Kebun Buah Tangan

Oleh Fachrul Rasyid HF

Komentar Singgalang 4 Juni 2009

Tak ada pohon yang tak bisa tumbuh subur di Ranah Minang. Dari mangga, jeruk, nangka, hingga durian. Dari stroberi, salak hingga markisa. Semuanya bisa ditanam dan berbuah. Tapi karena keterbatasan lahan dan keterbatasan kesungguhan, produksi buah-buahan itu hanya sekedar “lepas makan”. Tak ada yang bisa dipasarkan ke luar daerah apalagi jadi komoditi industri, jadi andalan ekonomi dan jadi ikon daerah ini.

Tak aneh kalau kebutuhan buah-buahan daerah ini, mulai jambu paraweh, salak, duku, nenas, jeruk, mangga, apalagi apel, anggur dan jambu pir, dipasok dari daerah lain.  Jangan heran pula bila jus buah merupakan minuman paling mahal di daerah ini. Harga segelas jus buah Rp 8 ribu hinggga Rp 12 ribu.

Kebun buah yang dapat diharapkan dan punya prospek ekonomi rakyat tampaknya hanyalah kebun buah tangan alias karya tangan. Buah tangan asal Sumatera Barat yang sudah dapat nama, dikenal luas sampai ke negara tetangga dan bisa jadi ikon daerah, diantaranya adalah kerajinan sulaman saudara tua bordiran.

Lahan kebun buah tangan itu tersebar hampir di setiap pelosok nagari dan punya corak di tiap daerah. Menurut Drs. Syahrial, Kepala Dinas Koperasi Perindustrian dan Perdagangan, pengrajin buah tangan ini lebih dari 2.000 orang. Mereka punya daya tahan dan daya saing yang cukup kompetitif karena keterampilan itu menyatu dengan kultur Minangkabau yang diwarisi secara turun temurun sejak berabad-abad silam.

Bisa dimengerti jika Gubernur Gamawan Fauzi, SH, saat peringatan HUT Dewan Kerajinan Nasional (Dekranas) Sumatera Barat di aula Kantor Gubernur Rabu 3 Juni 2009 lalu, menaruh harapan besar pada kerajinan sulaman ini. Katanya, semakin canggih teknologi permesinan semakin tinggi nilai dan harga karya tangan. Apa pun jenis produk buatan tangan itu, sepatu, tas, jam tangan, dan sebagainya, harga dan nilainya jauh lebih tinggi ketimbang produk mesinal.

Sulaman sebagai salah satu hasil kerajinan tangan Minang sudah diakui dan diminati di negara ini. Setiap orang yang datang ke Sumatera Barat memimpikan bisa membawa pulang buah tangan berupa kain sulaman. Mulai dari hiasan dinding, taplak meja, sampul bantal, sendal, jilbab, mukenah dan berbagai jenis dan motif pakaian muslim/muslimah.

Menurut Gubernur sebetulnya anggota Dekranas bisa menghasilkan jenis, motif dan warna sulaman lebih dari apa yang sudah ada sehingga pasar, konsumen dan penggunaannya tak dibatasi waktu, tempat dan usia. Tapi itu jelas menuntut kemampuan  menciptakan kreasi baru motif, warna, bentuk dan jenis produk bersulaman yang relevan dengan kemajuan zaman. Paling tidak, inspirasinya bisa diambil dari 70 lebih jenis ukiran Minangkabau. Gubernur pun menghimbau Perguruan Tinggi, terutama jurusan seni rupa dan disain grafis, ikut menciptakan kreasi baru yang bisa dirilis jadi sulaman rakyat.

Persoalan buah tangan, khusus sulaman, asal Sumatera Barat tampaknya memang pada kemampuan berkreasi tersebut. Buktinya terlihat pada karya sulaman yang dipamerkan dan  yang dipakai ibu-ibu pengurus dan anggota Dekranas se-Sumatera Barat saat acara ulang tahunnya itu.

Hampir seluruhnya bermotif kembang. Warna motif dan warna  dasarnya pun rata-rata didominasi warna tradisional, dan malah bisa disebut warna primitif: hitam pekat, merah menyala, kuning kental, hijau dan biru tua. Tak pelak, motif kembang yang jadi simbol kelembutan berubah jadi simbol kegarangan. Motif dan warna seperti itu jelas tak sedap dipakai di sembarang tempat dan tak cantik dipakai kalangan remaja. Apalagi, pakaian pria bersulaman yang dipamerkan para model  baik saat HUT Dekranas maupun yang dipakai sebagian besar pejabat juga dibuat bermotif kembang.

Padahal, dilihat dari tingkat pendidikan, ekonomi dan kemampuan berkreasi orang Minang selama ini, mestinya sulaman bisa mengikuti motif dan warna-warna yang kompromistis, harmonis dan elegan sebagaimana sudah mewarnai karya bordiran. Jenis produk sulaman pun sudah saatnya bervariasi dan bisa digunakan untuk berbagai keperluan oleh beragam tingkatan usia sebagaimana diharapkan gubernur.

Kata kunci tampaknya terletak pada sikap. Selama sulaman dianggap hanya sebagai reaktulisasi dari pakaian upacara tradisional tentulah kreasi dalam motif dan jenis produk akan dianggap hal tabu dan melanggar adat. Tapi kalau sulaman sudah diterima sebagai produk pasar dan karya budaya yang berkembang mengikuti zaman maka kemampuan berkreasi adalah sebuah tuntutan dan keharusan, bukan?(*).

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: