Pekan Budaya Pekan

Selama sepekan, 8 hingga 14 Juli 2007 ini Sumatera Barat cq Dinas Pariwisata menggelar pekan budaya. Pekan dalam bahasa Indonesia maupun Bahasa Minang, bermakna pasar. Maka di pekan budaya itu akan digelar dan dijual benda budaya, seni budaya, dan, mestinya, juga kehidupan sosial budaya. Dan, karena dimasudkan untuk pariwisata, untung rugi pasar ini tentulah ditentukan seberapa banyak orang datang dan berbelanja budaya di pekan itu.

 

Tapi belajar dari beberapa kali pekan budaya sebelumnya, pekan budaya kali ini tampaknya tetap terjebak pada budaya pekan. Arenanya, layaknya pekan, disesaki petakan kios, lapak-lapak tempat berjualan. Mulai kaos kaki, sendal, ikat pinggang, hingga gundar gigi yang nota bene bukan produksi anak nagari akan dijual di situ. Lalu, diselang selingi penjaja makanan, mainan anak-anak, dan sebagainya

 

Produksi anak nagari sendiri, paling cuma ada di ruang pameran milik dinas instansi. Jumlahnya hanya sekedar untuk dipamerkan. Kadang tak bisa dibeli karena akan mengosongkan meja pameran. Kalaupun ada yang dijual dipesan dulu atau harganya selangit.

 

Suasana pekan budaya tak beda pameran pembangunan atau pasar malam tempo doeloe yang mencampurkan pasar, pameran dan pentas-pentas pertunjukkan. Pada pekan budaya kali ini panitia mementaskan randai, tari-tarian, saluang, salawat dulang, gamad dan lagu pop Minang.

 

Pemintnya, terutama dari kalangan muda Minang, masih diragukan. Sebab, kesenian tradisional sudah lama asing di telinga generasi muda. Turis asing pun diragukan kedatangannya karena belum pernah mencium dan mengenal kesenian tradisonal Minang  itu. Maklum,  jarang disebarluaskan baik lewat dunia maya maupun di dunia nyata.

 

Tak pelak, akhirnya pekan budaya itu hanya akan menampilkan budaya pekan. Dan, panitia pun tampaknya akan menghitung untung rugi dari berapa besar rentribusi diperoleh dari petakan kios dan lapak-lapak yang disewakan.

 

Sebenarnya pekan budaya bisa mengundang pengunjung lokal atau asing selama bukan berbentuk  pekan dalam makna pasar itu. Melainkan pekan budaya dalam makna musim di mana masyarakat secara spontan menggelar berbagai pertunjukkan kesenian di lingkungan asal kesenian itu sendiri.

Musim berksenian masyarakat Minang, karena berhubungan erat dengan kultur pertanian, adalah disebut musim padi aman. Yaitu setelah musim panen masyarakat mengelar kesenian berzanji, salawat,  randai, silat, bertalempong, saluang, main layang-layang, berbagai perlombaan. Bahkan acara khitanan, pertunangan dan pernikahan dilangsungkan di musim itu.

 

Kalaulah Dinas Pariwisata mau sedikit berkeringat, seharusnya mengagendakan kunjungan wisata di musim padi aman tersebut. tentu saja pelu membina sanggar atau kelompok kesenian di tiap nagari sehingga setiap habis panen mereka bisa menggelar pertunjukan di nagari masing-masing. Dan, jika dijadwealkan untuk kunjungan wisatawan asing tentulah amat menarik. Sebab, turis asing lebih suka  pertunjukkan kesenian di tempat asalnya ketimbang masuk pekan budaya yang bagadincik itu.

 

Di samping itu perlu disadari bahwa tujuan wisatawan, terutama turis asing, selain bersenang-senang menikmati obejk wisata, alam dan budaya, adalah berbelanja di pasar-pasar tradisional, bukan ke mall atau supermarket yang melimpah di negara asal mereka. Sayang, Dinas Pariwisata yang berkoar mengembangkan pariwisata  belum menyentuh pasar di kota-kota di Sumatera Barat, misalnya berjasama dengan Dinas Pasar atau Pemerintah Kota setempat, untuk menciptakan pasar yang rekreatif dan nyaman.

 

Pasar yang ada sekarang sungguh tak mendukung pariwisata. Bukittinggi misalnya. Meski puluhan tahun menyebut diri kota wisata namun tetap saja mengandalkan keindahan alam ciptaan Tuhan seperti Ngarai Sianok atau bangunan peninggalan Belanda dan Jepang seperti Jam Gadang, Benteng Fort de Kock, Taman Margasatwa dan Lobang Jepang.

 

Kalau menoleh ke pasarnya, Bukittinggi lebih tepat disebut kota perdagangan ketimbang kota wisata. Sebab, pasar di Bukittinggi disesaki pertokoan dan kios pedagang sehingga jangankan untuk rileks, lewat di lorong pasar itupun pengunjung tak leluasa. Tapi, memang, meski pasar tak nyaman dikunjungi, dari pertokoan dan kios itu Pemko Bukittinggi bisa mengumpulkan retribusi lebih banyak.

 

Suasana wisata terasa kian jauh di kota ini karena sulitnya areal parkir kendaraan. Malah jalan raya banyak difungsikan lahan parkir sehingga mengundang kemacetan. Aneh, memang. Sejak menamakan kota wisata, kecuali sedikit areal di atas Jenjang 40, dan memanfaatkan ruas jalan raya, Pemda Bukittinggi nyaris tak semeterpun membangun areal parkir baru.

 

Keadaan Kota Padang setali dua uang. Meski walikota tiap tahun menggelar pekan budaya, Pestival Olahraga Bahari, Lomba Perahu Naga dan apapun namanya, namun pasar sebagai tujuan utama wisatawan nyaris tak terbenahi. Pasar di kota ini semrawut dan sumpek. Jangankan kendaraan, pejalan kakipun susah masuk kawasan pasar. Keadaan itu diperburuk prilaku pedagang yang nyaris tak tersentuh prinsip pariwisata.

 

Tak heran jika rekreasi ke kota Padang, orang cuma berkeliling dan makan-makan di Bungus, Teluk Bayur, atau Pantai Padang. Lalu, meninggalkan kemasan makanan, tanpa masuk pasar, mereka kembali ke kota masing-masing. Apalagi turis asing, misalnya yang datang menggunakan agen travel dari Sumatera Utara, praktis cuma mendatangi objek wisata alam. Maka, berapapun jumlah turis ke Sumatera Barat, kecuali sewa kamar hotel, mungkin juga kripik balado, nyaris tak berdampak bagi pendapat pemerintah apalagi ekonomi masyarakat.

 

Tampaknya sudah saatnya konsep dan program pengembangan pariwisata Sumatera Barat ditinjau ulang. Pekan budaya sudah perlu direformat supaya tak selalu berbentuk pekan dan pasar malam. Kembalikan budaya itu pada masyarakat dan alamnya, objek yang sesungguhnya diminati orang asing. Dinas pariwisata cukup mengatur kelender, lalu, sebarkan ke seluruh dunia lewat internet dan media lainnya. Asal tepat janji dan memberikan pelayanan yang baik Sumatera Barat takkan sepi pengunjung.

Sudah waktunya pula promosi budaya dengan cara mengunjungi nagara lain dihentikan. Sebab, misi itu lebih bermafaat bagi yang berkunjung ketimbang negara yang dikunjungi. Dan hasilnya bagi pariwisata  Sumatera Barat pun takkan lebih besar dari biaya yang dihabiskan.***

4 Balasan ke Pekan Budaya Pekan

  1. Budi Putra mengatakan:

    Selamat ngeblog Bang Fahrul!

  2. JER mengatakan:

    Mantap Da, keren blog nyo.
    Sabana gagah
    Salamaiklah….!

  3. Fadli mengatakan:

    Mohon dukungannya untuk project pendokumentasian secara online lirik-lirik lagu minang periode 1950-1995
    Info selanjutnya silahkan klik link berikut ini
    http://laguminanglamo.wordpress.com/about/
    dan
    http://laguminanglamo.wordpress.com/undangan-berkontribusi/

  4. max mengatakan:

    Agiah Pak….. sabana segeh🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: