Koreksian Kecil Atas Tulisan Fachrul

Senin, 31-Desember-2007, 06:59:06

Oleh : Kamardi Rais DT P Simulie, Ketua LKAAM Sumatera Barat dan Wartawan Senior

Tulisan Bung Fachrul Rasyid HF dalam rubrik ”Perspektif” Harian kita ini, Rabu, 26 Desember 2007 dengan judul ”Hamka, Sosok Ideal seorang Ulama” menarik untuk dibaca dan kita renungkan. Hamka seorang ulama Islam Indonesia terbesar, guru orang bukan saja di Minangkabau, di Bugis-Makassar, Yogya di Jawa, di Medan-Deli (Sumatera Utara) idola orang di Malaysia, Brunei dan Sabah, bahkan dikenal orang di Mesir dan Arab Saudi, bahkan sampai ke Eropa dan Amerika

Dia seorang pengarang tenar dengan gaya bahasanya yang khas. la seorang ulama fasih berbahasa Arab, pintar berhujjah, ahli filsafat, sejarawan yang bukan Doktor Sejarah, sastrawan, dan terkenal sebagai pengarang novel yang dapat membuat orang berurai air mata bila membaca buku romannya.
Katakanlah novelnya ”Tenggelamnya Kapal Van der Wijk”, ”Di bawah Lindungan Kaabah”, ”Merantau ke Deli”, ”Menunggu Beduk Berbunyi”, dan lain-lain. Kedalaman ilmunya kadangkala tak bisa diajuk. Bagaikan dalamnya air danau Maninjau yang terbentang di depan rumahnya di Sungai Batang. Beningnya air danau itu memang seakan-akan dangkal, tapi kalau diselami amatlah dalam.
Fachrul Rasyid HF betul! Bahwa kini ulama seperti Hamka payah mencarinya. Konon menurut Kanwil Agama Sumbar tercatat 3000 ulama di daerah ini. Ada 21 dosen bergelar Profesor, 8 Doktor dan 200 Master di IAIN Imam Bonjol, Padang. Kok ada isu kelangkaan ulama di daerah kita? Tanya Fachrul.
Ribuan ulama di Sumbar itu dikatakan Fachrul tak memiliki 13 indikator yang terdapat pada ulama terdahulu. Mungkin kompetensi keilmuan mereka tak diragukan, tapi mereka tak memiliki jamaah dan berbasis masjid. Ada yang tak memiliki kepedulian bahkan ada yang asosial.

Bung Fachrul! Itulah yang saya katakan selama ini. Pada sosok seorang pemimpin itu, harus memiliki ”5T”. ”T” yang pertama adakah Tinggi tampak jauh? Tiga ribuan ulama kita sekarang bagaikan kayu di rimba adakah di antaranya yang tinggi tampak jauh? Ternyata tidak. ”T” yang kedua adakah dia Tinggi seranting? Artinya dekat atau peduli dengan umatnya. ”T” yang ketiga, adakah yang dianjung Tinggi, diambak gadang?
Artinya dia punya jemaah yang akan mengakuinya sebagai ulama? ”T” yang keempat, adakah dia, Tinggi disentakkan rueh. Kayu itu jadi tinggi karena ruasnya menyentak setiap hari. Artinya tidak diragukan kompetensi ilmunya, wawasan dan integritas pribadinya? Menurut Fachrul, katakanlah ini sudah mereka miliki. Syukurlah. ”T” kelima, Taqwa, inilah basis masjid, kata Fachrul bahwa yang dicari adalah mardhatillah. Tulus dan ikhlas demi agama dan demi umat. Saya sepaham dengan Bung Fachrul Rasyid HF.

Namun demikian, saya punya koreksian kecil atas tulisan Bung Fachrul HF. Maksudnya untuk memberikan akurasinya saja.
1. Dalam catatan riwayat hidup Buya Hamka tak pernah ia jadi konsul Muhammadiyah di Makassar, sebagaimana yang Bung Fachrul tulis. Hamka tercatat hanya sebagai Muballig Muhammadiyah di Makassar yang diutus oleh Hoofd Bestuur Muhammadiyah di Yogyakarta untuk menggerakkan semangat umat menyambut Kongres Muhammadiyah di Makassar tahun 1932 ketika usia Hamka baru 23 tahun. Hamka memang pernah menjadi Konsul Muhammadiyah di Medan (Sumatera Timur) menggantikan H. Moh. Said bukan di Makassar. Dari 1946-1949 Hamka memimpin Muhammadiyah Sumatera Tengah menggantikan Buya Saalah Jusuf St. Mangkuto yang diangkat Pemerintah menjadi Bupati Solok.
2. Menurut Fachrul Rasyid, Hamka ikut bergerilya di hutan-hutan Sumatera Utara. Tak bertemu catatan tersebut oleh saya. Yang jelas Hamka sejak tahun 1945 sudah meninggalkan Sumut kembali ke Sumbar. Beliau bergerilya di Koto Tinggi (Suliki) 1948-1949 (Agresi Belanda II). Beliau adalah anggota BPD (bukan Barisan, tapi Badan Pertahanan Daerah Sumatera Tengah yang diketuai oleh Chatib Suleman)—Lihat tulisan saya: ”Mengenang kembali Tiga Seminar” yang dimuat Padang Ekspres, tanggal 14 Desember 2007.
3. Tentang Hamka menghadiri Kongres Muhammadiyah di Yogyakarta (1950) bukan sekali itu saja Hamka hadir di medan kongres. Tapi ia hadir sejak mudanya. Dalam usia 25 tahun Hamka sudah hadir dalam Kongres Muhammadiyah di Kota Semarang. Kemudian Kongres Muhammadiyah di Betawi (1936). Sesudah Kongres Betawi, lalu Yogya lagi dan kemudian Kongres Purwokerto (Jateng) 1953. Dalam kongres itu Hamka terpilih sebagai anggota Majelis Pimpinan Muhammadiyah Pusat.
4. Tahun 1955 (Pemilu pertama setelah kemerdekaan RI) beliau terpilih sebagai Anggota DPR-RI (Parlemen) mewakili Masyumi dari daerah pemilihan Jawa Tengah. Pada mulanya ia menolak. Biarlah dia berjuang di Majelis Konstituante saja. Tapi atas desakan M. Natsir dan A. R. Sutan Mansur, Hamka menerima jadi anggota kedua Dewan tersebut, Parlemen dan Konstituante. Majelis Konstituante adalah pembuat Undang-Undang Dasar pengganti UUD 1945. sedangkan Parlemen adalah Dewan Perwakilan Rakyat RI
5. Hamka menurut Fachrul Rasyid menghasilkan karya ilmiah dalam bidang agama Islam seperti Tafsir Al-Azhar 5 jilid. Sebenarnya bukan 5 jilid tapi 30 jilid (Juzuk 1 sampai juzuk 30).
6. Tentang Partai Politik Islam Masyumi di zaman Orde Lama bukan dilarang oleh Pemerintah Soekarno. Yang benarnya dibubarkan! Dengan alasan dibubarkan itu, maka ketua Partai Masyumi pada tahun 1960-an Prawoto Mangkusasmito menuntut Pemerintah untuk merehabiliter partai itu kembali. Pengacaranya adalah tokoh Masyumi yang lain, yakni Mr. Moh. Roem. Ternyata sampai ke Pemerintahan Orde Baru tak berhasil. (***)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: