Klimaks Buaya dan Cicak

Refleksi Haluan 3 November 2009

Oleh H. Fachrul Rasyid HF

Sebetulnya penahanan pejabat KPK Bibit Samad Rianto dan Chandra M Hamzah oleh Mabes Polri atas sangkaan penyalahgunaan kekuasaan hal lumrah selama ini. Tak hanya di kepolisian, di kejaksaan pun biasa orang dipanggil jadi saksi, lalu, jadi tersangka. Dipanggil dulu, ditahan dulu, duduk perkara urusan kemudian.

Alasanya, pun lumrah. Cukup bukti awal, cukup bukti/saksi dan setrusnya. Dalil hukumnya pun ada, pasal 21 KUHAP yang memboleh penyidik menahan seseorang atas pertimbangan kelancaran penyidikan, tersangka dikhawatirkan mengulangi perbuatan, menghilangkan barang bukti dan atau melarikan diri. Itulah yang disebut pertimbangan objektif dan subjektif untuk menahan tersangka.

Dengan kata kunci pertimbangan subjektif itu dulu pula Bachtiar Buyung Ketua Yayasan Lembaga Pendidikan Nasional – AKBP Padang yang sedang menghadapi perkara perdata melawan ahli waris bendaharawan yayasan almarhum Muchtar Isa, diborgol dan ditahan Polda Sumatera Barat Januari 2001 (Gatra, 15/01/ 2001).

Kemudian Maspar Rasyid, SH yang dianggap suka berbicara di media maka saat diperiksa bersama 55 anggota DPRD Sumatera Barat atas sangkaan korupsi Anggaran DPRD 2000  Januari 2003 langsung ditahan oleh R. Spoehandoyo Wakajati Sumatera Barat (Gatra,13/01 2003)

SK Boentoro Direktur PT. AMJ Painan yang terlibat sengketa perdata dengan Bank Nagari dituduh korupsi oleh Antasari Kajati Sumatera Barat 2005. Boentoro dimintai membayar  utangnya pada Bank Nagari. Karena menolak, Boentoro langsung ditahan. (Gatra, 28/01 2005) Padahal ketiga tersangka perkara –perkara di atas kemudian dibebaskan.

Alasan penahanan Bibit dan Chandra, persis sama dengan penahan Maspar: karena suka berbicara di media. Cuma Bibit dan Chandra jadi heboh karena pejabat KPK yang sedang diharapkan ketangguhannya oleh masyarakat antikorupsi. Sayang, ketika mata pisau KPK mengarah ke pejabat tinggi Polri, KPK pun diperlakukan sebagai cicak menghadapi buaya. Pada hal yang tak termaktub dalam KUHAP itu sering dijadikan alasan menahan orang.

Begitu pun, meski dianggap cicak, saya sudah mempridiksi ”Jika pemerintah tak arif, boleh jadi persoalan yang kini sekelas cicak kelak bisa menjadi sekelas buaya ( Fachrul Rasyid HF- Rakyat Diantara Cicak dan Buaya –  Refleksi Haluan 28/11/2009)

Ternyata benar. Berbagai bentuk protes dari pakar hukum, politisi dan bahkan aksi demo kemudian membuat cicak yang lemah dan kerdil jadi kuat melebih buaya. Sehingga, Presiden SBY pun turun tangan. Ahad malam 1 November lalu, Presiden memanggil empat tokoh nasional untuk membahas penahanan Chandra dan Bibit : Anies Baswedan, Komaruddin Hidayat, Teten Masduki; dan Guru Besar Ilmu Hukum UI, Hikmahanto Juwana.

Melihat kecenderung kesimpulan keempat tokoh tersebut, bukan mustahil ada beberapa kemungkinan tindakan presiden. Pertama, membiarkan perkara terus berlajalan. Kedua, mengganti Kapolri dan mencopot Kabareskrim Mabes PolriKomjen Pol Susno Duaji yang diusut KPK karena diduga ikut membantu pencairan dana nasabah Bank Century atas nama Budi Sampurno senilai 18 juta dollar AS. Dan Susno konon disebut mendapat fee 10% atau senilai Rp 10 miliar. Ketiga, kemungkinan besar kata pertimbangan subjektif dalam pasal 21 KUHAP direvisi karena sering diperalat untuk trial by force

Di balik itu, jika pengusutan Susno dan Bank Century belanjut tak mustahil aliran dana BI sebesar Rp 6,2 tilyun ke Bank Century, akan diusut juga. Sebab, selain jumlahnya dianggap tak wajar dalil hukumnya pun dipersoalkan. Dan itu mau tak mau akan menyeret pejabat yang mengucurkan dana tersebut Menteri Keuangan Sri Mulyani  dan mantan Gubernur BI, Boediono, kini Wakil Presiden, ke ruangan penyidikan. Artinya, bukan mustahil akan ada perseteruan cicak dan buaya jilid kedua.(*)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: