HAMKA, Sosok Ideal Seorang Ulama

Teras Utama Padang Ekspres 26 Desember 2007

Oleh Fachrul Rasyid HF

Haji Abdul Malik bin Abdul Karim Amrullah (HAMKA) lahir 17 Februari 1908 di Sungai Batang, Maninjau. Kelas dua Sekolah Rakyat (sekarang SD) di Maninjau, ia pindah ke Sumatera Thawalib Padangpanjang, sekolah yang didirikan ayahnya Syekh Abdul Karim Amrullah, disamping terus mendalami ilmu agama (usul fikih) pada Syekh Ibrahim Musa, Parabek.

Usia 19 tahun Hamka jadi guru agama di Perkebunan Tebing Tinggi, Sumatera Utara. Dua tahun di situ ia balik mengajar di Padangpanjang. Tahun 1957/1958 Hamka diangkat jadi dosen Universitas Islam, Jakarta dan Universitas Muhammadiyah, Padangpanjang. Lalu jadi Rektor Perguruan Tinggi Islam, dan guru besar Universitas Mustopo, Jakarta.

Bersamaan dengan itu (1951-1960) Hamka diangkat jadi Pegawai Tinggi Agama. Namun, ketika Presiden Soekarno mendesak memilih tetap jadi pegawai atau terus aktif di Partai Majlis Syura Muslimin Indonesia (Masyumi), Hamka memilih melepaskan jabatan itu. Mahir berbahasa Arab, Hamka secara otodidak menguasai ilmu filsafat, sastra, sejarah, sosiologi dan politik Islam maupun Barat. Ia mampu menganalisa karya ulama dan pujangga besar Timur Tengah. Bahkan karya sarjana Perancis, Inggris dan Jerman. Misalnya, karya Albert Camus, William James, Sigmund Freud, Arnold Toynbee, Jean Paul Sartre, Karl Marx dan Pierre Loti.

Toh, Hamka tak mengurangi berdiskusi dengan tokoh Indonesia, misalnya, HOS Tjokroaminoto, Raden Mas Surjopranoto, Haji Fachrudin, Ar Sutan Mansur dan Ki Bagus Hadikusumo.

Sejak muda Hamka aktif di organisasi pergerakan Islami Muhammadiayah. Usia 20 tahun (1928) Hamka sudah ketua cabang Muhammadiyah Padang Panjang. Ia mendirikan pusat latihan dakwah Muhammadiyah. Dua tahun kemudian ia jadi konsul Muhammadiyah di Makassar.

Tahun 1946 Hamka terpilih jadi Ketua Majlis Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Sumatera Barat menggantikan S.Y. Sutan Mangkuto. Hadir pada Kongres 31 Muhammadiyah di Yogyakarta 1950, Hamka berksempatan mereformasi pola pembangunan Muhammadiyah. Pada tahun 1953, Hamka dipilih sebagai penasehat pimpinan Pusat Muhammadiah.

Hamka juga politikus. Usia 17 tahun ia sudah aktif di partai Sarekat Islam. Tahun 1945, tak cuma berpidato membakar semangat para pemuda, Hamka bahkan ikut bergelirya di hutan-hutan Sumatera Utara, melawan kembalinya (Agresi I) Belanda ke Indonesia. Atas kepahlawannya itu (1947) ia diangkat jadi ketua Barisan Pertahanan Nasional Indonesia. Kemudian jadi anggota Konstituante (DPR) dari Masyumi dan tampil sebagai juru kampanye andal pada pemilu pertama, tahun 1955.

Tahun 1960 Masyumi dilarang Pemerintahan Soekarno dan Hamka dipenjarakan tahun 1964-1966 atas tuduhan pro-Malaysia. Selama dipenjara itu beliau mulai menulis Tafsir al-Azhar, salah satu karya ilmiahnya yang terbesara.

Keluar penjara, Hamka diangkat jadi anggota Badan Musyawarah Kebajikan Nasional, anggota Majelis Perjalanan Haji Indonesia dan anggota Lembaga Kebudayaan Nasional. Hamka kemudian mendirikan perguruan Al-Azhar dan berbasis di Masjid Al Azhar, Jakarta.

Selain pendidik, ulama, politikus, dan pejuang, Hamka juga dikenal sebagai wartawan, penulis, editor dan penerbit. Masih berusia 12 tahun (1920) ia telah menulis di beberapa surat kabar. Anatara lain, Pelita Andalas, Seruan Islam, Bintang Islam dan Seruan Muhammadiyah. Tahun 1928 (usia 20 tahun) ia sudah jadi redaktur Majalah Kemajuan Masyarakat. Lalu, 1932, redaktur dan penerbit Majalah al-Mahdi di Makasar, berlanjut jadi redaktur Majalah Pedoman Masyarakat dan Gema Islam terakhir Majalah Panji Masyarakat.

Hamka juga terkenal sebagai seniman dan sastrawan. Selain menghasilkan karya ilmiah Islam, misalnya, Tafsir al-Azhar (5 jilid) ia juga pengarang kreatif seperti novel dan cerpen (79 karangan). Diantara karyanya, novel Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck, Di Bawah Lindungan Kaabah dan Merantau ke Deli, malah jadi buku teks sastera di Malaysia dan Singapura.

Tak heran jika Hamka kemudian mendapat berbagai anugerah tingkat nasional dan internasional. Antara lain, gelar Doctor Honoris Causa dari Universitas al-Azhar (1958) Doktor Honoris Causa, dari Universitas Kebangsaan Malaysia (1974) dan gelar Datuk Indomo dan Pengeran Wiroguno dari pemerintah Indonesia. Hamka berpulang ke rahmatullah 24 Juli 1981, meninggalkan nama harumnya di seluruh Nusantara, Malaysia dan Singapura.

Kini ulama seperti Hamka dan sejumlah ulama Minangkabau, mulai Syekh Khatib Ali (1852-1936), Syekh Djamil Djambek, Bukittinggi (1862-1947), Syekh Abbas Abdullah, Padangjapang, 50 Kota (1884-1954), dan Syekh Zainuddin Labay Elyunusia (1890-1924), Syekh Nasharuddin Thaha (1908-1979) nyaris tidak ada lagi.

Padahal kini di IAIN Imam Bonjol Padang terdapat 21 dosen bergelar profesor dan 8 doktor dan sekitar 200 dari 270 dosen bergelar master bidang agama. Dan, menurut Kakanwil Depag di Sumatera Barat terdapat 3000 ulama. Ironisnya di tengah sejumlah besar ulama itu muncul isu kelangkaan ulama di daerah ini. Kenapa?

Meski secara harfiah mereka dapat disebut ulama, namun mereka tak mendapat pengakuan sebagai pemimpin dan panutan karena tidak memiliki 13 indikator yang terdapat pada ulama terdahlu. Lihat tabel berikut :

Ulama Panutan/ Hamka

Indikator

Ulama Sekarang

prilaku terpuji, terbuka dan dikenal luas

Kepribadian

tertutup dan tak dikenal

kebiasaan dan prilaku anak dan istri terpuji

Keluarga

banyak tak mendukung keulamaan

punya kepedulian sosial, peka dan responsif terhadap pekembangan

Kepedulian

rendah, kurang peka dan tak berani merespons perkembangan

teruji dalam berbagai hal

Kecerdasan

jarang teruji di depan publik

teruji secara moril, marteril dan an intlektual

Kejujuran

jarang secara moril, materil dan intlektual

teruji dalam berbagai situasi dan kondisi

Keberanian

tak teruji, bahkan banyak yang kehilangan keberanian

menguasai bahasa Arab dan punya spesialisasi ilmu

Kompetensi Keilmuan

tak banyak menguasai bahasa Arab/ spesialisasi ilmu tak jelas

bersikap,dan berusaha bukan pegawai negeri

Kemandirian

tak mandiri dalam bersikap, berusaha, sebagain besar pegawai negeri

imam tetap sholat jamaah, pemimpin organisasi sosial dan politik

Kepemimpinan

tak punya jamaah tetap, jarang memimpin organisasi sosial/politik

masyarakat dan negara, agama, dan urusan duniawi

Konsultan masyarakat

tidak berada di tengah-tengah masyarakat

guru,mubaligh, berbasis di masjid dan madarasah

Kependidikan

banyak jadi guru, mubalig keliling. Tak punya basis masjid atau madrasah

berfikir, bersikap, berpendapat dan bertindak

Konsisten

cenderung tak istiqamah berpendapat dan bersikap

punya sejumlah buku, artikel/karangan di bidangnya (79 judul)

Karya tulis

hanya menulis skripsi, buku internal, jarang punya karya tulis buku/ artikel untuk publik

Kalaupun diantaranya memiliki kompetensi keilmuan, tapi mereka tak memiliki jamaah dan tidak berbasis di masjid. Boleh jadi juga punya kepribadian dan keluarga yang baik, namun kepedulian dan kepekaan sosial rendah sekali. Bahkan diantaranya ada yang asosial.

Tak mustahil mereka adalah orang yang cerdas dan jujur namun karena tidak punya keberanian, eksistensi dan integritas tak pernah teruji, mereka tak dikenal, tak dihargai apalagi jadi panutan. Lebih dari itu rata-rata ulama sekarang hanyalah mubaligh dari mimbar ke mimbar alias mubaligh keliling.

Jarang sekali menemukan ulama sekarang menghasilkan karya tulis yang menjawab perkembangan dan bisa dibaca masyarakat. Padahal dibandingkan zaman dulu, dengan teknologi dan perkembangan media massa sekarang sepantasnya para ulama sekarang menghasilkan karya tulis untuk membuktikan integritas dan intlektualitas mereka sebagai ilmuan dan ulama.

Jika kini ulama terasa kian langka tak lain juga karena ulama yang ada jarang menampilkan kepribadian, keluarga sikap dan kepedulian, kejujuran, kecerdasan, keberaniannya di tengah masyarakat. Konsekwensinya mereka sulit mendapat pengakuan sebagai ulama pemimpin, tauladan dan panutan.

Maka, benarlah apa yang dikatakan Ketua MUI Sumatera Barat, alamrhum Buya Haji Muhammmad Daud Dt. Palimo Kayo awal tahun 1981 silam. Katanya, ulama sekarang hanyalah ulama yang diulamakan.(*)

Satu Balasan ke HAMKA, Sosok Ideal Seorang Ulama

  1. zuri mengatakan:

    Juga banyak ulama yang mengulamakan dirinya sendiri

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: