Perguruan Tinggi dan Otonomi

Oleh Fachrul Rasyid HF

 

Mengembalikan Semangat dan Krakter Intelektual islami pada Segenap Kader. Inilah tema diskusi yang digelar Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Padang di Wisma HMI Jalan Hangtuah Padang, Selasa sore pekan lalu.

 

Kebetulan saya diundang sebagai pembicara bersama Gubernur Gamawan Fauzi, SH dan Buya H. Mas’ud Abidin. Hadir pula Walikota Padang, Drs. Fauzi Bahar, yang sebelumnya memberikan sambutan pada acara pelantikan pengurus baru HMI Cabang Padang.

 

Tema diskusi itu tentu saja jadi bukti bahwa telah hilangnya semangat dan krakter intlektual islami di kalangan HMI.  Karena itu tak heran jika pembicaraan yang berkembang, baik yang disampaikan para pembicara maupun sambutan walikota, langsung ke soal kaderisasi inteletual di kalangan HMI itu.

 

Terungkap misalnya,  bahwa kaderisasi intlektual islami di HMI jadi stagnan karena HMI kehilangan arah orentasi. Di satu pihak HMI terus menyuarakan kaderisasi intlektual islami, di pihak lain para senior HMI terus menggiring yuniornya ke tujuan-tujuan politik jangka pendek. Antara lain, memburu kursi DPRD atau jabatan birokrat. 

 

Akibatnya, HMI sebagai organisasi mahasiswa yang mestinya andal dengan pembinaan sikap serta prilaku intlektual terjebak ke dalam prilaku pedoalisme, birokratisme dan materilistik.

 

Hampir selama 15 tahun terakhir anggota HMI sebagai calon intlektaul islami maupun para alumninya sebagai kalangan intelektual nyaris tak memperlihatkan kepedulian sosial islami. Apalagi melakukan pembinaan masyarakat islami. Itu sebabnya kenapa jarang sekali muncul respon intlektual dari HMI maupun alumi HMI sebagai lembaga kaderisasi, baik terhadap kebijakan pemerintah daerah maupun terhadap penyimpangan prilaku sosial.

 

Walikota Fauzi Bahar misalnya menyebut sejumlah kebijakan pemerintah kota. Baik yang bersifat pengembangan ekonomi maupun pembinaan masyarakat islami. Sayang, kata Fauzi, belum satu pun partisipasi, konsatribusi maupun koreksi dari HMI. Padahal, katanya, HMI bukan hanya bisa memberikan responnya tapi juga dapat ambil bagian membangun masyarakat yang islami di kota ini.

 

Dalam konteks yang lebih luas Gubernur Gamawan pun menyoal bagaimana penyimpangan prilaku sosial saat merespon berbagai kebijakan dan gagasan dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Bahkan ada kelompok masyarakat yang menolak apa yang sesungguhnya mereka tuntut. Namun, HMI sebagai organisasi kader yang berbasis pada intelektulitas tidak memberikan responnya sehingga  masyarakat bisa terdidik cerdas menanggapi perkembangan.

 

Saya melihat, meski diskusi itu menyoal kader HMI, pada dasarnya yang diungkapkan para pembicara, termasuk walikota Padang, adalah prilaku umum kalangan akademisi perguruan tinggi di Sumatera Barat. Ada sekitar 40 perguruan tinggi di Padang dengan sekitar 86 ribu mahasiswa dan 3 ribu dosen, diantaranya sekitar 350 orang bertitel profesor doktor.

 

Perguruan tinggi sebesar itu bagi Sumatera Barat yang cuma berpenduduk sekitar 5 juta jiwa mestinya sangat besar artinya. Didukung ketersediaan media komunikasi seperti surat kabar, televisi dan radio, seharusnya perguruan tinggi mampu mewarnai kehidupan dan prilaku  sosial dan kebijakan pemerintahan di daerah ini, terutama sejak pemerintahan otonomi daerah.

 

Sayang,  kecerdasan emosional dan tingkat kepedulian kalangan akademisi perguruan tinggi kita rendah sekali. Sebut misalnya, bidang penegakkan hukum. Paling tidak ada lima fakultas hukum di Sumatera Barat. Tapi tak satupun yang berusaha mengkritisi penyimpangan penegakkan hukum di daerah ini.

 

Lucu memang, selama ini ada anggapan bahwa pengabdian dan kepedulian  perguruan tinggi dilihat dari keterlibatanya dalam proyek penelitian, kerjasama seminar dengan pemerintah daerah sebagai bentuk partisipasi, konstribusi kepedulian perguruan tinggi terhadap daerah. Padahal itu adalah proyek yang nota bene berujung uang. Tak heran kalau masyarakat yang tak punya proyek dan tak punya uang tidak tersentuh oleh kalangan akademisi.

 

Tampaknya, sudah saatnya rektor-rektor perguruan tinggi melakukan reorentasi kemasyarakatan sehingga alumni perguruan tinggi juga punya kepedulian sosial. Mudah-mudahan para akademisi dan alumni perguruan tinggi tidak hanya berpikir proyek dan jadi pegawai negeri tapi berpikir tentang kehidupan masyarakat dan mampu membuka lapangan kerja di masyarakat.***

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: