Katakan Saja Sumbar Tak Layak Huni

Fokus Minggu 25 Oktober 2009

Oleh Fachrul Rasyid HF

Daerah sepanjang pantai barat pulau Sumatera memang nyaris tak pernah sepi dari gempa selama 12 tahun terakhir. Pada Mei 1996, Kabupaten Kerinci dilanda gempa. Lalu disusul gempa dahsyat di Bengkulu Februari 2000. Pada 10 April 2005 giliran Padang dan Mentawai dihentak gempa. Setelah Padangpanjang, Tanah dan dan Kabupaten Solok diguncang gempa Maret 2007, lima bulan, 13 dan 14 September 2007 kota Padang kembali diguncang gempa.

Yang baru berlalu adalah gempa 30 September 2009 yang mendera Padang Pariaman, Padang, Kabupaten Agam dan Pesisir Selatan. Semua itu berkuatan sekitar 7 hingga 7,9 pada Sekala Rechter. Menariknya, gempa pada 10 April 2005, 13 September 2007 dan 30 September 2009 terjadi pada waktu yang hampir bersamaan, antara pukul 17.00 dan 17.30.

Gempa demi gempa tak hanya menimbulkan kerusakan perumahan, perkantoran, pasar, jalan dan jembatan, harta benda dan korban jiwa tapi juga meninggalkan trauma yang mendalam. Bayangkan, banyak warga yang takut tinggal di rumah tempat bernaung dan berlindung sendiri.

Di tengah –tengah trauma itu beredar pula kabar, ramalan dan pridiksi, katanya, dari para ahli gempa bahwa bakal ada gempa lebih dahsyat yang akan menghantam daerah pantai barat Sumatera Barat (Pesisir Selatan, Padang, Pariaman, Padang Pariaman, Kabupaten Agam dan Pasaman Barat). Gempa itu akan diiringi tsunami dengan ketinggian air laut mencapai 15 meter. Jika itu benar bisa dibayangkan sekitar 1,5 juta jiwa penduduk terancam.

Tak tak terbayangkan pula kalau benar kabar yang menyebutkan bahwa pulau Sumatera akan terbelah dua. Semua itu menciutkan ciut nyali, membuat orang berputus asa, kehilangan semangat hidup, kehilangan gairah berusaha. Sebab, hari-hari ini seolah-olah penduduk di sekitar daerah yang disebutkan di atas hanya menunggu giliran dijemput ajal.

Kegamangan menghadapi kenyataan itu semakin mendebarkan karena tak seperti pendapat para ahli bahwa siklus gempa hanya sekali seabad atau sekali dua abat. Gempa, khusunya sepanjang pantai barat Sumatera Barat, praktis sekali dua tahun. Hebatnya, gempa itu terjadi nyaris pada bulan dan waktu yang bersamaan. Tak pelak hal itu menimbulkan kecuriugaan apakah gempa itu hanya gejala alam atau akibat perbuatan orang-orang tertentu.

Kecurigaan muncul itu bukan hanya karena faktor waktu, tapi juga karena banyaknya pendapat dan tulisan beredar internet yang menyebutkan bahwa gempa sejak 20 tahun terakhir merupakan dampak uji coba senjata nuklir oleh negara adidaya seperti Amerika, Rusia, dan Kores Utara.

Kecuriagaan itu muncul setelah membaca catatan tentang gempa berkekuatan 7,8  SR  dan menimbulkan tsunami yang kemudian menerjang kepulauan Unimak, Aleutian tepi pantai Alaska 1 April 1946. Gelombang yang ditimbulkannya mencapai 35 meter, menghancurkan seluruh banguan mercusuar dan lima penghuninya. Lima jam kemudian gelombang laut mengncaurkan pelabuhan Hilo, Hawaii dan menwaskan 165 orang. Penyebab gempa dan tsnunami itu ditenggarai adalah uji coba bom hidrogen yang memang brlangsung di Alaska pada tanggal 1 April 1946. Koordinator uji-coba nuklir di Alaska adalah Dr. Edward Teller—disebut juga “bapak dari Bom-H:” ..”(Intl. Tsunami Info. Center)

Ledakan Keempat Bom Hidrogen Terjadi di Pantai Chili 22 Mei 1960 menimbulkan gempa bumi berkekuatan 9.5 SR dan tsunami yang membunuh 2.300 orang di Chili. Terjadi kematian yang luar biasa dan kehilangan harta benda di Kepulauan Hawaii, di Jepang dan disekitar wilayah Pasifik.  (Intl. Tsunami Info. Center)

Website http://www.reformation.org/ menyebutkan bahwa ledakan keenam bom hidrogen terjadi Samudera Indonesia, lepas pantai Aceh 26 Desember 2004 pemicu gempa dan tsunami di Aceh yang menewaskan hampir 300.000 orang. Artinya, informasi demikian juga mengawangkan kecemasan. Sayang para ahli gempa hanya bicara geologi dan belum mencoba melirik kemungkinan uji coba nuklir itu sehingga masyarakat pun tak memperoleh kepastian.

Terelepas dari informasi tentang uji coba nuklir itu, ramalan dan pridiksi para ahli jika tak menawarkan solusi, jalan keluar dari ancaman dan jalan keluar untuk bisa selamat dari bahaya yang akan menimpa, para ahli gempa atau siapapun yang merasa berhak berbicara soal itu sebaiknya katakan saja bahwa Sumatera Barat atau daerah sepanjang pantai barat Sumatera Barat tidak layak lagi dihuni. Biar dengan kesimpulan masyarakat segera mengambil langkah pindah ke daerah lain atau berpasrah diri. Tapi kalau pridiksi dan ramalan itu tidak benar, sebaiknya berilah ketenagan kepada masyarakat. (*)

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: