Mengerti Investasi Cara Monyet

Refleksi Haluan 4 Juni 2007

Oleh Fachrul Rasyid HF

Dialog antara Gubernur Sumbar, Gamawan Fauzi dan organisasi kemasyarakatan, pengusaha dan pemuka masyarakat, di Padang Kamis, 31 Mei 2007, lalu, seperti dimuat Haluan Sabtu 2 Juni 2007, cukup menggelitik.

Menurut gubernur, banyak pengusaha mengeluh. Sebab, baru saja memulai investasi dan menjalankan usahanya, mereka langsung dihujani proposal permohonan sumbangan. Itu jadi delama. Tak dikabulkan, pengusaha bakal mendapat berbagai gangguan. Kalau dikabulkan, jadi beban. “Suasana ini membuat iklim berinvestasi di daerah ini tak kondusif,” katanya.

Ketua Kadin Sumatera Barat, Asnawi Bahar, menambahkan. Katanya, kalangan pengusaha tak nyaman berinvestasi di daerah ini bukan hanya karena tingginya permintaan sumbangan tapi juga pungutan liar.

Di luar itu, saya juga teringat pendapat yang pernah dilontarkan Basril Djabar, Ketua Dewan Kehormatan Kadin Sumbar. Katanya, berinvesatsi di Sumbar perlu ekstra hati-hati. Sebab, kalau bukan menghadapi perkara bisa dikejar-kejar jaksa. Kalau rugi tanggung sendiri, jika untung dituduh korupsi.

Padahal, kata gubernur, di Singapura sopir taksi saja menjaga pelayan tetamunya. Mereka tak mau mengganggu para tamu karena hal itu akan berdampak buruk terhadap mereka dan negaranya. Mereka sadar benar Singapura dihidupi pengunjung.

Sikap para sopir taksi Singapura seperti diceritakan gubernur mengingatkan saya pada segerombolan monyet (karo) di ujung tikungan jalan Gaung Teluk Bayur, objek wisata yang ramai dikunjungi warga. Selain melihat keindahan laut lepas, ya, pengunjung bisa bermain-main dengan monyet liar itu.

Monyet jadi ramai karena di situ sering mangkal penjual kacang rebus. Kala sepi pengunjung, si penjual kacang bisa tidur-tiduran di depan songgan, wadah kacangnya. Hebatnya, monyet tak mencuri apalagi sampai mengeroyok penjual kacang. Mereka hanya duduk bergerombolan membentuk lingkaran sekitar dua meter dari penjual kacang. Mereka seperti melindungi si penjual kacang yang sesekali melempar satu dua biji kacang. Padahal, dilihat jumlahnya, mereka bisa habisi di pernjual kacang itu.

Tapi begitu ada pengunjung yang datang, apalagi membeli kacang, monyet ini pada berlompatan keluar. Mereka ramai-ramai menadahkan tangan berharap kacang dari pengunjung itu. Prilaku inilah rupanya yang disenangi pengunjung. Tapi, jangan coba bergelagat buruk kepada penjual kacang, monyetnya bisa main tubruk.

Saya yakin, meski tinggal dekat Pelauhan teluk Bayur, monyet itu tak pernah belayar dan apalagi belajar dari sopir taksi Singapura seperti diceritakan gubernur. Toh, mereka agaknya mengerti kehadiran investasi. Mereka tak mengeroyok penjual kacang karena hanya akan membuat kenyang sesaat. Esoknya tentu si penjual kacang dan pengunjung, akan jera datang ke sana. Dan, itu sama artinya mengundang kelaparan. Mungkin, karena itu investor, penjual kacang yang jadi sumber rezki tak langsung, harus mereka pelihara supaya rezekinya juga bertahan lama.

Tampaknya, sekali waktu Ketua Kadin Sumbar perlu mengajak investor Singapura ke Gaung itu. Kalau kita bisa dapat pelajaran dari sikap sopir taksi mereka, mana tahu, mereka juga bisa mendapat pelajaran dari monyet kita.***

4 Balasan ke Mengerti Investasi Cara Monyet

  1. armenzulkarnain mengatakan:

    hanya wartawan yang berpengalaman & sangat bijak bisa menulis seperti ini, padahal saya sering membawa tamu/kerabat kesana, namun tidak pernah terpikir menulis seperti ini. Izin share pak Fachrul

    • fachrulrasyid mengatakan:

      Terimakasih atas komentar anda. Sebetulnya, apa saja yang kita lihat dan saksikan akan memancing nyali untuk memahami sesuatu tentang apa yang terlihat dan apa yang tidak terlihat, apa yang tak terucapkan dan apa yang terucap. Di situ berlaku alam takambang jadi guru. Allah tak pernah menjadikan sesuatu percuma. Tinggal bagaimana setipa orang memahami apa yang ada di sekitarnya. Banyak sekali yang ada ada di sekitar kita yang bisa kita tangkap hikmahnya, isyarat dan petunjuk-petunjuknya. Karena keterbatasan waktu, biaya dan tenaga saya lebih suka menangkap/memahami apa yang ada di sekitar kita sehingga saya pun berani mengatakan bahwa kedangkalan pemikiran sering menyebabkan orang tak menghargai apa yang ada di sekitarnya. Karena itu saya percaya bahwa komunikasi manusia dan manusia, manuasia dengan hewan, manusia dengan alam bisa berlangsung tanpa selalu dengan bahasa manusia itu sendiri tapi dengan bahasa yang ada pada alam dan hewan itu. Kapan-kapan kita bisa bertemu dan berbicara tentang ini. Terimakasih anda rupanya mengikuti bblog saya ini.

  2. edwinganadhi mengatakan:

    Sangat bagus Pak, sering-sering buat tulisan yang lain lagi

  3. fachrulrasyid mengatakan:

    Terimakasih. Insya’ Allah kita akan terus menulis.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: