Bengkalai di Jalur Alai

Oleh H. Fahrul Rasyid HF

Refleksi Haluan Kamis 11 Maret 2010

DPRD Sumatera Barat, sementara menghentikan alokasi anggaran pembangunan jalan dua jalur Pasar Alai-By pass, Padang, untuk APBD 2010. Soalnya, dana dua tahun anggaran sebelumnya, 2008-2009, batal dicairkan karena Pemko Padang gagal merampungkan pembebasan lahan. Demikian diungkapkan M. Nurnas Ketua Komisi III DPRD Sumatera Barat (Haluan Rabu 10/03/10).

Sikap DPRD Sumatera Barat itu, seperti diakui Suwirpen, anggota Komisi III, boleh jadi mengecewakan warga kota Padang. Maklum, jalan Alai – By pass, seiring perkembangan pemukiman, merupakan jalur utama terdekat dari pusat kota utara kota. Pemko Padang sendiri tak berusaha memperbaiki jalan yang sempit dan parah itu sehingga tiap pagi dan sore jadi sarang kemacetan lalulintas.

Status Alai-By pass adalah jalan provinsi, berfungsi sebagai kolektor ateri, penghubung antara jalan utama, yang pembangunannya dibiayai provinsi. Namun pembebasan lahan jadi tanggungjawab Pemko Padang. Jika pembebasan lahan tak tuntas otomatis pembangunan pisik jalan juga tak akan dimulai. Dan, karena itulah kenapa jalan yang telah direncanakan sejak 1993 silam tak kunjung dibangun.

Sikap DPRD provinsi itu, meski beresiko pada rakyat, masuk akal. Pertama, sejalan dengan prinsip anggaran berbasis kinerja. Jika anggaran dinilai tak efetktif penggunaan dan pemanfaatannya, DPRD wajib meninjau kembali apakah membatalkan alokasi anggaran,  menunda kelanjutan pembangunan atau dibatalkan sama sekali. DPRD berhak merelokasi  ke daerah lain atau kegiatan yang dinilai lebih efektif dan bermanfaat segera.

Saya mungkin termasuk getol menyarankan agar DPRD Sumatera Barat menerapkan pripsip itu pada tiap dana APBD yang dikucurkan ke daerah, ke kecamatan dan ke nagari-nagari. Apakah itu untuk kesejahteraan sosial, seperti pendidikan, kesehatan, bantuan sosial atau bidang ekonomi seperti intensifikasi perkebunan, pertanian, perdagangan, perindustrian, koperasi dan usaha kecil.

Sebab, fakta membuktikan tak semua pemda sungguh-sungguh merespon program dan anggaran dari provinsi. Pembagian bibit kakao atau bibit padi unggul misalnya. Di beberapa daerah bibit itu dibagikan begitu saja tanpa dibarengi penyuluhan dan pembinaan petani sehingga dana dan programnya jadi sia-sia. Seharusnya, dari dulu DPRD mengevaluasi mana  pemda yang serius dan tak serius memanfaatkan dana APBD provinsi itu. Bagi yang serius, sebaiknya anggarannya ditingkatkan. Sebaliknya bagi yang tak serius, anggarannya dikurangi atau dibatalkan sama sekali.

Sikap itu diperlukan, pertama, sesuai prinsip anggaran berbasis kinerja tadi. Kedua, untuk membuktikan keberadaan dan perhatian DPRD dan Pemerintahan Provinsi kepada rakyat. Ketiga, meski akan beresiko kepada rakyat namun rakyat juga perlu disadarkan bahwa pemerintahan provinsi bukan dermawan yang hanya memberi dan tak berharap kembali. Keempat, sikap DPRD itu dapat jadi ”hukuman” atau ”cambuk” bagi kepala daerah yang tak sungguh-sungguh meningkatkan kesejahteraan rakyat. Kelima, untuk membangun kewibawaan pemerintahan provinsi di depan rakyat dan para kepala daerah yang sejak otonomi cenderung merasa jadi ”raja” sendiri.

Sayang, DPRD provinsi selama ini, meski selalu mematok anggaran untuk daerah, kecamatan dan nagari namun tak rajin mengevaluasi penggunaan dan manfaat anggaran itu. DPRD masih lebih suka reses/kunjungan kerja ke luar provinsi. Kalau pun ke daerah-daerah, hanya sebatas bertemu kepala daerah atau dinas instansi tingkat kabupaten/kota. Padahal, sesuai UU, DPRD wajib mengevaluasi kelancaran, efektivitas dan manfaat semua anggaran APBD itu. Tak aneh jika selama ini, lembaga wakil rakyat ini seolah tak berakyat. (*)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: