Memahami Bahasa Polisi Tidur

Oleh Fachrul Rasyid HF

Fokus Minggu Haluan 31 Mei 2009

Mungkin tak banyak yang mencermati. Salah satu yang menonjol setelah Era Reformasi adalah merebaknya penggunaan sepeda motor dan meluasnya pemasangan/penggunaan tanggul alias polisi tidur  di pemukiman dan jalan- jalan di pelosok kota kita. Ada yang dibuat dari beton, apsal, kayu dan ada yang dari karet ban dan tali ramin.

Tujuan pemasangan tanggul itu, pertama, tentu untuk mengurangi kecepatan laju kendaraan bermotor supaya tak menimbulkan kecelakaan. Tapi karena ada tanggul yang dibuat begitu besar dan tinggi, terkesan dimaksudkan untuk melarang atau menghalangi kendaraan lewat di jalan tersebut.

Hebatnya, tempat pemasangan tanggul pun tak beraturan. Pemasangan tanggul tidak lagi sebatas jalan lingkungan pemukiman yang dibangun warga, tapi juga meluas sampai di jalan-jalan kota yang nota bene dibangun dan dipelihara Pemerintah Kota. Meski demikian, Pemerintah terkesan membiarkan dan tidak berdaya mengatur jalan-jalannya sendiri.

Tapi yang bisa kita baca tak hanya sekedar persoalan teknis tanggul itu. Penggunaan tanggul itu sendiri mengisyartkan kepada kita bwah rambu-rambu lalulintas atau isyarat tulisan tidak efektif lagi mengatur masyarakat kita. Misalnya, untuk memperingatkan bahwa di satu ruas jalan banyak terdapat anak-anak dan orang ramai tidak cukup lagi dengan menggunakan rambu orang membimbing anak, dan sebagainya.Tulisan rawan kecelakaan, tanda keramaian, tanda dilarang parkir dan sebagainya tak cukup lagi diperingatkan dengan papan peringatan atau tanda-tanda.

Dilihat dari ilmu komunikasi, kenyataaan itu mengisyaratkan bahwa bahasa rambu-rambu atau bahasa isyarat yang lazim dan mudah dimengerti tidak komunikatif lagi di tengah-tengah masyarakat kita. Yang efektif adalah bahasa pisik atau benda-benda yang secara pisik dapat dirasakan pengaruhnya. Mungkin karena itu rambu-rambu atau isyarat yang ada di sekitar kita, baik yang berhubungan dengan lalulintas di jalan raya, atau yang berhubungan prosedur hukum dan administrasi, etika dan hubungan sosial, makin tidak diindahkan.

Kenyataan itu mengingakan kita pada pribahasa, “manusia tahan kias binatang tahan pukul. Dalam pengertian lain, pengaturan manusia cukup dengan bahasa dan isyarat-isyarat tertentu. Sedangkan hewan, karena tak mengerti bahasa dan isyarat, diatur dengan bahasa pisik, antara lain, dengan pukulan. Tidak aneh, kalau hewan pemain sirkus yang dikenal patuh dan pintar disuruh menari-nari, diatur dan diperintah-perintah dengan pukul-pukulan. Untuk mengaturnya pula hewan perlu dinding/ pagar dan kandang yang bisa mengalangi pisiknya.

Dari gambaran itu terpahami bahwa pemasangan tanggul atau polisi tidur yang kini banyak ditempatkan di jalan di sekitar kita boleh jadi mengisyaratkan bahwa masyarakat kita, paling tidak pengemudi/ pengendara kendaraan bermotor,  lebih efektif diatur dengan bahasa pisik ketimbang bahasa isyarat. Artinya, masyarakat kita kini memerlukan bahasa pisik. Jika demikian halnya, untuk masyarakat seperti itu tentulah diperlukan pemimpin bak memandikan kuda, bukan pemimpin yang suka berbicara saja apalagi menggunakan isyarat-isyarat.(*).

.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: