Tabligh (Berhadiah) Akbar

Refleksi Haluan 13 Februari 2008

Oleh Fachrul Rasyid HF

Lapangan Imam Bonjol, Padang, jadi saksi lagi. Pada 10 Juni 2004 silam Ketua PAN kala itu Amien Rais, juga mantan Ketua MPR berkampanye calon presiden melukai hati umat Islam dengan pernytaaannya bahwa di Sumbar ada korupsi berjamaah.

Sore hari ini Anggota Majelis Pertimbangan Partai PKS, Hidayat Nur Wahid yang juga Ketua MPR bersama Presiden PKS, Tifatul Sembiring, untuk pertama kali di dunia Islam, mengadakan tabligh akbar dengan undian berhadiah.Hadiahnya mulai umrah, sepeda motor, televisi, kulkas, hp sampai kereta angin.

Apakah setelah dari Imam Bonjol itu Nur Wahid akan bernasib seperti Amien: tak terpilih jadi presiden dan setelah jabatan berakhir jadi pengkritik dari mimbar ke mimbar?. Allahua’lam.

Yang pasti tabligh akbar berhadiah itu, mengundang perdebatan. Buya Amiruddin, menilai tabligh akbar beriming-iming hadiah termasuk perbuatan subhat atau diragukan halal haramnya. Dan, subhat, sesuai anjuran Rasulullah, sebaiknya dijauhi.

Buya Mas’ud Abidin dan Jef Fatullah, anggota komisi fatwa MUI Sumbar, senada. Katanya, tabligh, pengajian agama, seharusnya jadi ibadah berhadiah pahala dari Allah. Keduanya menyarankan, acara itu diganti nama jadi pertemuan bisnis atau politik berhadiah. (Haluan 11/02/08).

Ketua Komisi Investigasi Syariah DPW PKS Sumbar, Erwin El Ibrani menganggap undian berhadiah dalam kegiatan keagamaan tak dilrang Islam. Rasulullah, katanya, setiap akan berperang mengundi istri mana yang akan menyertainya. Lagi, pula pengundian hadiah itu untuk keadilan, supaya hadiah yang terbatas diperoleh lewat undian. (Haluan 12/02/08).

Perdebatan bisa panjang. Apalagi, merujuk Nabi mengundi istri bukan untuk berbagin hadiah. Sedangkan undian dan hadiahnya, berfaktor untung-untungan. Dan, ini mendekati ke arah judi.

Tapi, saya lebih tertarik melihat di segi proses pembudayaan. Biasanya, sesuatu yang telah dimulai, meski dasar hukumnya belum jelas, sulit dihentikan dan dikendalikan. Ia akan berkembang terus dengan berbagai ekses dan penyimpangan.

Para pemuka PKS mestinya belajar dari acara peringatan Maulid Nabi atau mauludan.

Awalnya, untuk meramaikan acara, ulama dahulu mengajak warga membawa makanan, saat itu yang top adalah lemang. Kebiasaan itu berkembang hingga bulan maulud disebut bulan melemang. Akhirnya, lemang lebih penting ketimbang mauludnya. Sampai ada suami istri bercerai karena tak melemang di bulan maulud.

Di Pulau Jawa, banyak sekali acara yang mulanya murni islami kemudian berkembang menyimpang dan bahkan bertentangan dengan ajaran Islam. Misalnya, acara khitanan, kaulan, pernikahan, mauludan, dan sebagainya. Begitu juga soal jenggot di dagu warga PKS. Jika semula cuma mengikuti sunnah, kemudian berkembang seolah berjenggot, meski banyak yang tak pas di wajahnya, menjadi atribut wajib.

Tabligh akbar berhadiah juga bisa demikian. Yang berkembang nanti bukan tablignya tapi undian dan hadiahnya. Akhirnya, masjid sebagai tempat ibadah berubah jadi arena undian berhadiah. Orang datang ke masjid untuk mendapatkan hadiah layaknya berburu angphao di hari raya Imlek.

Jika itu terjadi, PKS tak cuma dijauhi, sebagai pencetus tabligh akbar berhadiah, juga harus menanggung dosa dan segala eksesnya.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: