Makin Berat Derita Wilayah Pantai Barat

Fokus Minggu 6 September 2009

Oleh H. Fachrul Rasyid HF

Sungguh malang nasib provinsi yang berada di bibir Samudera Indonesia, khusus sebelah Selatan Pulau Jawa dan Sumatera. Wilayah ini nayris tak pernah reda dilanda gempa. Kalau bukan gempa yang disebabkan letusan gunung berapi, gempa datang dari pergeseran perut bumi di dasar laut. Bahkan khsusus Sumatera masih didera lagi oleh gempa akibat pergeseran Sesar Sumatera atau patahan semangka. Celakanya, jika sebelum-sebelumnya gempa dari laut itu datang sekali seabad, sejak lima tahun terakhir, entah benar akibat uji nuklir Amerika, malah terjadi sepanjang tahun.

Dampaknya terhadap kehidupan sosial ekonomi masyarakat di wilayah ini cukup parah. Selain trauma yang secara psikologis menguncang semangat hidup masyarakat, juga kobran jiwa kerusakan harta benda masyarakat dan pemerintah. Dan itu mempengaruhi upaya perbaikan kesejahteraan rakyat.

Padahal secara ekonomi daerah sepanjang Samudera Indonesia, mulai dari  Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), Nusa Tenggara Barat (NTB) Bali bagian Selatan, Jawa Timur bagian Selatan, DI Yogyakarta, Jawa Tengah Bagian Selatan, Jawa Barat bagian Selatan, Provinsi Bengkulu, Sumatera Barat, Sumatera Utara bagian Barat, Nagroe Aceh Darus Salam bagian Selatan , tergpolong daerah miskin di Indonesia. Bahkan dilihat dari pemerataan pembangunan daerah -daerah tersebut lebih 25 tahun terakhir terbaikan. Karena itu, jika benar ada pulau-pulau kecil di sepanjang pantai Samudera Indonsia ini yang dijual atau terjual kepada pihak asing tanpa setahu pemerintah pusat menjadi bukti bahwa kawasan ini memang terabaikan.

Betapa tidak terabaikan. Coba lihat dari NTT hingga Jawa Barat bagian Selatan. Nyaris tak ada satu pelabuhan samudera yang refresentatif di kawasan itu. Begitu juga kondisi daerah sepanjang Pantai Barat Sumatera. Pelabuhan Pulau Bai di Bengkulu yang pernah menjadi Pelabuhan Internasional sampai di awal abad ke 20 kini nyaris tak terdengar lagi nasibnya. Bahkan pembangunan dermaga Pelabuhan Pulau Bai sejak 1990-an silam hingga kini dibiarkan terbengkalai.

Nasib Pelabuhan Teluk Bayur di Sumatera Barat serupa. Pelabuhan Internasional itu kini bak kerakap di atas batu. Hidup segan mati tak mau. Tak banyak lagi kapal barang dan penumpang yang singgah. Maklum, kecuali produk PT. Semen Padang, sedikit minyak sawit dan batubara, nyaris tak ada hasil industri atau hasil perkebunan yang bisa menjadi komoditi andalan pelabuhan ini.

Sebaliknya, karena perkenomian masyarakat tak berkembang valume barang yang dipasarkan dan dipasok melalui pelabuhan ini juga semakin menipis. Akibatnya, kalaulah Kota Padang bukan ibukota provinsi dan tempat pemusatan perguruan tinggi, Padang yang pernah menjadi kota perdagangan Sumatera Bagian Tengah ini hanya jadi kota tua.

Pelabuhan Sibolga di Pantai barat Sumatera Utara setali dua uang. Pelabuhan itu nyaris cuma jadi pelabuhan perikanan dan pelabuhan antar pulau, terutama antara daratan Sumatera dan Kepulauan Nias. Begitu juga Pelabuhan Singkel di Aceh Selatan. Sebagaimana Pelabuhan Teluk Bayur, Bengkulu dan Sibolga yang pernah jadi pelabuhan antar bangsa,  Singkel pun kini hanya jadi pelabuhan perikanan dan pelabuhan bagi kapal antar pulau di sekitarnya.

Selain soal gempa, kemiskinan di sepanjang pantai barat itu jelas mengundang pertanyaan besar. Kenapa pemerintah Indonesia tidak menaruh perhatian khusus terhadap daerah ini? Bukankah daerah ini punya potensi perkebunan, pertanian dan potensi kelautan dan pariwisata yang luar biasa? Bukankah semua pihak mengakui bahwa Samudera Indonesia merupakan gudang ikan yang belum terbuka dan bahkan boleh dibilang belum tersentuh?

Seandainya pemerintah Indonesia memberikan perhatian, khususnya pada upaya penangkapan ikan dan industri perikanan, sulit dibayangkan betapa besar potensi ekonomi Indonesia dari bibir Samudera Indonesia itu. Jangankan kebutuhan ikan Indonesia, kebutuhan ikan negara – negara di Asia Tenggara pun bisa dipenuhi daerah ini. Sayang, potensi perikanan itu masih lebih banyak dicuri negara lain ketimbang memberi manfaatkan bagi rakyat sendiri.

Karena itu, kalau anggota Dewan Perwakilan Daerah yang berasal dari wilayah pantai Smaudera Indonesia ini mau memperjuangkan lahirnya kebijakan pembangunan nansional untuk daerah ini tentulah akan sangat besar artinya. Harapan tampaknya hanya kepada DPD tersebut. Sebab, berharap kepada anggota DPR-RI asal daerah ini selama ini, nasibnya sama bak menyiramkan garam ke Samudera Indonesia itu. (*)

Iklan

2 Responses to Makin Berat Derita Wilayah Pantai Barat

  1. AUGI JD berkata:

    Asslm.Wr.Wb.

    Menurut hemat saya, Pelabuhan Laut Samudra dan Nusantara memerlukan galangan kapal baru dengan teknologi baru dari PT PAL. PT PAL membangun cabang-cabang galangan untuk bengkel perbaikan kapal-kapal produksi PT PAL.

    Pembukaan galangan kapal perbaikan dan pembaharuan (refurbish) kapal dapat menyerap tenaga STM Mesin, Otomotif dan Listrik, bahkan lulusan Politeknik, Akademi, Universitas sepanjang pesisir. Permasalahan gaji akan menjadi masalah bagi BUMN PAL. Namun pegawai-pegawai itu bisa diberi gaji hasil penjualan ikan hasil laut (secara barter) namun perlu perhatian khusus rumah dinas dan tunjangan kesehatan keluarga dan pendidikan keluarga wajib dipenuhi BUMN beserta Pemda sekitar. Harga tanah di pesisir pantai jauh lebih murah dibandingkan perkotaan memungkinkan pembangunan rumah dinas. Dengan dibangun Puskesmas dan RSUD Kabupaten pesisir terjamin kesehatan keluarga serta perhatian pendidikan dasar, menengah di Pesisir yang mendapat perlu tunjangan khusus.

    Tenaga Medis, Dokter, Guru, Guru Bantu mendapatkan gaji dari pemerintahan pusat dan daerah. Namun mereka membutuhkan lauk pauk setiap hari untuk kecukupan protein. Pegawai galangan kapal dapat mensuplai kebutuhan lauk pauk tenaga PNS tersebut tanpa perlu membayar iuran bulanan. Gaji para PNS, tunjangan lauk pauk bisa ditabung untuk membangun rumah dinas atau rumah pribadi bagi mereka sepanjang Pesisir.

    Kelapa Nyiur sepanjang pesisir berpotensi untuk menjadi sumber kayu dan minyak manih. Kayu yang direndam di sungai bertahun lalu diluruskan dengan peralatan mekanik kayu dapat digunakan untuk kapal-kapal cadik, trimaran. Bila minyak kelapa itu dapat diolah menjadi kelapa premium, bisa bertahan 1 thn-2 tahun, sebenarnya bisa untuk menjadi bahan bakar mesin maritim, syaratnya air, gemuk asam nabati, padatan dan gumpalan bisa dihilangkan dalam proses kimia dan penyaringan

    Minyak Kelapa sebagai Alternatif Bahan Bakar.
    http://www.dekindo.com/content/artikel/bahan_bakar.pdf

    Mesin pembuat VCO (minyak tahan hingga 2 tahun).
    http://www.mesinvco.com

    Semoga berguna.
    Wass.Wr.Wb.

  2. AUGI JD berkata:

    Tambahan Informasi tentang Solar Diesel Maritim dari Minyak Kelapa, COCODIESEL melalui proses industri kimia.

    Coco Methyl Ester (Cocodiesel)
    Sebagai Bahan Bakar Pengganti Solar ‡
    Kendedes Yuniasri1,*
    Balai Besar Kimia Dan Kemasan, Departemen Perindustrian, Pekayon PS. Rebo, Jakarta Timur

    http://www.analitik.chem.its.ac.id/attachments/-01_03%20Ken%20Dedes.pdf

    Akta Kimindo Vol. 3 No. 1 Oktober 2007 : 17 – 20

    Semoga bermanfaat.
    Wass.Wr.Wb.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: