Wanginya Kemeyan Putih Ulakan

Opini Singgalang Rabu 5 Maret 2008

Oleh Fachrul Rasyid HF

Berzirah ke makam Syekh Burhanuddin di Ulakan, Padang Pariaman, pengunjung selalu disambut penjaja kemeyan putih. Kemeyan itu biasanya dibakar kala para tuanku penjaga makam membaca do’a yang dimohonkan pengunjung. Kalau mau juga boleh dibawa pulang dibakar saat berda’o di rumah masing-masing.

Musim ”basafa”, apalagi bersamaan pemilihan umum legislatif, pemilihan presiden atau pilkada, adalah masa-masa panen penjual kemeyan itu. Kala itu para pejabat, politisi dan pengurus partai silih berganti ke Ulakan. Mereka tak sekedar membeli kemeyan dan berdoa tapi juga berusaha merebut simpati jamaah Tarekat Satariyah, pengikut setia Syekh Burhanuddin yang datang dari berbagai provinsi.

Dulu, di Era Orde Baru, musim “basafa” di Ulakan selalu dimanfaatkan Golongan Karya (Golkar). Para pejabat pemerintahan dari pusat, provinsi dan kabupaten yang memang merangkap pengurus Golkar ramai-ramai ke Ulakan. Maklum, jamaah Satariyah umumnya berhimpun di bawah Persatuan Tarbiyah Islamiyah dan Tarbiyah bernaung di bawah Golkar. Kala itu Ulakan seakan menjadi basis Golkar.

Karena itu takj aneh jika Jendral (Purn) Wiranto saat jadi calon presiden dari Partai Golkar, sebelum putaran pertama pemilihan presiden awal tahun 2004 silam, berkunjung ke Ulakan dan berdoa di depan makam Syekh Burhanuddin.

Tapi, setelah reformasi, Ulakan pun tampaknya semakin terbuka. Tak cuma pengurus Golkar yang datang berziarah, para petinggi PDIP, misalnya Taufik Kiemas suami mantan Presiden Magawati Sukarno Puteri, juga berkunjung ke Ulakan. Saat kampanye calon presiden putaran kedua MegawatiHasyim Muzadi, 13 September 2004 silam, Taufik Kiemas datang ke Ulakan melatkkan batu pertama pembangunan Masjid Syek Burhanuddin.

Rombongan Taufik disambut pejabat daerah dan disertai sejumlah “tokoh” partai dan pejabat aktif di tingkat nasional yang berasal dari Minang. Antara lain Prof. Dr. Azumardy Azra, kala itu Rektor UIN Jakarta, asal Lubuk Alung. Seperti lazimnya dalam kampanye, Taufik pun menebar janji. Katanya, bila Megawati terpilih lagi jadi presiden, putera-putera terbaik Minang akan diprioritaskan duduk di kabinet. Untuk Azumardy misalnya disebut-sebut jabatan Menteri Pendidikan.

Lantas apakah itu berarti Ulakan yang dulu basis Golkar telah beralih jadi basis PDIP? Ternyata Rabu 20 Febaruari 2008 lalu, giliran mantan presiden Abdurrahman Wahid (Gus Dur), yang juga Ketua Umum PB NU dan Ketua Majelis Syura Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) mengunjungi Ulakan.

Seperti tokoh lainnya, Gus Dur pun disambut ribuan jamaah Stariyah. Saat itu Gus Dur, seperti ditulis media dan ditayangkan televisi, menyatakan antara tarekat Naqsabandiyah yang dominan di Jawa dan tarekat Satariyah yang mendominasi Ulakan, sama -sama NU. Dan, jamaah Satriyah diharapkan memilihnya dalam pemilihan presiden nanti. Esoknya, Kamis 21 Febaruari, Gus Dur membuka Musyawarah Kerja Wilayah DPW PKB Sumatera Barat di Padang. Apakah itu berarti Ulakan (Jamaah Satariyah) kini sudah jadi basis PKB?

Jawaban datang dari Tuanku Ali Imran salah seorang ulama Ulakan. Katanya, seperti dikutip NU Online (21/02/08) kunjungan Gus Dur ke makam Syekh Burhanuddin tak jauh berbeda dengan peziarah lainnya, yakni berziarah ke makam ulama besar Syekh Burhanuddin.

Tuanku Ali seolah mengingatkan bahwa makam Syekh Burhanuddin memang terbuka bagi penziarah dari mana saja. Mereka juga boleh memanfaatkan kunjungannya untuk tujuan politik. Tapi, siapa pun yang datang, lalu, menyumbang, misalnya, jangan lantas merasa sudah “memiliki” Ulakan.

Sikap itu mungkin sama halnya dengan sikap Muhammadiyah kala menerima Hasyim Muzadi, saat itu Ketua Umum (nonaktif) PB NU, berkhutbah Jumat dan menyumbang di Masjid Taqwa Muhammadiyah, Padang, dalam rangka kampanye calon presiden awal September 2004. Toh, setelah itu Muhamadiyin tak lantas menjadi Nahdiyin dan atau memenangkan pasangan Megawati – Hasyim.

Tuanku Ali terkesan sangat arif. Ia seakan memberi isyarat agar seluruh kelompok Islam bersikap terbuka terhadap semua pihak. Kelompok masyarakat Islam boleh saja jadi rebutan partai politik dan politisi tapi mereka harus tegas bersikap dan istiqamah dalam berpolitik.

Isyarat Tuanku Ali tampaknya memang diperlukan. Kelompok –kelompok Islam sudah saatnya menjadi subjek dan penentu arah politik. Baik saat pemilu legislatif, pemilu calon presiden apalagi dalam pemilihan kepala daerah. Umat Islam harus arif mencermati niat para politisi yang tiba-tiba manabur kebaikan.

Jika memang mereka orang yang punya niat baik, tentulah prilaku, kebijakan dan kinerjanya selama ini akan baik. Mereka tentu bukan hanya berbuat baik saat pemilu dan pilkada. Sudah banyak surau, madrasah, pesantren dan yayasan pendidikan Islam yang terombang-ombing tarik menarik partai politik akhirnya hanyut dan tenggelam bak perahu tanpa kemudi.

Tuanku Ali seakan bicara pada kita bahwa, Ulakan boleh ramai, kemeyan putih boleh laku dan wanginya boleh merebak, tapi sikap dan pendirian jamaah Satariyah tak boleh beranjak. Artinya, “Gelanggang bulieh rami, tapi janang tatap di awak”.(*)

3 Balasan ke Wanginya Kemeyan Putih Ulakan

  1. myrazano mengatakan:

    Politik. politik. politik
    itulah politik yang selalu memanfaatkan celah dari setiap kesempatan yang ada

    salam kenal dari : http://myrazano.com

    mohon kunjungannnya

  2. Hamdi mengatakan:

    Kok ziarah,sia sajo berhak,niek di hati jan tagalincie,salam kawan sadonyo,alumni sma 1 pariaman,dima kini kalian sadonyo,ambo d medan kini.terutama ante d toboh palabah

  3. Hamdi mengatakan:

    Ambo taragak juo kasitu,cuma alun sempat lai,a kaba kawan d piaman sado alahe,ante d toboh palabah,khairul nan d ulakan,ambo d medan kini

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: