Kebebasan (Melibas) Beragama

Opini Singgalang Rabu 13 Februari 2008

Oleh Fachrul Rasyid HF

Ketika terjadi penangkapan pengikut aliran sesat Alqiyadah Alislamiyah di Jakarta dan di Padang awal Oktober 2007 lalu, atas tuduhan melanggar pasal 156a KUHP tentang penodaan agama, muncul protes dari mereka. Komnas HAM Sumatera Barat pun melayangkan protes kepada Kapoltabes Padang, MUI Sumatera Barat, 23 dan 25 Oktober 2007. Dalam surat yang ditembuskan ke presiden itu Komnas HAM menduduh polisi dan MUI melanggar hak asasi manusia tentang kebebasan beragama.

Protes serupa juga muncul setiap kali umat Islam memprotes dan melarang aliran Ahmadiyah di beberapa daerah, termasuk di Padang. Bahkan, ketika pelaku penculikan, pembabtisan dan pemerkosaan Khairiyah Eniswah alias Wawah, siswa kelas II MAN- 2 Padang, dihukum pengadilan September 1999, juga dianggap melanggar kebebasan beragama dan melanggar hak asasi manusia.

Sebetulnya, banyak praktek penyiaran agama dan pendirian rumah ibadah, setidaknya di Sumatera Barat, yang diprotes umat Islam selama ini. Dan, setiap protes itu muncul, umat Islam dan aparat penegak hukum serta pejabat Pemda dituduh melanggar kebebasan beragama dan hak asasi manusia.

Tuduhan itu misalnya muncul ketika masyarakat Islam memprotes Dokter Robert Owen dari Amerika Serikat yang membuka klinik pengobatan di Bukittinggi 1963 yang mengubah klinik jadi tempat penyebaran brosur-brosur, lalu, tahun 1972 bersama Ross B. Fryer Jr, juga dari Amerika mendirikan Rumah Sakit Imanuel. Kemudian ketika terjadi penyulapan rumah kediaman jadi rumah ibadah di kota Solok tahun 1998.

Begitu juga ketika umat Islam memprotes pembangunan rumah ibadah oleh Yohanes Lazzardi SX , di desa Bangunrejo Kinali, Pasaman, tahun 1989. Sebab, rumah ibadah itu hanya 40 meter di depan Masjid Nurul Huda. Lagi, sesuai perjanjian ninik mamak dan Jawatan Transmigrasi Tahun 1962, tanah disitu hanya diperuntukkan bagi transmigran muslim.

Lalu, bagaimana umat Islam tidak marah menyaksikan Ralph Charles Lewis Jr dari Amerika datang ke desa Batanghari di tepi Danau Di Atas, Solok tahun 2000, menyebarkan 2.163 Injil berbahasa Minang. Pejabat Imigrasi Padang pun mengusirnya dari Sumatera Barat 21 Mei 2001.

Hal yang sama terjadi pada Robert Anthony Adam, 32 tahun, asal Ohio, AS, dan istrinya Tracy, yang ketahuan mengirim 32 anak transmigrasi Lunang ke pusat Kristen di Magelang. Pada 12 Juli 2002 kedunya diusir pejabat Imigrasi Padang.

Banyak lagi yang bisa diungkapkan, termasuk penyiaran agama lewat sihir/ kesurupan yang menimpa mahasiswa IAIN dan Universitas Andalas Padang, mahasiswa Politani Tanjung Pati, dan siswi MAN 2 Payakumbuh, dan beberapa siswi SMA Tungkar Payakumbuh dan siswa Pesantren Khairul Ummah, Tunggul Hitam, Padang, sekitar tahun 2002 /2004.

Indonesia disepakati bukan negara teokrasi dan bukan negara sekuler. Artinya, bukan negara agama dan bukan pula negara bebas beragama bebas. Karena itu negara menjamin dan mengatur hubungan antar umat beragama agar tidak menggangu kehidupan bernegara. Inilah yang diatur melalui Surat Keputusan Bersama (SKB) Menteri Agama dan Menteri Dalam Negeri Nomor 1 Tahun 1979.

Pasal 4 SKB No.1/1979 mengatur tentang penyiaran agama. Disebutkan, penyiaran agama tidak boleh ditujukan terhadap orang/ kelompok yang telah memeluk agama lain. Misalnya, membujuk dengan atau tanpa pemberian barang, uang, pekaian, makanan atau minuman, pengobatan, obat-obatan dan bentuk pemberian lainnya atau berkunjung dari rumah kerumah umat yang telah beragama dengan maksud agar orang yang telah beragama pindah ke agama yang disiarkan.

Dengan maksud yang sama, juga dilarang menyebarkan paflet, majalah, buletin, buku-buku dan barang penerbitan satu agama kepada orang yang telah memeluk satu agama.

Melalui UU No.5 Tahun 1969, negara juga melarang pengikut satu agama menodai agama lain. Bentuk penodaan itu ialah dengan sengaja di muka umum menceritakan, menganjurkan atau mengusahakan dukungan umum untuk melakukan penafsiran suatu agama yang dianut di Indonesia atau melakukan kegiatan keagamaan yang menyerupai kegiataan keagamaan satu agama secara menyimpang dari dari pokok-pokok ajaran ajaran agama itu.

Kepada organisasi atau aliran kepercayaan yang melakukannya dapat dibubarkan presiden dan organisasi dan aliran itu dinyatakan terlarang. Pasal 156a KUHP menyatakan, pelaku penodaan agama dapat dihukum maksimal lima tahun penjara.

Maka sesuai ketentuan dan UU yang berlaku di Indonesia (bukan di Amerika atau di Eropa) jelas Alqiyadah termasuk aliran yang menodai agama (Islam). Pendiri dan pengikutnya tentu, dapat dihukum. Alqiyadah mungkin tak diprotes jika ia bukan benalu yang mencantol pada Islam. Lalu, melecehkan Alquran, hadist dan kenabian Nabi Muhammad.

Andaikata Alqiyadah agama baru yang mengangkat nabi sendiri dan tak sentuh menyentuh dengan Alquran dan Kenabian Muhammad SAW mungkin tak akan dipersoalakan, sebagaimana Khonghucu, yang pernah dilarang dan kemudian dibebaskan.

Ahmadiyah juga aliran yang mencantol ke agama Islam, lalu, mengenyampingkan Nabi Muhammad dan mengukuhkan Mirza Ghulam Ahmad sebagai pengganti. Meski berbeda versi, Ahmadiyah pada prinsipnya tak jauh beda dengan Alqiyadah yang dianggap menodai pokok-pokok ajaran Islam.

Lagi pula, menurut M. Ridwan Lubis, guru besar UIN Jakarta dan peserta dialog Ahmadiyah – pemerintah, Ahmadiyah berhasrat menjadikan Indonesia sebagai pangkalan pengembangan Ahmadiyah di seluruh dunia. (GATRA 6 Feb 2008). Artinya, sebagaimana gerakan Transformasi Iman (Singgalang 6 Febraurai 2008) Ahmadiyah juga akan menjadikan umat Islam Indonesia sebagai objek penyiaran agama.

Jika pelarangan dan penindakan terhadap pelanggaran UU dan Ketentuan hidup beragama di Indonesia itu dianggap melanggar kebebasan beragama dan hak asasi manusia, maka kita pantas mempertanyakan seperrti apa sesungguhnya kebebasan beragama itu.

Jika kebebasan beragama yang dimaksudkan penganjur hak asasi manusia seperti yang dilakukan Alqiyadah, Ahmadiyah, atau yang dilakukan terhadap Wawah, dan cara-cara mendirikan rumah ibadah di Kinali, di Solok, serta kasus yang telah disebutkan di atas, tentulah kebebasan itu berarti kebebasan melibas agama lain (terutama Islam). Jika itu benar, tentulah yang diinginkan adalah melanggar kebebasan beragama dan hak asasi umat Islam sendiri. Sungguh tak adil !.(*)

Iklan

4 Balasan ke Kebebasan (Melibas) Beragama

  1. jhelle maestro berkata:

    Terus terang saja saya frustasi dengan Indonesia kini
    agama lama-lama akan mendapat porsi terbesar dinegeri ini, saya takut sekali negara yang sudah bagus ini akan berubah jadi teokrasi….dan hukum rimba raya terjadi wah parah

    salam kenal dr mataram

  2. fachrulrasyid berkata:

    Tidak perlu frustasi. Setiap agama akan mendapat porsi sesuai keberadaannya. Negara ini pun akan tetap aman terjaga asal setiap pemeluk agama menjalankan ajaran agamanya. Tidak mendiskreditkan agama lain, tidak menjadikan agama lain selalu jadi hujatan. Dibuat berbagai analisa dan kajian seolah agama yang satu itu fundamentalis, teroris dan yang lain punya kasih sayang, toleran dan sebagainya. Padahal mereka terus diobok-obok, didatangi dan dikhutbahi, diperangi dan dirampas hak hidupnya, dirampas negara dan kemerdekaannya, diapksa memahami dan menerima ajaran teologi dan alur pikiran agama lain. Jika menolak diintimidasi lewat jalur politik, ekonomi dan budaya dan sebagainya. Padahal semut sekalipun kalau terus ditekan akan menggigit. Ketika ia menggingit ia dikatakan ganas. Padahal ia menjadi ganas bukan karena sifat dan tabiatnya, melainkan karena ada hak-haknya yang tergilas.
    Boleh saja membikin dan punya agama baru asal jangan menduplikasi, memelencengkan, menciderai dan membelokkan agama orang lain. Jadi kebebasan beragama sesungguhnya adalah tidak mengganggu agama orang lain. Selama umat dan agama lain selalu dijadikan objek pembicaraan dan objek dakwah dan ejeken oleh pemeluk lain tentulah kerukunan tak pernah tercipta. Di situ kuncinya. Saya kira masih banyak yang tak ihklas melihat orang lain mengamalkan agamanya secara benar.

  3. Sayang, , masih banyak tak ikhlas melihat pemeluk agama lain menjalankan agamanya secara benar sesuai keyakinannya. Bahkan ada yang punya kesukaan menyoal agama lain ketimbang agamanya sendiri. Mereka lebih senang mengajak pemeluk lain ke dalam agamanya ketimbang memantapkan ajaran agamanya sendiri pada diri dan keluarganya. Ada yang punya kesukaan usuil dan mengusik agama orang lain. Tipe jelatang inilah yang sebenarnya yang bikin keruh di negara ini.

    Terimakasih atas tanggapannya.

  4. abujhonny berkata:

    tidak usah mengaku saling mengasihi kalau perbuatan sebenarnya justru merampok hak hak orang lain.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: