Garuda Haji Akal-Akalan Saudi

Minggu 22 Juli 2007

Oleh Fachrul Rasyid HF

Menteri Agama (Menag) Maftuh Basyuni menganggap rencana pelarangan penerbangan Garuda Indonesia ke Arab Saudi oleh pemerintah setempat merupakan penghinaan atas kerja sama yang sudah terjalin sangat erat antara kedua negara. Karena itu Menag balik mengancam tidak akan memberangkat jamaah haji Indonesia tahun ini.

Meski reaksi Menag mengundang pro dan kontra, namun jika dicermati secara objektif perlakuan pemerintah Arab Saudi terhadap Garuda Indonesia, apalagi terhadap jamaah haji Indonesia selama ini, memang seharusnya Pemerintah Indonesia menunjukkan sikap keras dan tegas sejak beberapa tahun silam.

Pemerintah Arab Saudi tentulah amat sadar betapa besar dampak ekonomi kehadiran jamaah haji Indonesia yang sejak sepuluh tahun terakhir rata-rata 200 ribu setahun. Setidaknya sampai 40 hari puluhan hotel di Makkah, Madinah dan Jedah, terjual. Juga penyewaan tenda di Arafah dan Mina. Selama itu pula sekitar 100 bus dicarter. Opelet dan taksi juga menangguk keuntungan. Pertokoan dan restoran, perusahaan katering, pedagang ternak, penjual makanan dan bahkan tukang pangkas menimba rezeki siang dan malam dari jamah haji.

Anehnya, di saat itu pula bangsa Arab terus melecehkan bangsa dan umat Islam Indonesia yang berhaji. Bayangkan, pesawat Garuda Indonesia pengangkut jamaah haji cuma boleh mendarat di Bandara King Abdul Aziz di Jedah. Dan itupun, tidak seperti jamaah haji negara lain, jamaah haji Indonesia diturunkan di ujung landasan dan diangkut pakai bus ke terminal.

Kecuali menumpang pesawat Saudia Air Lines, jamaah haji penumpang Garuda meski mengakhiri ibadahnya di Madinah, tidak dibolehkan kembali lewat Bandara Amir Muhammad Bin Abdul Aziz di Madinah. Jamah haji penumpang Garuda mesti kembali naik bus sekitar 700 kilomreter dari Madinah ke Bandara King Abdul Aziz, Jedah.

Pelecehan terhadap bangsa Indonesia kian terasa ketika terjadi kasus kelaparan jamaah haji Indonesia saat wukuf di Araf pada musim haji tahun lalu. Kasus itu terjadi tak lain karena pengusaha katering, salah pangeran kerajaan Arab Saudi yang tadinya menyanggupi kosumsi seluruh jamaah haji Indonesia, tiba-tiba membatalkan kontrak secara sepihak.

Pelecehan itu malah makin leluasa saat jamah haji, terutama wanita, berada di hotel-hotel dan di pasar-pasar Makkah dan Madinah. Meski dalam kontrak hotel jamah haji tidak boleh dalam kedaan tersewa kepada orang lain, nyatanya masih sering ditemukan kamar hotel disewakan kepada orang lain. Lalu, di pasar-pasar. Jamaah hajjah Indonesia, diejek dengan sebutan Siti Rahmah, diperlakukan sebagai bangsa kelas dua dan bahkan seakan dianggap bukan muslimah. Para pedagang dan pelayan toko enaknya saja mencaci maki atau meraba-raba tubuh hajjah Indonesia. Hal yang tak pernah dilakukannya terhadap jamaah negara lain.

Tak heran kalau jamah haji Indonesia, terutama wanita, jadi korban pelecehan seksual terbesar tiap tahun. Tahun lalu misalnya, Ketua Tim Pengamanan Jamaah Haji Indonesia mencatat lebih 1000 kasus pelecehan seksual terhadap hajjah Indonesia, termasuk oleh polisi Arab Saudi. Belum lagi kasus perampokan, percobaan perkosaan, penculikan yang disertai perkosaan dan pembunuhan yang tiap tahun menimpa puluhan jamaah hajjah Indonesia.

Karena itu dalam tulisan saya catatan perjalan haji (Haluan 20 April 2007) saya ingatkan agar Pemerintah Indonesia cq Menag dan Pemerintah Arab Saudi membicarakan langkah-langkah konkret mengantisipasi perlakuan buruk tersebut. Bahkan kalau perlu, jamaah haji Indoneisa tidak hanya didampingi pembimbing haji, tapi juga anggota polisi.

****

Sementara ancaman terhadap penerbangan Garuda bisa dilihat dari dua sisi, kontstelasi permain politik internasional di bawah kendali Amerika dan kepentingan perusahaan penerbangan Arab Saudi sendiri. Isu pelarangan bagi penerbangan Indonesia, seperti diketahui berawal dari Uni Eropa. Negara-negara Uni Eropa menebar ancaman dengan dalih keselamatan penerbangan mengingat banyaknya penerbangan Indonesia yang mengalami kecelakaan.

Sikap Uni Eropa itu, sesuai keinginan Amerika, selain sebagai upaya menekan Indonesia dalam konteks isu nuklir Iran dan isu terorisme, juga bermotiv bisnis. Pertama dimaksudkan agar perusahan penerbangan di Indonesia mengganti pesawatnya dan membeli peswat baru buatan Eropa. Kedua, agar para turis asing yang kian meramaikan Indonesia beralih menggunakan pesawat milik perusahaan Eropa atau Amerika.

Sebagai bekas jajahan Inggris, Pemerintah Arab Saudi, memang tunduk di bawah kendali Inggirs dan sekutunya Amerika. Toh, di balik itu pemerintahan Arab Saudi juga memainkan kartu bisnis. Jika Garuda memang dilarang ke Arab Saudi, otomatis seluruh jamaah haji Indonesia akan diangkut Saudia Air Lines. Tampaknya, demi keuntungan itu, kalau ancamannya terlaksana, pemerintah Arab Saudi, rela mengorbankan hubungan historis, religius, dagang dan hubungan diplomatiknya dengan Indonesia.

Namun mengingat ribuan kali penerbangan Garuda Indonesia ke Arab Saudi selama sepuluh tahun terakhir yang nyaris tak pernah mengalami gangguan, ancaman itu setidaknya digunakan Pemerintah Arab Saudi untuk menekan Indonesia mengurangi jatah penumpang Garuda dan membesar jatah Saudia Air Lines.

Maka, akal-akalan pemerintah Arab Saudi tersebut sangat pantas dihadapi dengan tegas. Menag Maftuh Basyuni wajar balik mengancam tidak akan memberangkat jamaah haji Indonesia tahun ini. Bukan hanya karena alasan penerbangan Garuda, tapi juga karena banyaknya gangguan keamanan yang dialami jamaah haji Indonesia di Arab Saudi selama ini. Bukankah gangguan perjalanan karena kesulitan angkutan perbangan dan ancaman keselatamatan jiwa jamaah haji Indonesia selama di Arab Saudi itu, cukup alasan menyatakan perjalan haji tidak aman sehingga menggugurkan kewajiban orang berhaji?

Saya juga melihat isu larangan bagi Garuda itu merupakan kesempatan bagi Indonesia sebagai bangsa yang berdaulat dan bermartabat dan pemeluk Islam terbesar di dunia, bernegosiasi dan sekaligus menuntut perlakuan buruk bangsa Arab terhadap jamaah haji Indonesia selama ini. Inilah saat yang tepat bagi Menag menunjukkan kepada bangs Arab bahwa bangsa ini bukan bangsa kelas dua dan tanah suci Makkah dan Madinah itu bukan hanya milik pemerintah Arab Saudi.(*)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: