“Alek” Dinanti Orang Mati

Oleh Fachrul Rasyid HF

Seorang bocah berusia sekitar sembilan tahun Ahad pekan lalu ikut orang tuanya menghadiri pesta penikahan. Duduk di kursi bagian belakang mobil ia terus membolak balik lembaran kertas undangan. Begitu mendekati rumah yang dituju si anak mendadak berubah pucat dan ketakutan. Sembari menangis ia meronta-ronta minta orang tuanya cepat-cepat balik pulang.

Meski tak mengerti apa yang terjadi, namun karena takut dipermalukan di depan orang ramai, sang ayahpun banting setir. Sampai di rumah, anak terus dibujuk agar menceritakan apa yang terjadi. Toh, si anak bungkam. Ia cuma menunjuk ke arah kertas undangan tadi dari kejauhan.

Kertas undangan itu pun di bolak balik. Tapi kedua orangtuanya tak menemukan sesuatu yang aneh di situ. “Orang mati,” teriak si anak tiba-tiba. Si ayah pun jadi paham. Rupanya, yang ditakutkan anaknya adalah kedua orang tua mempelai yang dicantumkan di bawah kata “hormat kami yang menanti”. Di situ tertulis: Si Anu – ayah (alamrhum,) Si Ani – ibu (almarhumah).

Bagi si anak sebutan almarhum/almarhumah, sesuai pelajar agama di sekolah, adalah sebutan untuk pria dan wanita muslim yang telah meninggal. Ia menganggap “penanti” di pesta yang akan dikujunginya termasuk orang yang telah wafat. Ia jadi ngeri karena dalam film-film horor, orang mati yang bergentayangan sangat menakutkan.

Percaya atau tidak cerita itu, pertanyaannya adalah kenapa orang yang telah wafat masih dicantumkan dalam daftar “penanti” pesta? Kedua orang tua anak tadi tak tahu alasannya. Saya pun bingung menjawabnya. Padahal, meski tak masuk akal, lucu dan menggelikan, nyaris tiap kertas undangan pesta perkawinan selama ini mencantumkan nama orang tua, bahkan kakek nenek mempelai yang telah meninggal.

Urusan itu tampaknya sepele dan sepenuhnya hak sepembuat undangan. Namun setelah adanya kasus anak di atas sebaiknya pencantuman nama orang yang telah wafat pada daftar “penanti” udangan ada baiknya dipertimbangkan lagi. Paling tidak karena cara itu mengusik akal sehat kita.

Saya menduga maksud pencantuman nama orangtua, atau siapa saja yang dianggap perlu, pada kertas undangan itu untuk memudahkan tetamu mengenal mempelai. Boleh jadi, orang cuma kenal ayahnya dan tak kenal anaknya. Atau untuk menunjukkan bahwa si mempelai adalah anak keluarga terhormat, orang besar dan sebagainya.

Apabila benar demikian maksudnya, tentu sebaiknya nama almarhum atau almarhumah bukan ditaruh pada daftar para “penanti”. Mungkin lebih tepat ditulis/ dijelaskan pada bagian jatidiri kedua mempelai. Misalnya ditulis, Drs. Insan Kamil, MM, putera almarhum/ almarhumah A dan B. Dengan cara itu para udangan tahu bahwa si Kamal yang menikah adalah anaknya almarhum/ almarhumah.

Tapi, jika cara –cara seperti selama ini masih diteruskan, dikhawatirkan nanti ada saja tamu yang usil atau benar-benar percaya alamarhum/ almarhumah ikut jadi “penanti” pesta. Ia minta diperkenalkan sama almarhum dan almarhumah. Lalu, mengajaknya berfoto bersama mempelai. Nah, siap, tidak? (*)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: