, katanya, dilatarbelakangi perkembangan dakwah islamiyah dan realitas umat yang sering memicu kekerasan atas nama agama. Dan, konflik itu dipicu aktifitas dakwah dan masyarakat yang radikal. Bahkan salah satu pembicara akan mencoba melihat fenomena dakwah dalam radikalisme dan terorisme.

Membicarakan dakwah dan kaitannya radikalisme dan fenomena terorisme di Sumatera Barat, ibarat jualan, tentu kurang pas. Sebab, sepanjang sejarah di Minangkabau hingga hari ini, belum ditemukan indikasi dakwah memicu radikalisme apalagi terorisme. Kecuali dalam menghadapi penjajahan Belanda dulu, dakwah di Minangkabau, termasuk guru besar Fakultas Dakwah itu sendiri, nyaris hanya bicara soal akhirat, dan hampir steril dari urusan ekonomi apalagi politik praktis.

Meski tak ada larangan bicara hal tersebut di Ranah Minang, namun membicarakan sesuatu tanpa pertimbangan faktor relevansi (kedekatan) dengan masyarakat tentu bisa menimbulkan aneka penafsiran. Boleh jadi seminar itu dianggap “titipan” atau memberikan “titipan” untuk mengambil muka ke pemerintah, setidaknya ke Menteri Agama. Di samping itu, tentu bisa pula dianggap sebagai peringatan kalau bukan jadi motivasi alias pemancing.

Apapun di balik seminar yang dilabeli nasional itu, membicarakan dakwah, radikalisme dan terorisme perlu kehati-hatian. Perlu pemilahan satu dan lainnya sesuai kamusnya masing-masing. Dakwah adalah bahasa agama, merupakan sosialisasi ajaran dan nilai-nilai Islam berdasarkan Alqur’an dan Hadits. Dalam bahasa praktis, dakwah adalah upaya amar makruf nahi mungkar. Tujuannya, supaya umat melaksanakan ajaran Islam secara kaffah, di semua segi dan lini kehidupan. Dan, itu dengan metoda hikmah dan mauizah, dengan kebenaran dan kesabaran.

Sedangkan radikalisme, istilah politik, adalah kelompok yg menginginkan perubahan atau pembaharuan sosial dan politik secara drastis melalui kekerasan. Kemudian teror dan terorisme kelompok yang menggunakan kekerasan untuk menimbulkan ketakutan dalam mencapai tujuan (terutama tujuan politik).

Dari rumusan sederhana itu jelas perbedaan bahkan kontradiksi antara dakwah islamiyah, radikalisme dan terorisme. Karenanya tak beralasan menyebut dakwah radikalisme dan dakwah terorisme atau dakwah dengan misi radikalisme dan dakwah bermuatan terorisme. Mustahil pula jika dakwah dianggap sebagai pemicu/penyebab  radikalisme atau terorisme. Kecuali dakwah (baca propokasi) itu datang dari dan untuk kalangan radikalisme dan terorisme itu sendiri.

Kalau kemudian ada diantara anggota umat Islam dianggap berprilaku radikalisme, atau terlibat gerakan terorisme, selain harus dilihat arah datang tentu harus juga dicermati arah sasaran dan faktor yang menjadi pemicunya. Hal itu menjadi amat penting karena dalam berbagai peristiwa berbau radikalisme dan terorisme di Indonesia, pemicunya ada yang bersifat kasat mata dan ada yang kasat rasa. Kelompok yang dicap sebagai terorisme di Indonesia sebagaimana banyak diungkapkan berakar dari perang melawan Rusia kemudian beralih melawan Amerika di Afganistan.

Setelah Afganistan dikuasai Amerika, para pejuangnya bergerilya di berbagai kota di dunia, termasuk di Indonesia. Karena itu agaknya sasarannya adalah warga Amerika dan sekutunya. Ketika generasi pasca Afganistan mendapatkan tekanan terus menerus dari kepolisian, sasaran pun bergeser ke arah polisi. Hal itu memperlihatkan bahwa teroris, kalau itu dikatakan sebagai kelompok radikal, sasarannya bukan bangsa dan pemerintah Indonesia. Barangkali karena itu pula mereka bisa aman dan bahkan diterima di kalangan masyarakat di mana mereka bermukim.

Selain itu radikalisme, diantaranya mungkin muncul dalam bentuk gerakan terorisme, merupakan respons atau akibat dari gerakan yang juga tergolong radikal. Golongan itu selain penganut agama lain juga datang dari orang-orang yang mengaku penganut Islam. Yang disebut terakhir itu tanpa basa basi secara terus menerus melakukan gerakan transformasi iman umat Islam.

Gerakan transformasi iman melalui liberalisasi Islam ini selalu menyuarakan semboyan “tak seorang pun boleh mengatakan agamanya paling benar”. Mereka kemudian secara sistemik, terang-terangan dan terbuka melakukan desakralisasi dan rasionalisasi  Alqur’an. Diantaranya, menganggap Alqur’an yang ada sekarang tak lagi orisinil, lalu, ditafsirkan sesuai nalar logika semata. Hadits Nabi Muhammad SAW pun dihujat secara terbuka.

Gerakan ini begitu leluasa masuk ke perguruan tinggi Islam, lalu, memberikan beasiswa pasca sarjana di luar negeri. Mereka kemudian dengan mudah mengubah kurikulum madrasah sehingga MAAIN berubah jadi MAN, lalu, menjadi SMA bernuansa Islam. Pokoknya, Rukun Iman yang menjadi basis keimanan/ keyakinan umat Islam dipreteli secara semena-semena, tanpa pernah mendapat koreksi apalagi tindakan dari pemerintah.

Mengatasnamakan kebebesan beragama dan HAM, kelompok ini selalu tampil melindungi dan membela aliran yang dianggap menyimpang dari Islam. Bahkan mereka “menyerang” beberapa Perda Antimaksiat yang dibentuk DPRD berbasis umat Islam, dengan tuduhan menegakkan syariat Islam dan mau mendirikan negara Islam. Oleh mereka kebebasan beragama bukan diartikan kebebasan menganut dan mengamalkan agama masing-masing melainkan liberalisasi agama atau kebebasan melibas agama, khusus Islam.

Mereka tak menghargai subjektifitas dan sensitifitas keyakinan/keimanan yang dimiliki setiap pemeluk agama. Padahal Islam melaui ayat Alquran memberikan garisan yang tegas: lakum dinakum, waliyadin. Karena itulah umat Islam tak ‘mencikarui” keyakinan penganut agama lain. Umat Islam sangat menghormati Nabi Isa as, tapi juga tak rela Nabi Muhammad dihina. Anehnya, kala muncul reaksi atas keterusikan subjektifitas dan sensitifitas keyakinannya, kelompok itu enteng menuduh umat Islam radikal dan fondamentalis. Kelompok inilah selama era reformasi yang selalu bentrok dengan organisasi keislaman, terutama di Ibukota.

Gerakan transformasi iman dan liberalisasi agama yang berakar dan berasal dari luar Indonesia itu tak terawasi dan bahkan terkoreksi pemerintah itu jelas ikut memicu reaksi umat Islam yang kemudian dicap radikal. Padahal, setiap tantangan aktual yang dihadapi umat, dari mana pun datangnya pasti akan direspon ulama termasuk juru dakwah. Sebab, hal itu termasuk bagian amar makruf nahi mungkar.

Jadi kalau mau melihat dakwah dan radikalisme apalagi terorisme di Indonesia, janganlah memulai dari reaksi. Lihatlah secara adil dan objektif, bukan hanya dari internal umat tapi juga dari gerakan eksternal umat. (*)


Guru Mengaji Tanpa Advokasi

8 Agustus 2013

Komentar Singgalang 6 November 2012

Fachrul Rasyid HF

Berapa diantara orang tua yang mengajari langsung anak-anaknya tentang Rukun Islam, Rukun Imam, kemudian membaca/menulis Alquran, beribadah, berakhlak mulia dan pengetahuan tentang syariat Islam? Agaknya sulit menemukan satu diantara seratus kepala keluarga yang melakukan hal itu.

Yang terjadi, dan itu pasti, hampir seluruh anak-anak diajari dan dididik oleh guru TPA/TPSA/MDA alias guru mengaji di masjid, mushalla atau di surau-surau. Karena itu tidaklah lancang kalau saya mengatakan bahwa Islamisasi dari generasi ke generasi anak-anak kita berada di tangan guru mengaji, bukan di tangan mubaligh bahkan ulama (Islamisasi di Tangan Guru Mengaji-Singgalang 24 Juli 2009).

Kemudian diakui pula bahwa pendidikan surau seperti TPA/TPSA/MDA itu sangat menentukan krakter generasi ke generasi yang berimplikasisi pada prilaku individu dan masyarakat. Di Sumatera Barat TPA/TPSA/MDA bahkan masih lagi mengemban misi pembinaan Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Klitabullah (ABS-SBK).

Legalitas Masjid

Meski demikian penting posisi, fungsi dan perannya dalam masyarakat, bangsa dan negara namun keberadaan guru mengaji masih ditaruh sebagai tenaga pendidikan masyarakat. Di Sumatera Barat misalnya, ada Perda No. 2 Tahun 2007  Tentang Pemerintahan Nagari. Pasal 16 (huruf c) tentang kekayaan (pemerintahan) nagari,  menyatakan bahwa diantara kekayaan nagari adalah masjid atau surau nagari, tempat dimana TPA/ TPSA /MDA berdiri.

Sedangkan masjid atau surau yang berada di kelurahan/ desa di wilayah perkotaan tak jelas posisinya. Sebab, dalam PP No. 73 Tahun 2005 Tentang Kelurahan tak diatur prihal masjid tersebut. Sementara, Pemprov Sumatera Barat dan  pemerintahan kota sejauh ini juga belum menerbitkan Perda tentang pemerintahan kelurahan sehingga ada tuntunan teknis soal masjid dan surau itu.

Jadi, sejauh ini, kecuali di nagari di bawah kabupaten, kelembagaan masjid dan surau di perkotaan Sumatera Barat belum dinaungi atau dilindungi oleh Pemda. Begitupun, Perda No. 2 Tahun 2007, masih sebatas menyatakan masjid sebagai kekayaan nagari alias benda mati. Tak ada tindaklanjutnya, baik berupa Surat Edaran, Peraturan Gubernur maupun Perda Kabupaten atau Peraturan Bupati yang mengatur pembinaan, pemanfaatan serta pengelolaan masjid atau surau itu.

Maka, jangan heran jika sampai saat ini ( 6 tahun Perda) belum satupun masjid yang masuk dalam penyelenggaraan pemerintahan nagari. Padahal masjid dan surau yang menjadi urusan bagian kesra kantor Pemkab/Pemko dan Biro Sosial Pemda Sumatera Barat, seharusnya pula jadi urusan bagian kesra pemerintahan nagari. Akibatnya, meski mendapat bantuan temporer dari kabupaten/kota dan provinsi namun pembangunan, pengelolaan dan pembinaan masjid dan surau belum termasuk ke dalam anggaran belanja nagari.

Keberadaan TPA/TPSA/MDA di masjid dan surau otomatis belum tersentuh langsung pemerintahan kabupaten/kota. Kecuali bantuan insentif triwulanan dengan jumlah terbatas dan nilai yang minim bagi imam masjid dan guru mengaji, (Pemko Bukittinggi memberikan dana operasional bagi TPA/TPSA/ MDA antara Rp 5 juta dan Rp 9 juta/tahun), tak ada pembinaan struktural dan fungsional dari pemerintah daerah.

Tanpa Perlindungan   

Jika benar data Kanwil Kemenag Sumatera Barat di provinsi ini terdapat 4.693 unit masjid, 4.449 unit mushalla dan 5.714 langgar/surau ( total 14.856 unit). Kemudian terdapat TPA/TPSA/MDA sebanyak 5.398 unit. Artinya, tiap 3 masjid atau surau terdapat satu TPSA atau MDA.  Rata-rata  tiap TPA/TPSA atau MDA punya dua guru. Berarti, setidaknya, ada sekitar 17. 000 guru mengaji di Sumatera Barat.

Sementara keberadaan TPA/TPSA/MDA di masjid dan surau itupun secara struktural dan fungsional juga belum jelas. Ada yang hanya sebatas jadi bagian  kegiatan masjid dan sebagian menjadikan bagian organisasi masjid sehingga belum banyak masjid yang langsung menjamin kesejahteraan atau gaji/honor guru mengaji. Kebanyakan mereka mendapat honor dari iyuran/ uang mengaji anak-anak yang jumlah dan nilanya jauh dari memadai.

Pertanyaannya kemudian adalah, ketika guru mengaji menghadapi persoalan seperti  jatuh sakit, siapa yang harus menolong. Selama ini hanya berharap uluran tangan warga. Bagiamana pula kalau menghadapi persoalan hukum, misalnya dilaporkan orang tua murid ke polisi, atau dilambrak orang tua murid, mungkin karena melecut murid yang bandel, tak ada lembaga yang memberikan advokasi, pembelaan dan perlindungan? Padahal kemungkinan itu sangat besar mengingat kini isu kekerasan terhadap anak sudah melampui batas sehingga urusan guru dan murid, orang tua dan anaknya sendiri,  rawan jadi perkara pidana.

Oleh karena itu melihat posisi kelembagaan masjid dan status hukum kelembagaan TPA, TPSA, MDA, sudah saatnya semua pihak terutama kalangan ulama/ mubalig serta guru-guru agama mendesak Pemprov dan Kabupaten/kota beserta DPRD untuk menempatkan masjid dan surau beserta lembaga pendidikan di bawahnya sebagai bagian dari urusan pemerintahan nagari/desa atau kelurahan sebagai pemerintahan terendah dibawah binaan langsung Pemrpov dan Kabupaten/kota yang diprioritaskan dalam APBD.

Langkah itu perlu segera dikonkretkan sejalan dengan tujuan Perda No. 2 Tahun 2007, RPJMD Sumatera Barat dan visi misi Gubernur serta komitmen Bupati/ Walikota membangun masyarakat yang religius. Jika tidak, sama artinya dengan mengkhianati komitmen sendiri dan mengabaikan kelangsungan regenerasi umat dan masyarakat Minangkabau.(*)

Padang 6 November 2012


Ulama, Pengusaha dan Parewa

8 Agustus 2013

Teras Utama Padang Ekspres Jumat 19 Oktober 2012

Oleh Fachrul Rasyid HF

Setiap kali membicarakan kondisi umat perdebatan sering mengarah kepada peran dan kelangkaan ulama. Padahal, adanya Majelis Ulama Indonesia (MUI) menjadi bukti bahwa jumlah ulama cukup besar sehingga karena itu diperlukan sebuah organisasi ulama. Tapi mengapa suara tentang kelangkaan ulama tak semakin mereda?

Pertanyaan di atas menggundang pertanyaan berikutnya. Ulama mana atau ulama seperti apa yang tak langka dan yang langka?  Yang tak langka tampaknya  ulama dalam pengertian orang yang berpendidikan, mendalami dan menguasai ilmu agama. Dan itu cukup besar jumlahnya. Sebagian besar malah bergelar master, doktor dan profesor.

Yang langka, paling tidak dalam persepsi yang hidup dalam masyarakat umat, tampaknya ulama dalam pengertian pemimpin. Dari menapak jejak sejumlah ulama besar di Sumatera Barat, ditemukan beberapa indikasi kenapa ulama masa lampau itu lebih pengaruh. Antara lain karena kepribadiannya yang baik, keluarganya yang terhormat, kepeduliannya yang tinggi, kecerdasan, kejujuran dan keberaniannya yang teruji.

Ulama itu jadi pemimpin jamaah dan berbasis di masjid. Pemimpin pendidikan/ pembentuk prilaku dan berbasis di madrasah. Pemimpin yang ilmunya (komptensinya) jadi rujukan. Ulama yang jadi konsultan umat dalam menghadapi persoalan sosial, politik, ekonomi dan budaya. Ulama yang cerdas dan bijak merespon dan memberikan arahan sikap kepada umat dalam menghadapi sesuatu. Yang memberikan (bukan diminta) pendapatnya terhadap perkembangan.

Ulama pemimpin itulah yang membangun umat dan bangsa, termasuk di Sumatera Barat, di awal abad 19 hingga awal abad 20.  Di segi jumlah, ulama besar di zaman itu jauh lebih kecil ketimbang ulama bergelar profesor dan doktor di akhir abad 20 dan awal abad 21 sekarang. Namun pengaruhnya di tengah-tengah masyarakat umat, justru sebaliknya. Bahkan hingga hari ini pemikiran ulama masa lalu itu masih tetap jadi ikutan.

Pengusaha dan Parewa

Selain indikasi yang disebutkan di atas,  ada dua faktor pendukung yang ikut membesarkan ulama di tengah-tengah msayarakat umat. Pertama, partisipasi para pedagang, atau saudagar dan petani/peternak kaya di lingkungannya. Kedua, partisipasi dan dukungan parewa.

Dari penelusuran riwayat ulama besar di Minangkabau, terungkap bahwa di belakang ulama itu terdapat orang-orang kaya, seperti saudagar cengkeh, kopra, gambir, pedagang tekstil, pedagang emas, toke beras dan sebagainya. Setiap kali seorang ulama berencana membangun masjid, madrasah bahkan infrastruktur di nagari, ia selalu mengajak musyawarah para saudagar. Saudagarlah kemudian yang  menjadi pemodal atau penyandang dana pembangunan.

Inilah kenapa ulama masa lalu, tanpa pernah meminta bantuan pemerintah, begitu mudah membangun madrasah, masjid, surau, dan bahkan kegiatan-kegiatan pengajian. Para saudagar pula yang menyediakan dana bila ulama bepergian, atau biaya perwatan anak istrinya di rumah sakit, termasuk beribadah haji.

Selain saudagar, di belakang ulama besar masa lalu berdiri beberapa parewa. Parewa, dalam masyarakat Minang tempo dulu bukan preman dalam pemahaman sekarang. Parewa adalah pemuda pendekar, berotot dan pemberani. Meski bukan tokoh organisasi, jarang tampil di depan umum ia berpengaruh di kalangan orang muda. Ia bisa hadir dalam berbagai kegiatan pemuda. Ia bisa tampil di bidang olahrga, pertanian disamping juga pintar main judi dan menyabung ayam, bahkan sesekali mereka juga maling ayam untuk dimasak  “malapeh salero”.  Kendati demikian sholat Jumatnya tak pernah tinggal.

Para parewa sangat menghormati ulama. Meski jarang bertemu ulama, parewa lazimnya menjadi pengawal dan pengaman tak langsung kegiatan dan urusan ulama. Jangan mencoba pernah bertindak tak sopan, apalagi mengganggu jamaah dan madrasah ulama. Jangan ada yang berbuat maksiat, maling, merampok dan sebagainya.  Bila itu terjadi parewa akan mencari pelaku tanpa setahu ulama. Bahkan ketika ulama berniat turun ke sawah atau mengumpulkan kayu untuk membangun rumah, parewa dan kawanannya mendahului rencana itu.

Jangan heran ketika perang perjuangan kemerdekaan dan saat melawan agresi Belanda 1948, para parewalah yang menjadi pasukan inti para ulama di medan perang terbuka atau perang grilya.

Pertanyaan kenapa pengaruh dan kharisma ulama masa kini terasa minim karena selain tak memenuhi indikasi di atas, mereka juga jauh atau menjauhi  pengusaha dan saudagar dan parewa. Akibat tak berbasis di madrasah, tak mandiri secara ekonomi ( mereka kebanyakannya PNS), rendah kepedulian dan seterusnya  tak dekat dengan pengusaha/sudagar, termasuk dengan parewa, rendnah pengaruhnya. Padahal fakta membuktikan, beberapa masjid besar di daerah ini didirikan pengusaha bukan ulama. Bahkan sejumlah pesantren modern yang ada sekarang adalah milik pengusaha, bukan ulama.

Maka, untuk menjawab kelangkaan ulama tampaknya tak cukup hanya mengandalkan jumlah tapi lebih ditentukan pengaruh dan kewibawaannya. Seandainya ulama masa kini yang jumlahnya cukup besar mau mengoreksi kiat pendekatan, sikap dan responnya di tengah masyarakat tentulah pengruh ulama masa kini bisa  melebihi ulama masa lalu. (*)


Benteng Iman itu Ekonomi

8 Agustus 2013

Komentar Singgalang Jumat 2 November 2012

Oleh Fachrul Rasyid HF

Kalimat yang menyatakan bahwa ajaran agama adalah untuk kehidupan di dunia, mungkin dianggap terlalu fulgar, dan jarang terdengar diucapkan. Namun kalau kandungan Alqur’an didalami secara seksama, hal itu adalah benar adanya dan tak perlu diperdebatkan apalagi dibantah.

Lima rukun Islam : mengucapkan dua kalimat syahadat, sholat lima waktu, melaksanakan ibadah puasa, membayar zakat, menunaikan ibadah haji bagi yang mampu, berlaku dan diperuntukan bagi orang yang hidup di dunia.

Begitu juga enam rukun iman: Iman kepada Allah (percaya, patuh dan taat kepada Allah, ajaran dan hukum-hukumNYA. Iman kepada malaikat-malaikat Allah (mengetahui dan percaya akan keberadaan kekuasaan dan kebesaran Allah di alam semesta) Iman kepada kitab Allah (melaksanakan ajaran kitab Allah Al-Qur’an). Iman kepada rasul-rasul Allah (percaya dan mengikuti/ mencontoh  perjuangan dan prilaku para Nabi dan Rasul). Iman kepada hari kiamat ( pecaya dan meyakini bahwa setiap perbuatan akan dibalasi/diimbali kelak di akhirat). Iman kepada Qada dan Qadar (percaya pada keputusan serta kepastian yang ditentukan Allah pada alam semesta ini).

Tuntunan dan hukum (syariat) tentang kehidupan sosial, ekonomi, politik, dan budaya yang diturunkan Allah SWT berupa ayat-ayat Alquran berlaku bagi orang yang hidup di dunia. Setiap awal ayat Alqur’an yang dimulai dengan kalimat Yaayyuhannas, Yaayuuhallazina amanu, dan seterusnya ditujukan kepada orang yang hidup di dunia.

Karena itu Nabi Muhmmad SAW menegaskan,” Apabila telah meninggal (mati) anak cucu Adam (manusia yang beriman) putus amalannya (hak dan kewajibannya) kecuali tiga. Yaitu, doa anak yang sholeh, sadakah jariah (bermanfaat berkelanjutan) dan ilmu yang bermanfaat (berguna bagi kemasalahan/ kebaikan umat).

Lantas bagaimana dengan hari kiamat dan alam akhirat salah satu yang diimani? Hari akhirat adalah kehidupan untuk menerima imbalan atau balasan dari apa saja yang diperbuat selama didunia. Dan, itu sesuai record (rekaman), rapor (nilai) dan report (laporan) tentang amal baik dan buruk, pahala dan dosa yang dikumpulkan malaikat selama seseorang menjalani kehidupan. Atau nilai dari tingkat aplikasi Rukun Islam dan Rukun Iman serta ketentuan yang digariskan Allah dalam Alqur’an dan hadits Nabi Mumammad SAW.

Orang yang beriman, selain melaksanakan sholat lima waktu dan melaksanakan puasa dengan benar tidak mungkin berzakat, apalagi menunaikan ibadah haji, jika secara ekonomi ia tak mampu. Kemampuan itu, baik karena keterampilan, karena usaha pertanian, peternakan atau usaha dagang dan idustri. Artinya, seorang muslim akan mampu menenuhi kewajiban dasar agama kalau secara ekonomi ia juga berkemampuan. Bila mampu memenuhi kewajiban dasar itu secara maksimal tentulah imbalan yang diperoleh kelak di akhirat akan maksimal juga.

Untuk bisa memenuhi kewaijban agama secara baik itulah setiap muslim selain terus berusaha sekuat tenaga memenuhi tuntutan amal dan ibadah yang diperintahkan, juga dianjurkan Allah agar berdoa bagi kebaikan di dunia dan akhirat. (rabbana atina fiddunya hasanah, wafil akhirati hasanan). Singkat kata, jika hidup didunia sudah baik-baik tentulah diakhirat kelak mendapat balasan yang baik pula. Begitu juga sebaliknya.

Nabi Muhammd SAW pun mengingatkan bagaimana pentingnya dunia, tanpa mengabaikan imbalan di akhirat itu. Kata beliau,” berbuatlah (bekerja keras) untuk kehidupan di dunia ini seolah kamu hidup selama-lamanya. Dan, berbuatlah (di dunia ini) untuk akhiratmu (kelak) seolah kamu akan mati besok pagi”. Artinya, kerja keras di dunia ini harus selalu mempertimbangkan resiko dan imbalan sertta pembalasan di akhirat kelak.

Dengan demikian  tidak ada dikotomi, pembeadaan kepentingan kehidupan di dunia dan kepentingan hidup di akhirat. Bahkan bisa disimpulkan kehidupan di dunia ( yang mengikuti  ajaran Allah dan Rasukl secara baik) adalah awal dari kehidupan di akhirat yang baik.

Dakwah Salah Kaprah

Sayang, materi dakwah yang disampaikan di berbagai forum jamaah cenderung membedakan bahwa agama (Islam) dengan segala ajarannya hanya untuk kehidupan akhirat. Nyaris tak pernah terdengar dai atau mubaligh bahkan guru besar sekalipun di sekitar kita yang memberikan wawasan tentang bagaimana mestinya kaum muslimin membangun kehidupan (ekonomi) di dunia supaya kewajiban dasarnya juga terpenuhi.

Pemahaman amal dan ibdah bahkan cenderung disamakan sehingga akhirnya seolah hidup kaum muslimin itu hanya untuk beribadah (sholat, puasa, zakat, dan berhaji). Padahal pengertian amilussholihat (amal yang baik) adalah bekerja dan berusaha untuk memenuhi kehidupan diri dan keluarga serta memberikan kebaikan kepada orang lain. Baik di bidang ekonomi, politik, budaya, sosial atau bidang lainnya tanpa melangar  syariat Islam.

Dampak dakwah yang salah kaprah itu dalam masyarakat cukup luas. Antara lain, seolah orang yang baik itu hanya yang rajin ke masjid, meski kebutuhan keluarganya terabaikan. Seolah orang baik itu hanya orang yang suka bersedekah, berkurban dan berzikir. Pengusaha, pedagang, kalangan pabrikan dilihat sebelah mata. Padahal Islam berkembang justru di tangan para pengusaha, pedagang dan saudagar itu. Merekalah yang banyak menyumbangkan dana pembangunan madrasah dan masjid. Mereka juga mengucurkan zakat, menyantuni anak yatim bahkan beasiswa bagi anak tak mampu.

Kini sudah selayaknya pendekatan dan materi dakwah itu diubah kearah yang memberikan pencerahan kehidupan ekonomi dan sosial budaya. Sebab, hadits yang mengatakan bahwa kefakiran (status ekonomi) mendekatkan orang pada kekafiran (status keimanan), menjadi bukti bahwa benteng iman itu sesungguhnya adalah ekonomi. (*)


Mencari Batasan Maaf Lahir dan Bathin

4 November 2012

Teras Utama Padang Ekspres Sabtu 25Agustuis 2012
Oleh Fachrul Rasyid HF

Tiap datang Idulfitri diantara kita banyak menerima ucapan “Selamat Idulfitri, minal ‘aidin wal faizin, mohon maaaf lahir dan bathin” via pesan singkat SMS. Banyak diantaranya yang disertai kalimat hikmah dan bahkan pantun-pantun.

Seperti tahun sebelumnya, Idulfitri 1433 H ini saya juga banyak menerima ucapan serupa. Sekitar 200-an. Ada yang dari pejabat pemerintahan, politisi, akademisi, pengusaha, guru sekolah, guru mengaji, ulama, ustaz, da’i, mahasiswa/i, seniman dan budayawan serta teman-teman seprofesi. Sebagian besar saya balas.

Sekilas tak ada yang aneh dari ucapan selamat Idulfitri itu. Apalagi kalimat minal  ‘aidin wal faizin sudah diketahui maknanya :semoga kita termasuk (orang-orang)  yang kembali (kepada fitrah) dan mendapat kemenangan (Ramadhan).
 
Tapi, makna kalimat mohon maaf lahir dan bathin karena tak ada hubungannya dengan ucapan minal ‘aidin wal faizin, tentu cukup menggelitik.  Saya coba mencari jawabannya selama dua kali Ramadhan. Entah dianggap hal biasa, tak seorang pun penulis di surat kabar kita dan para ustaz yang membahas hal itu dalam ceramah-cermah Ramadhan.

Padahal ucapan mohon maaf lahir dan bathin, bukan hal sepele. Sebagaimana diketahui kata maaf (Bahasa Arab) berarti rela dan ikhlas melepaskan/ menghabiskan segala sesuatu : kesalahan, kekeliruan (sengaja atau tak sengaja)  kewajiban atau utang seseorang kepada orang lain. Kata lahir atau zhahir (Bahasa Arab) berati nyata, kasat mata atau tampak dilihat mata dan terasa disentuh anggota tubuh. Batin atau bathin (Bahasa Arab), adalah sesuatu yang bukan kasat mata tapi kasat rasa: perasaan, jiwa dan hati (aspek psikologis)

Lantas pertanyaannya, apakah dengan memberi atau menerima ucapan mohon maaf lahir dan bathin itu secara ikhlas otomatis akan menghapus semua bentuk dosa/kesalahan yang bersifat perasaan? Kalau kedua belah pihak memang berniat saling memaafkan, boleh jadi dosa dan kesalahan itu sudah hapus.

Tapi bagaimana dengan dosa/kesalahan yang bersifat lahiriyah/zhahir? Misalnya, tindak pidana kriminal terhadap seseorang, terhadap orang banyak dan terhadap negara seperti pencurian, penganiayaan, penipuan, pembohongan, manipulasi dan korupsi. Atau yang bersifat keperdataan, seperti utang piutang, sewa menyewa, dan sebagainya. Apakah dosa/kesalahan tersebut akan hapus juga?

Pertanyaan yang kelihatan serhana ini persoalannya tidaklah sederhana. Sebab, bukan tak mungkin satu hari kelak seorang pelaku kejahatan, pencuri atau korupsi, mengirim ucapan selamat dan mohon maaf lahir bathin secara tertulis kepada korban atau kepada jaksa atau hakim dan dijawab dengan ucapan senada. Ucapan itu kemudian didalilkan terdakwa menggugurkan kejahatannya. Atau tergugat dalam perkara perdata, mendalilkan ucapan seperti itu untuk menolak gugatan, misalnya utang piutang. Bukankah diantara pelaku dan korban, termasuk jaksa yang mendakwa atau hakim yang mengadili perkara sudah saling memaafkan?

Kalau makna ucapan mohon maaf lahir dan bathin itu tidak sampai sejauh itu, lantas apa makna sesungguhnya. Apakah itu hanya dipergunakan sekedar pemanis dan pelengkap pergaulan. Lalu buat apa memohon dan memberi maaf kalau tak dimaksudkan menghapus dosa/kesalahan?.

Serangkaian pertanyaan tersebut di atas ada baiknya dibahawas oleh para ahlinya, dalam hal ini pakar hukum dan ulama sehingga umat mendapat batasan yang jelas dan tegas tentang hal itu. Jika tidak, ucapan-ucapan berbau agama, apalagi yang mendalilkan Alqur’an dan Hadits,  seperti kini banyak muncul di tengah-tengah masyarakat,  hanya akan menjadi kata-kata pemanis mulut atau penghias spanduk-spanduk. Padahal agama dan beragama bukan hanya sebatas ucapan dan spanduk-spanduk itu. (*)

 

 


Dakwah Diantara Zed dan Zai

4 November 2012

Teras Utama Padang Ekspres 
Oleh Fachrul Rasyid HF

Dakwah dan Jebakan Teknologi Media Massa, yang ditulis Mestika Zed – seterusnya kita sebut Zed saja (Teras Utama, Jumat, 07/09/2012), adalah sebuah reportase dan deskripsi yang utuh tentang realita aktual di tengah masyarakat umat, di Sumatera Barat bahkan Indonesia. Realita bahwa hiruk pikuk pengajian selama bulan Ramadhan, seakan hanya bagian dari daftar acara wajib selama bulan Ramadhan sehingga tak membekas bahwa umat Islam baru saja keluar dari penggemblengan mental-spritual Ramadhan.

Buat saya, paling tidak selama 20 tahun mengurus masjid, mengikuti serta mengevaluasi praktik dan materi dakwah/ pengajian dalam atau di luar Ramadhan, apa yang digambarkan guru besar sejarah itu adalah suatu hal yang tak terbantah. Karena itu sebulan sebelum Zed menulis, pada rubrik  Teras Utama ini juga (Senin  06/08/2012) saya telah menulis hal senada dengan judul “Beragama selama Ramadhan (?)

Penggunaan teknologi, seperti migrofon, kaset, vedio dan unsur entertaiment (baca menghibur) dalam berdakwah sebagaimana banyak diprakrtikkan di layar televisi selama Ramadhan, sebatas pendukung visualisasi dan “kecerdasan” dakwah tentulah kalau bukan dianjurkan setidaknya bisa dianggap sah.

Tapi bila hal itu digunakan sebagai syiar Islam, seharusnya mendapat koreksi dari pada ulama. Soalnya, pengajian, ibadah dan juga bacaan Alquraan menggunakan pengeras suara bukannya membuat orang tergugah tapi justru terganggu. (FR- Suara Mikrofon menunggu Suara Ulama- Harian Singalang 13 Agustus 2011).

Kemudian unsur “menghibur” dalam dakwah tentulah tidak dimaksudkan hiburan itu sendiri melainkan sekedar upaya pendekatan. Namun nyatanya, baik lewat televisi maupun di mimbar pengajian/ wirid, diandalkan sebagian mubalig sehingga yang disisakan bukan materi pengajian tapi lelucon da’i. Bila belajar dari profil dan sukses  ulama dan mubalig akhir abad ke 19 dan awal abad 20 dan melihat praktik dakwah selama 25 tahun terakhir, sesungguhnya yang terjadi bukan hanya deviasi dan keanehan, tetapi penyimpangan yang dianggap hal normal atau penyakit yang dianggap kelebihan, bisa yang dianggap biasa.

Dan, itu jadi bukti betapa yang terjadi bukan sekedar deviasi dari dakwah atau pemanfaatan media massa sebagaimana ditulis Sutan Zaili Asril (selanjutnya saya sebut Zai saja), dalam tulisan ”Dakwah Itu Apa” dan Kegamangan Mestika (Teras Utama Senian 10/09/2012). Tapi “Penyimpangan” praktik dakwah yang berakibat terjadinya pembelokkan tujuan dakwah sehingga salah kaprah.

Karena itu saya kurang sependapat dengan Prof. Dr. Duski Samad dalam tulisan “Tautkan Potensi Dakwah”, Teras Utama Rabu, 19/09/2012) pendapat yang cenderung permisisf dan menutup celah pencerahan yang cepat-cepat mengklalim pandangan antara Zed dan Zai sebagai potensi dakwah yang perlu dikombinasikan.

Sebenarnya yang pantut dijawab adalah pertanyaan Zed, mungkinkah ada sesuatu yang keliru dalam cara kita berdakwah atau nilai-nilai sudah banyak yang berubah. Saya, sebagai jurnalis, bukan mubalig, memang melihat ada yang keliru dalam cara kita berdakwah. Pertama, tujuan dakwah pada dasarnya adalah membangun budaya masyarakat berdasarkan nilai-nilai Islam sehingga Islam  teraplikasi dalam prilaku, sikap hidup terhadap khaliq, dan sesama makhluq, dan terwujud kebaikan hidup di dunia dan akhirat.

Singkat kata mubalig itu berperan membudayakan nilai-nilai Islam, menjadikan Islam sebagai jawaban persoalan kehidupan dan ikut mengawasi proses sosialisasi itu. Peran mubalig bukan melahirkan nilai-nilai, seperti ditulis Prof Dr. Salmadanis dalam Dakwah Sebagai Transformasi Nilai Islam (Teras Utama  Rabu, 01/08/2012). Sebab, nilai-nilai itu sudah ada dalam Alqur’an dan Hadits.

Kedua, dakwah yang efektif tentulah dakwah yang komunikatif. Untuk menjadi komunikatif, mubalig seharusnya mengetahui persolan-persoalan yang dihadapi jamaah. Seorang dokter harus tahu dulu keluhan pasien supaya bisa memberi resep yang tepat. Tapi, sejauh ini kita berani mengatakan 95% mubalig tak mengetahui, juga tak berusaha mencari tahu kondisi objektif calon jamaah yang akan didakwahi. Mubalig datang dengan menebar jaring dan jamaah menunggu dengan persoalannya sehari-hari. Supaya menarik digunakan berbagai trik. Akibatnya, yang tersisa bukan materi ceramah melainkan ulah simubalig.

Menjawab persoalan ini lima tahun terakhir saya sering menyuarakan, langsung maupun melalui tulisan di media, kiranya pergurun tinggi Islam, MUI dan ormas Islam menyusun peta dakwah dan rencana tata ruang dakwah melalui indikator tertentu . Dengan cara itu tiap mubalig mengenal kondisi ril keragaman praktik keberagamaan dan kondisi sosial ekonomi masyarakat sampai ke nagari-nagari. Dari situ bisa direncanakan metoda dan materi dakwah sehingga jadi efektif, komunikatif dan bahkan bisa terevaluasi. Sayang, meski Gubernur Gamawan Fauzi dulu pernah menawarkan anggaran untuk itu, namun tak ada respon dari pihak-pihak yang berkompeten.

Ketiga, pendekatan dan meteri dakwah juga perlu perbaikan. Pada umumnya dakwah kini disuguhkan dengan pendekatan materi tekstual normatif: membacakan teks-teks Alqur’an dan Hadits lalu diterjemahkan dan diuraikan sesuai wawasan mubalig. Materi yang disajikanpun nyaris didominasi tentang ibadah, akhlakul karimah, tentang dosa dan pahala dan jarang sekali yang memberikan pencerahan bidang sosial, ekonomi dan budaya. Karena tanpa rencana dakwah atau silabus, sering terjadi pengulangan-pengulangan.

Pendekatan dan materi dakwah seperti itu berimplikasi pada dikotomi pemahaman agama dan kehidupan duniawi. Agama seolah hanya untuk urusan akhirat dan kehidupan sosial ekonomi, hukum dan budaya adalah urusan dunia. Tak aneh jika haji dijadikan status simbol sosial. Jilbab hanya jadi pakaian seragam, model dan politik, bukan jadi pakaian berbasis aqidah. Ke masjid semuanya menutup aurat, ke pasar membuka aurat. Selama puasa seperti tawadhuk, setelah Ramadhan seperti batal uduk. Meski suara mikrofon tetap keras, tapi jamaahnya kosong. Wajar jika Zed menyebut teknologi digunakan memanipulasi syiar Islam.

Padahal sesuai dengan dinamikan perkembangan budaya masyarakat yang kian kompleks yang diperlukan adalah pendekatan kontekstual normartif: memecehkan persoalan dengan Alqur’an dan Hadits serta kajian agama. Dengan cara itu jamaah mendapat jawaban, obat dan alternatif pemecahan persoalan kehidupan nyata dan agama menjadi rujukan budaya. Saat itulah dakwah akan mencapai sasaran membangun umat yang Islami kaffah. (*)

Padang 20 September 2012


Ulama, Pengusaha dan Parewa

4 November 2012

Teras Utama Padang Ekspres Jumat 19 Oktober 2012

Oleh Fachrul Rasyid HF

Setiap kali membicarakan kondisi umat perdebatan sering mengarah kepada peran dan kelangkaan ulama. Padahal, adanya Majelis Ulama Indonesia (MUI) menjadi bukti bahwa jumlah ulama cukup besar sehingga karena itu diperlukan sebuah organisasi ulama. Tapi mengapa suara tentang kelangkaan ulama tak semakin mereda?

Pertanyaan di atas menggundang pertanyaan berikutnya. Ulama mana atau ulama seperti apa yang tak langka dan yang langka?  Yang tak langka tampaknya  ulama dalam pengertian orang yang berpendidikan, mendalami dan menguasai ilmu agama. Dan itu cukup besar jumlahnya. Sebagian besar malah bergelar master, doktor dan profesor.

Yang langka, paling tidak dalam persepsi yang hidup dalam masyarakat umat, tampaknya ulama dalam pengertian pemimpin. Dari menapak jejak sejumlah ulama besar di Sumatera Barat, ditemukan beberapa indikasi kenapa ulama masa lampau itu lebih pengaruh. Antara lain karena kepribadiannya yang baik, keluarganya yang terhormat, kepeduliannya yang tinggi, kecerdasan, kejujuran dan keberaniannya yang teruji.

Ulama itu jadi pemimpin jamaah dan berbasis di masjid. Pemimpin pendidikan/ pembentuk prilaku dan berbasis di madrasah. Pemimpin yang ilmunya (komptensinya) jadi rujukan. Ulama yang jadi konsultan umat dalam menghadapi persoalan sosial, politik, ekonomi dan budaya. Ulama yang cerdas dan bijak merespon dan memberikan arahan sikap kepada umat dalam menghadapi sesuatu. Yang memberikan (bukan diminta) pendapatnya terhadap perkembangan.

Ulama pemimpin itulah yang membangun umat dan bangsa, termasuk di Sumatera Barat, di awal abad 19 hingga awal abad 20.  Di segi jumlah, ulama besar di zaman itu jauh lebih kecil ketimbang ulama bergelar profesor dan doktor di akhir abad 20 dan awal abad 21 sekarang. Namun pengaruhnya di tengah-tengah masyarakat umat, justru sebaliknya. Bahkan hingga hari ini pemikiran ulama masa lalu itu masih tetap jadi ikutan.

Pengusaha dan Parewa

Selain indikasi yang disebutkan di atas,  ada dua faktor pendukung yang ikut membesarkan ulama di tengah-tengah msayarakat umat. Pertama, partisipasi para pedagang, atau saudagar dan petani/peternak kaya di lingkungannya. Kedua, partisipasi dan dukungan parewa.

Dari penelusuran riwayat ulama besar di Minangkabau, terungkap bahwa di belakang ulama itu terdapat orang-orang kaya, seperti saudagar cengkeh, kopra, gambir, pedagang tekstil, pedagang emas, toke beras dan sebagainya. Setiap kali seorang ulama berencana membangun masjid, madrasah bahkan infrastruktur di nagari, ia selalu mengajak musyawarah para saudagar. Saudagarlah kemudian yang  menjadi pemodal atau penyandang dana pembangunan.

Inilah kenapa ulama masa lalu, tanpa pernah meminta bantuan pemerintah, begitu mudah membangun madrasah, masjid, surau, dan bahkan kegiatan-kegiatan pengajian. Para saudagar pula yang menyediakan dana bila ulama bepergian, atau biaya perwatan anak istrinya di rumah sakit, termasuk beribadah haji.

Selain saudagar, di belakang ulama besar masa lalu berdiri beberapa parewa. Parewa, dalam masyarakat Minang tempo dulu bukan preman dalam pemahaman sekarang. Parewa adalah pemuda pendekar, berotot dan pemberani. Meski bukan tokoh organisasi, jarang tampil di depan umum ia berpengaruh di kalangan orang muda. Ia bisa hadir dalam berbagai kegiatan pemuda. Ia bisa tampil di bidang olahrga, pertanian disamping juga pintar main judi dan menyabung ayam, bahkan sesekali mereka juga maling ayam untuk dimasak  “malapeh salero”.  Kendati demikian sholat Jumatnya tak pernah tinggal.

Para parewa sangat menghormati ulama. Meski jarang bertemu ulama, parewa lazimnya menjadi pengawal dan pengaman tak langsung kegiatan dan urusan ulama. Jangan mencoba pernah bertindak tak sopan, apalagi mengganggu jamaah dan madrasah ulama. Jangan ada yang berbuat maksiat, maling, merampok dan sebagainya.  Bila itu terjadi parewa akan mencari pelaku tanpa setahu ulama. Bahkan ketika ulama berniat turun ke sawah atau mengumpulkan kayu untuk membangun rumah, parewa dan kawanannya mendahului rencana itu.

Jangan heran ketika perang perjuangan kemerdekaan dan saat melawan agresi Belanda 1948, para parewalah yang menjadi pasukan inti para ulama di medan perang terbuka atau perang grilya.

Pertanyaan kenapa pengaruh dan kharisma ulama masa kini terasa minim karena selain tak memenuhi indikasi di atas, mereka juga jauh atau menjauhi  pengusaha dan saudagar dan parewa. Akibat tak berbasis di madrasah, tak mandiri secara ekonomi ( mereka kebanyakannya PNS), rendah kepedulian dan seterusnya  tak dekat dengan pengusaha/sudagar, termasuk dengan parewa, rendnah pengaruhnya. Padahal fakta membuktikan, beberapa masjid besar di daerah ini didirikan pengusaha bukan ulama. Bahkan sejumlah pesantren modern yang ada sekarang adalah milik pengusaha, bukan ulama.

Maka, untuk menjawab kelangkaan ulama tampaknya tak cukup hanya mengandalkan jumlah tapi lebih ditentukan pengaruh dan kewibawaannya. Seandainya ulama masa kini yang jumlahnya cukup besar mau mengoreksi kiat pendekatan, sikap dan responnya di tengah masyarakat tentulah pengruh ulama masa kini bisa  melebihi ulama masa lalu. (*)


Dakwah dan Radikalisme

4 November 2012

Teras Utama Padang Ekspres Sabtu 3 November 2012

Oleh Fachrul Rasyid HF

Dakwah dan radikalisme. Inilah tema besar yang akan dibicarakan empat profesor dalam seminar di Fakultas Dakwah IAIN Imam Bonjol Padang Sabtu 3 November 2012 ini. Pilihan tema, katanya, dilatarbelakangi perkembangan dakwah islamiyah dan realitas umat yang sering memicu kekerasan atas nama agama. Dan, konflik itu dipicu aktifitas dakwah dan masyarakat yang radikal. Bahkan salah satu pembicara akan mencoba melihat fenomena dakwah dalam radikalisme dan terorisme.

Membicarakan dakwah dan kaitannya radikalisme dan fenomena terorisme di Sumatera Barat, ibarat jualan, tentu kurang pas. Sebab, sepanjang sejarah di Minangkabau hingga hari ini, belum ditemukan indikasi dakwah memicu radikalisme apalagi terorisme. Kecuali dalam menghadapi penjajahan Belanda dulu, dakwah di Minangkabau, termasuk guru besar Fakultas Dakwah itu sendiri, nyaris hanya bicara soal akhirat, dan hampir steril dari urusan ekonomi apalgi politik praktis.

Meski tak ada larangan bicara hal tersebut di Ranah Minang, namun membicarakan sesuatu tanpa pertimbangan faktor relevansi (kedekatan) dengan masyarakat tentu bisa menimbulkan aneka penafsiran. Boleh jadi seminar itu dianggap “titipan” atau memberikan “titipan” untuk mengambil muka ke pemerintah, setidaknya ke Menteri Agama. Di samping itu, tentu bisa pula dianggap sebagai peringatan kalau bukan jadi motivasi alias pemancing.

Apapun di balik seminar yang dilabeli nasional itu, membicarakan dakwah, radikalisme dan terorisme perlu kehati-hatian. Perlu pemilahan satu dan lainnya sesuai kamusnya masing-masing. Dakwah adalah bahasa agama, merupakan sosialisasi ajaran dan nilai-nilai Islam berdasarkan Alqur’an dan Hadits. Dalam bahasa praktis, dakwah adalah upaya amar makruf nahi mungkar. Tujuannya, supaya umat melaksanakan ajaran Islam secara kaffah, di semua segi dan lini kehidupan. Dan, itu dengan metoda hikmah dan mauizah, dengan kebenaran dan kesabaran.

Sedangkan radikalisme, istilah politik, adalah kelompok yg menginginkan perubahan atau pembaharuan sosial dan politik secara drastis melalui kekerasan. Kemudian teror dan terorisme kelompok yang menggunakan kekerasan untuk menimbulkan ketakutan dalam mencapai tujuan (terutama tujuan politik).

Dari rumusan sederhana itu jelas perbedaan bahkan kontradiksi antara dakwah islamiyah, radikalisme dan terorisme. Karenanya tak beralasan menyebut dakwah radikalisme dan dakwah terorisme atau dakwah dengan misi radikalisme dan dakwah bermuatan terorisme. Mustahil pula jika dakwah dianggap sebagai pemicu/penyebab  radikalisme atau terorisme. Kecuali dakwah (baca propokasi) itu datang dari dan untuk kalangan radikalisme dan terorisme itu sendiri.

Kalau kemudian ada diantara anggota umat Islam dianggap berprilaku radikalisme, atau terlibat gerakan terorisme, selain harus dilihat arah datang tentu harus juga dicermati arah sasaran dan faktor yang menjadi pemicunya. Hal itu menjadi amat penting karena dalam berbagai peristiwa berbau radikalisme dan terorisme di Indonesia, pemicunya ada yang bersifat kasat mata dan ada yang kasat rasa. Kelompok yang dicap sebagai terorisme di Indonesia sebagaimana banyak diungkapkan berakar dari perang melawan Rusia kemudian beralih melawan Amerika di Afganistan.

Setelah Afganistan dikuasai Amerika, para pejuangnya bergerilya di berbagai kota di dunia, termasuk di Indonesia. Karena itu agaknya sasarannya adalah warga Amerika dan sekutunya. Ketika generasi pasca Afganistan mendapatkan tekanan terus menerus dari kepolisian, sasaran pun bergeser ke arah polisi. Hal itu memperlihatkan bahwa teroris, kalau itu dikatakan sebagai kelompok radikal, sasarannya bukan bangsa dan pemerintah Indonesia. Barangkali karena itu pula mereka bisa aman dan bahkan diterima di kalangan masyarakat di mana mereka bermukim.

Selain itu radikalisme, diantaranya mungkin muncul dalam bentuk gerakan terorisme, merupakan respons atau akibat dari gerakan yang juga tergolong radikal. Golongan itu selain penganut agama lain juga datang dari orang-orang yang mengaku penganut Islam. Yang disebut terakhir itu tanpa basa basi secara terus menerus melakukan gerakan transformasi iman umat Islam.

Gerakan transformasi iman melalui liberalisasi Islam ini selalu menyuarakan semboyan “tak seorang pun boleh mengatakan agamanya paling benar”. Mereka kemudian secara sistemik, terang-terangan dan terbuka melakukan desakralisasi dan rasionalisasi  Alqur’an. Diantaranya, menganggap Alqur’an yang ada sekarang tak lagi orisinil, lalu, ditafsirkan sesuai nalar logika semata. Hadits Nabi Muhammad SAW pun dihujat secara terbuka.

Gerakan ini begitu leluasa masuk ke perguruan tinggi Islam, lalu, memberikan beasiswa pasca sarjana di luar negeri. Mereka kemudian dengan mudah mengubah kurikulum madrasah sehingga MAAIN berubah jadi MAN, lalu, menjadi SMA bernuansa Islam. Pokoknya, Rukun Iman yang menjadi basis keimanan/ keyakinan umat Islam dipreteli secara semena-semena, tanpa pernah mendapat koreksi apalagi tindakan dari pemerintah.

Mengatasnamakan kebebesan beragama dan HAM, kelompok ini selalu tampil melindungi dan membela aliran yang dianggap menyimpang dari Islam. Bahkan mereka “menyerang” beberapa Perda Antimaksiat yang dibentuk DPRD berbasis umat Islam, dengan tuduhan menegakkan syariat Islam dan mau mendirikan negara Islam. Oleh mereka kebebasan beragama bukan diartikan kebebasan menganut dan mengamalkan agama masing-masing melainkan liberalisasi agama atau kebebasan melibas agama, khusus Islam.

Mereka tak menghargai subjektifitas dan sensitifitas keyakinan/keimanan yang dimiliki setiap pemeluk agama. Padahal Islam melaui ayat Alquran memberikan garisan yang tegas: lakum dinakum, waliyadi. Karena itulah umat Islam tak ‘mencikarui” keyakinan penganut agama lain. Umat Islam sangat menghormati Nabi Isa as, tapi juga tak rela Nabi Muhammad dihina. Anehnya, kala muncul reaksi atas keterusikan subjektifitas dan sensitifitas keyakinannya, kelompok itu enteng menuduh umat Islam radikal dan fondamentalis. Kelompok inilah selama era reformasi yang selalu bentrok dengan organisasi keislaman, terutama di Ibukota.

Gerakan transformasi iman dan liberalisasi agama yang berakar dan berasal dari luar Indonesia itu tak terawasi dan bahkan terkoreksi pemerintah itu jelas ikut memicu reaksi umat Islam yang kemudian dicap radikal. Padahal, setiap tantangan aktual yang dihadapi umat, dari mana pun datangnya pasti akan direspon ulama termasuk juru dakwah. Sebab, hal itu termasuk bagian amar makruf nahi mungkar.

Jadi kalau mau melihat dakwah dan radikalisme apalagi terorisme di Indonesia, janganlah memulai dari reaksi. Lihatlah secara adil dan objektif, bukan hanya dari internal umat tapi juga dari gerakan eksternal umat. (*)


Benteng Iman itu Ekonomi

4 November 2012

Komentar Singgalang Jumat 2 November 2012

Oleh Fachrul Rasyid HF

Kalimat yang menyatakan bahwa ajaran agama adalah untuk kehidupan di dunia, mungkin dianggap terlalu fulgar, dan jarang terdengar diucapkan. Namun kalau kandungan Alqur’an didalami secara seksama, hal itu adalah benar adanya dan tak perlu diperdebatkan apalagi dibantah.

Lima rukun Islam : mengucapkan dua kalimat syahadat, sholat lima waktu,melaksanakan ibadah puasa, membayar zakat, menunaikan ibadah haji bagi yang mampu, berlaku dan diperuntukan bagi orang yang hidup di dunia.

Begitu juga enam rukun iman: Iman kepada Allah (percaya, patuh dan taat kepada Allah, ajaran dan hukum-hukumNYA. Iman kepada malaikat-malaikat Allah (mengetahui dan percaya akan keberadaan kekuasaan dan kebesaran Allah di alam semesta) Iman kepada kitab Allah (melaksanakan ajaran kitab Allah Al-Qur’an). Iman kepada rasul-rasul Allah (percaya dan mengikuti/ mencontoh  perjuangan dan prilaku para Nabi dan Rasul). Iman kepada hari kiamat ( pecaya dan meyakini bahwa setiap perbuatan akan dibalasi/diimbali kelak di akhirat). Iman kepada Qada dan Qadar (percaya pada keputusan serta kepastian yang ditentukan Allah pada alam semesta ini).

Tuntunan dan hukum (syariat) tentang kehidupan sosial, ekonomi, politik, dan budaya yang diturunkan Allah SWT berupa ayat-ayat Alquran berlaku bagi orang yang hidup di dunia. Setiap awal ayat Alqur’an yang dimulai dengan kalimat Yaayyuhannas, Yaayuuhallazina amanu, dan seterusnya ditujukan kepada orang yang hidup di dunia.

Karena itu Nabi Muhmmad SAW menegaskan,” Apabila telah meninggal (mati) anak cucu Adam (manusia yang beriman) putus amalannya (hak dan kewajibannya) kecuali tiga. Yaitu, doa anak yang sholeh, sadakah jariah (bermanfaat berkelanjutan) dan ilmu yang bermanfaat (berguna bagi kemasalahan/ kebaikan umat).

Lantas bagaimana dengan hari kiamat dan alam akhirat salah satu yang diimani? Hari akhirat adalah kehidupan untuk menerima imbalan atau balasan dari apa saja yang diperbuat selama didunia. Dan, itu sesuai record (rekaman), rapor (nilai) dan report (laporan) tentang amal baik dan buruk, pahala dan dosa yang dikumpulkan malaikat selama seseorang menjalani kehidupan. Atau nilai dari tingkat aplikasi Rukun Islam dan Rukun Iman serta ketentuan yang digariskan Allah dalam Alqur’an dan hadits Nabi Mumammad SAW.

Orang yang beriman, selain melaksanakan sholat lima waktu dan melaksanakan puasa dengan benar tidak mungkin berzakat, apalagi menunaikan ibadah haji, jika secara ekonomi ia tak mampu. Kemampuan itu, baik karena keterampilan, karena usaha pertanian, peternakan atau usaha dagang dan idustri. Artinya, seorang muslim akan mampu menenuhi kewajiban dasar agama kalau secara ekonomi ia juga berkemampuan. Bila mampu memenuhi kewajiban dasar itu secara maksimal tentulah imbalan yang diperoleh kelak di akhirat akan maksimal juga.

Untuk bisa memenuhi kewaijban agama secara baik itulah setiap muslim selain terus berusaha sekuat tenaga memenuhi tuntutan amal dan ibadah yang diperintahkan, juga dianjurkan Allah agar berdoa bagi kebaikan di dunia dan akhirat. (rabbana atina fiddunya hasanah, wafil akhirati hasanan). Singkat kata, jika hidup didunia sudah baik-baik tentulah diakhirat kelak mendapat balasan yang baik pula. Begitu juga sebaliknya.

Nabi Muhammd SAW pun mengingatkan bagaimana pentingnya dunia, tanpa mengabaikan imbalan di akhirat itu. Kata beliau,” berbuatlah (bekerja keras) untuk kehidupan di dunia ini seolah kamu hidup selama-lamanya. Dan, berbuatlah (di dunia ini) untuk akhiratmu (kelak) seolah kamu akan mati besok pagi”. Artinya, kerja keras di dunia ini harus selalu mempertimbangkan resiko dan imbalan sertta pembalasan di akhirat kelak.

Dengan demikian  tidak ada dikotomi, pembeadaan kepentingan kehidupan di dunia dan kepentingan hidup di akhirat. Bahkan bisa disimpulkan kehidupan di dunia ( yang mengikuti  ajaran Allah dan Rasukl secara baik) adalah awal dari kehidupan di akhirat yang baik.

Dakwah Salah Kaprah

Sayang, materi dakwah yang disampaikan di berbagai forum jamaah cenderung membedakan bahwa agama (Islam) dengan segala ajarannya hanya untuk kehidupan akhirat. Nyaris tak pernah terdengar dai atau mubaligh bahkan guru besar sekalipun di sekitar kita yang memberikan wawasan tentang bagaimana mestinya kaum muslimin membangun kehidupan (ekonomi) di dunia supaya kewajiban dasarnya juga terpenuhi.

Pemahaman amal dan ibdah bahkan cenderung disamakan sehingga akhirnya seolah hidup kaum muslimin itu hanya untuk beribadah (sholat, puasa, zakat, dan berhaji). Padahal pengertian amilussholihat (amal yang baik) adalah bekerja dan berusaha untuk memenuhi kehidupan diri dan keluarga serta memberikan kebaikan kepada orang lain. Baik di bidang ekonomi, politik, budaya, sosial atau bidang lainnya tanpa melangar  syariat Islam.

Dampak dakwah yang salah kaprah itu dalam masyarakat cukup luas. Antara lain, seolah orang yang baik itu hanya yang rajin ke masjid, meski kebutuhan keluarganya terabaikan. Seolah orang baik itu hanya orang yang suka bersedekah, berkurban dan berzikir. Pengusaha, pedagang, kalangan pabrikan dilihat sebelah mata. Padahal Islam berkembang justru di tangan para pengusaha, pedagang dan saudagar itu. Merekalah yang banyak menyumbangkan dana pembangunan madrasah dan masjid. Mereka juga mengucurkan zakat, menyantuni anak yatim bahkan beasiswa bagi anak tak mampu.

Kini sudah selayaknya pendekatan dan materi dakwah itu diubah kearah yang memberikan pencerahan kehidupan ekonomi dan sosial budaya. Sebab, hadits yang mengatakan bahwa kefakiran (status ekonomi) mendekatkan orang pada kekafiran (status keimanan), menjadi bukti bahwa benteng iman itu sesungguhnya adalah ekonomi. (*)

 


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 704 pengikut lainnya.