Saatnya Pemetaan Dampak Gempa

Fokus Minggu 16 Oktober 2009

Oleh H. Fachrul Rasyid HF

Sudah dua pekan gempa dahsyat 7, 9 skala Rechter 30 September berlalu. Namun masih berkutat soal bantuan bahan makanan air bersih dan bantuan tenda yang belum memadai bagi warga. Dilihat dari jumlah bantuan barang dan uang yang telah disalurkan baik melalui Satkotrlak di Gubernuran, atau langsung di Pelabuhan Telukbayur dan Bandara Minangkabau

ke kabupaten/kota seharusnya bantuan itu sudah cukup menolong warga mengatasi kesulitan bahan pangan dan kebutuhan darurat korban gempa itu. Kenyataannya, bantuan yang sampai di tangan rakyat masih sangat memprihatinkan.

Padahal sudah saatnya Satlak Penanggulangan Benacana dan Pemda Kabupaten /Kota menginvetarisasi seluruh permasalahan di daerahnya. Dari inventarisasi persoalan itu akan dapat dipetakan secara konkret kondisi dan situasi tiap nagari/kelurahan dan kebutuahn-kebutuan yang seharusnya diprioritaskan.

Kini di tengah keprihatinan bahan makanan dan tempat berteduh muncul persoalan pendidikan dan kesehatan. Banyak sekolah-sekolah yang hancur akibat gempat murid-muridnya tak bisa belajar karena tak ada ruang belajar. Padahal bantuan tenda kelas darurat baik dari UNICEF, bantuan negara asing dan dari pemerintah pusat jumlahnya cukup besar. Namun kenyataannya tidak sampai ke desa yang membutuhkan.

Kondisi kesehatan warga pun semakin memburuk akibat kekurangan makanan, kekurangan air bersih, tinggal di tempat-tempat yang tak layak huni, minimnya MCK dan sebagainya. Beberapa jenis penyakit, misalnya diare, munteber, isfa, penyakit kulit dan batuk mulai menyerang warga.

Sementara warga, baik karena masih trauma maupun karena kesulitan transportasi, tak mampu mendatangi puskesmas. Apalagi ada diantara puskesmas yang rubuh akibat gempa. Sebaliknya upaya penanggulangan kesehatan oleh petuas Puskesmas Keliling, maupun tim kesehatan provinsi tetangga dan negara lain masih belum menjangkau warga. Pelayanan kesehatan masih terpusat di posko-posko kesehatan yang tak terjangkau semua warga.

Kenyataan di atas membuktikan, meski sudah dua pekan pasca gempa, Pemda Kabupaten/ Kota masih belum memiliki peta kondisi ril, yang memetakan keadaan dan kebutuhan warga setiap kelurahan/nagari. Padahal peta ini sangat mendesak diperlukan demi efektifitas penunggalangan bencana dan pendistribusian bantuan makanan, pelayanan kesehatan dan rehabilitasi mental dan pemukiman warga.

Sebetulnya kalau bupati/walikota mengenal dan menguasai wilayah sosial budaya dan ekonomi rakyat daerahnya secara benar selama ini tentulah peta tersebut bukan hal sulit dibuat. Kalau saja bupati/walikota menurunkan tim monitor ke setiap kelurahan/nagari dalam waktu satu dua hari pasca gempa tentulah peta dimaksud sudah bisa dibuat. Di situ akan tergambar kondisi kerusakan ringan, sedang dan berat tiap kelurahan dan nagari. Peta itu bisa dilengkapi data kerusakan infrastruktur, sarana prasarana, perumahan penduduk, sekolah, rumah ibadah sampai pada barang kebutuhan warga.

Akibatnya, meski berbagai bantuan barang, uang dan tenaga sudah disalurkan ke berbagai lokasi, namun tetap saja bantuan-bantuan tersebut belum menjawab persoalan yang dihadapi warga. Kita khawatir sampai masa tanggap darurat berlalu persoalan yang dihadapi warga itu tetap saja tidak teratasi.

Kondisi sekarang sebetulnya memperlihatkan kepada kita bagaimana kepemimpinan/ kepemerintahan bupati/walikota selama ini. Dan melihat gejalanya tak sampai masa tanggap darurat berlalu, akan ada pejabat kabupaten/kota yang jadi urusan penegak hukum. Baik karena penyimpangan penyaluran bantuan barang maupun bantuan uang. Sementara rakyat tetap larut dengan kondisi yang memprihatinkan. (*)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: