Nasib Masjid Muhammadiyah

Komentar Singgalang 18 Agustus 2008

Oleh Fachrul Rasyid HF

Menyongsong bulan suci Ramadhan tahun ini, mengingatkan kita pada hari-hari menjelang Muktamar Muhamadiyah sekitar November 1975 silam. Saat itu Sumatera Barat digemparkan rubuhnya kubah Masjid Muhamadiyah yang baru berusia beberapa tahun. Begitu mengejutkan, sampai berhari-hari kemudian halaman surat kabar lokal dan nasional dihiasi gambar kubah yang tumbang itu.

Tak jelas di mana salahnya. Yang pasti sejak itu masjid kebanggaan Sumatera Barat yang menjadi landmark kota Padang berganti nama jadi Masjid Taqwa Muhammadiyah. Tapi bertahun-tahun kemudian masjid itu dibiarkan tanpa kubah. Baru sekitar November 2006 lampau, setelah mendapat bantuan Walikota Padang, dibangun lagi kubah alumenium berangka besi pipa.

Nyatanya, usia kubah minimalis itu cuma beberapa bulan. Sekitar akhir tahun 2007 lalu kubah itupun jatuh meram. Tak jelas juga apa yang salah. Yang diganti kemudian bukan lagi nama masjid tapi pengurusnya. Sejak itu, entah tak kuat memikul kubah, masjid besar berlantai dua itu, seperti yang tampak sekarang cuma diberi penutup layaknya rumah biasa dengan model atap ala piramida.

Begitupun suasana di sekitarnya tak lagi nyaman. Berdiri di pekarangannya yang cuma selebar tiga meter seolah berada di emperan toko di pinggiran Ghoan Hoat. Maklum, sejak terminal opelet itu dialihfungsikan jadi pertokoan, terminal opelet beralih ke depan masjid ini.

Tak aneh kalau setiap waktu salat tiba, suara azan dan suara imam tenggalam dalam hiruk pikuknya suara kelatnson, teriakan kernet yang berebut penumpang dan penjual keliling yang mencari nafkah. Di tengah kebisingan itu kadang terlihat pula pengemis menadahkan tangan atau sesekali pencopet yang merogok kocek pejalan kaki.

Pengurus masjid atau pengurus Wilayah Muhamamadiyah Sumatera Barat yang bermarkas di sini mungkin belum terusik. Tapi wajah masjid itu berbicara. Ia kelihatan menderita dan kusut diterpa debu bercampur asap kendaraan. Isyarat penderitaan itu kian terbaca dari bulan sabit yang bertengger di puncak menara yang kini mulai miring. Pada gilirannya, mungkin bulan sabit simbol Islam itu akan jatuh mengikuti kuba-kubah terdahulu.

Menyedihkan memang. Masjid bernama Taqwa yang menjadi simbol kebesaran Islam dan simbol kebesaran organisasi Muhammadiyah Sumatera Barat ini seperti kehilangan marwah, gezah dan makna. Masjid itu seolah rumah gadang yang ditinggal merantau oleh kaumnya.

Padahal masjid itu sudah melahirkan, bahkan memdoli dan membesarkan sejumlah tokoh di daerah ini. Sebutlah sejumlah pengusaha, pedagang, guru, dosen, mubaligh dan ulama. Mereka merasa belum besar dan bahkan tak menjadi besar kalau tak membawa nama besar Muhammadiyah.

Malah, ketika diantaranya mendapat tekanan politik atau memerlukan dukungan politik misalnya, saat pencalonan anggota legislatif, calon anggota Dewan Perwakilan Daerah, calon pengurus partai dan bahkan calon kepala daerah, mereka ramai-ramai mengusung nama Muhammadiyah.

Di bidang pendidikan, Muhammadiyah penyumpang terbesar lembaga pendidikan di daerah ini. Muhammadiyah memiliki puluhan sekolah, mulai dari TK, SD, SMA/SMK dan sampai Universitas. Muhammadiyah juga bergerak di bidang sosial, mulai panti asuhan, balai kesehetan hingga rumah sakit. Diperkirakan hampir satu juta warga Sumatera Barat adalah anggota Muhammadiyah.

Secara politik Muhammadiyah juga punya kekuatan besar. Meski Partai Amanat Nasional (PAN) tak mau disebut partainya orang Muhammadiyah, tapi kelahiran, pendiri, basis kader dan lambang partai itu sendiri, sulit mengelakkannya dari Muhammadiyah. Kini PAN punya sembilan wakil di DPRD Kota Padang dan tujuh wakil di DPRD Provinsi Sumatera Barat. Bahkan Walikota Padang Fauzi Bahar adalah Ketua PAN Padang. Belum dihitung mereka yang bermodalkan Muhamadiyah tampil di sejumlah partai lain dan duduk di DPRD misalnya, di PKS, PPP, PBB termasuk di Partai Golkar.

Andaikata mereka angkat bicara di DPRD, sebuah Perda mungkin bisa diterbitkan untuk menyalamatkan Masjid Tagwa itu. Tapi itulah yang tak pernah ada. Semua potensi dan kekuatan sosial politik yang memanfaatkan Muhamamdiyah seolah jadi percuma bagi Masjid Taqwa Muhamadiyah.

Masjid Taqwa itu seolah sebatang kara, terjepit dan tenggalam dalam kesembrautan kota. Padahal, saat PAN belum berdiri dan kota ini dipimpin Walikota Syahrul Udjud yang tak menyebut diri Muhammadiyah, masjid itu malah diberi halaman yang luas untuk parkir kendaraan jamaah. Syahrul Udjud membongkar pompa besin di depannya supaya masjid itu tampak megah, bersih, nyaman dan menyenangkan. Agar orang khusuk menuju taqwa.

Kita cuma bisa bertanya. Apakah Muhamamdiyah itu hanya sebuah rakit penyeberangan yang setelah sampai di seberang penumpangnya tak lagi menoleh ke belakang. Atau memang sebuah organisasi kader? Jika benar, agaknya pantas dipertanyakan pula, apakah pengkaderannya yang salah atau kadernya yang salah. Kenyataan selama ini agaknya bisa menjawabnya.(*)

2 Balasan ke Nasib Masjid Muhammadiyah

  1. Ali Mursal mengatakan:

    Kami butuh bahan ini sebagai pengayaan materi kuliah HI di UAI Jakarta untuk anak kami ahmad rifki yang tengah belajar membuat tugas-tugas yang diberikan dosen di kampusnya. Trims Wr Wb

    • fachrulrasyid mengatakan:

      Terimakasih anda telah membaca tulisan itu. Jika memang bermanfaat saya persilakan anda mengutip tulisan itu, tentu sesuai kelaziman, dengan menyebutkan sumbernya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: