Ada Apa di Balik Perebutan Kursi Gubernur?

Oleh H. Fachrul Rasyid HF

Fokus Minggu 14 Maret 2010

Nama-nama yang mencalonkan diri jadi gubernur atau wakil gubernur, menyongsong pemilihan Gubernur Suimatera Barat 30 Juni 2010 mendatang sudah sedemikian banyak. Paling tidak sudah ada 16 nama yang mendafaktar diri kepada partai-partai yang ada. Jauh sebelumnya mereka juga sudah turun ke berbagai simpul masyarakat dan memasang baliho diri di pelsok daerah ini.

Pertanyaannya adalah mengapa begitu banyak orang berminat jadi gubernur itu. Mau mengabdi, mencari popularitas, mendapatkan keuntungan material atau apa. Soalnya gaji seorang gubernur hanya sebesar Rp 6,8 juta sebulan. Sementara biaya poltik untuk ikut pemilihan gubernur paling tidak menghabiskan 3 hingga Rp 5 milyar. Artinya kalau mengharapkan keuntungan dari gaji semata, tentulah invetasi minimal sekitar 3 hingga Rp 5 milyar tak mungkin digantikan gaji lima tahun masa jabatan.

Sementara Sumatera Barat daerah yang miskin  miskin sumber daya alam, minim industri dan perdagangan. Sumatera Barat masih merupakan daerah pertanian, mengandalkan industri kecil, jasa dan perdagangan dalam volme dan sekala kecil. Sumber PAD terbesar masih dari pajak kendaraan bermotor. Kondisi ini sangat tidak memungkin mengeruk keuntungan kecuali ”memainkan” pelaksanaan proyek-proyek APBD. Jika ”bermain” di proyek tersebut jelas akan berimplikasi pada kesejahteraan rakyat disamping akan jadi urusan penegak hukum.

Tapi mengapa orang-orang begitu berminat jadi gubernur? Apakah begitu mudah jadi gubernur itu. Begitu mudahkah masyarakat Sumatera Barat dipengaruhi. Begitu mudahkah masyarakat Sumatera Barat percaya pada penampilan, kekayaan pangkat dan jabatan para calon?

Besarnya minat orang mencalonkan diri jadi gubernur boleh jadi karena diantaranya merasa sudah menjadi tokoh di Jakarta, lalu, tiap pulang ke Padang disambut berbagai pihak. Padahal sebagai tamu dari rantau wajar kalau mereka disambut. Tapi itu bukan berarti mereka dipilih untuk jadi gubernur. Begitu juga tokoh yang merasa telah menguasai kota Padang lalu merasa sudah menguasai Sumatera Barat. Padahal Padang memang Sumatera Barat tapi Sumatera Barat bukan hanya Padang.

Rakyat Sumatera Barat kini pantas mempertanyakan tokoh-tokoh yang berambisi jadi gubernur itu mengingat kondisi Sumatera Barat hari ini dan kedepan masih menuntut dan akan terus menuntut calon gubernur yang tak cukup hanya memiliki kompentensi akademis dan popularitas serta dukungan politik tapi harus memiliki integritas moral. Memiliki pengalaman kepemerintahan/kepamongan yang memadai dan teruji sehingga Sumatera Barat tidak dijadikan sebagai tambang uang dan kelas eksprimen politik.

Rakyat Sumatera Barat baru merasakan berotonomi dan secara ekonomi terus berusaha hidup mandiri jelas tak mau daerah ini dijadikan ajang perebutan kekuasaan politik untuk memenuhi ambisi pribadi dan ambisi partai politik tertentu, kecenderungan yang telah menghancurkan kehidupan rakyat di sejumlah daerah. Hal itu terlihat dari evaluasi  Depdagri terhadap 135 kabupaten, 31 kota dan 7 provinsi pemekaran selama sepuluh tahun otonomi daerah.

Dari 148 daerah yang dievaluasi, lebih 80% bermasalah dan dikategorikan gagal. Kemudian 87% dari  65 daerah induk belum menyelesaikan pembiayaan, personel, peralatan, dan dokumen (P3D), dan 79% daerah baru belum memiliki batas wilayah yang jelas, 91% belum punya RTRW sampai sekarang. Ini menjadi bukti  bahwa motivasi melakukan pemekaran wilayah itu dilandasi motif politik, yaitu keinginan segelintir elite politik daerah untuk berkuasa. Dan, motivasi itupun perlu diwaspadai karena bisa membahayakan Sumatera Barat yang baru mulai terangkat marwahnya di mata nasional. (*)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: