Ulama, Jauh Dekat Bermasalah

Oleh H. Fachrul Rasyid HF

Refleksi Haluan 2 Febraurai 2010

Malam 17 Februari 2010 lalu saya menerima telepon dari seorang ulama pengurus MUI Kota Padang. Ulama itu menanyakan bagaimana sebaiknya ulama bersikap sehingga tidak mengundang heboh? Pertanyaan itu berkaitan dengan diskusi tentang haramnya berunjukrasa yang diselenggarakan PBHI Sumatera Barat di Kantor Harian Singgalang siangnya sebagai  tanggapan atas fatwa pribadi Prof. Dr. Salmadanis yang mengharamkan berunjukrasa saat berkhutbah Jumat di Masjid Komplek Kantor Gubernur Sumatera Barat 5 Februari 2010.

Jawaban saya terhadap ulama itu sederhana. Untuk menghindari pro kontra dan kehebohan dalam masyarakat sebaiknya ulama, termasuk akademisi, pengamat, budayawan dan tokoh masyarakat seperti politisi, pemuka adat dan sebagainya, bersikap objektif. Pendapat dan pernyataannya tidak mengesankan keberpihakan. Untuk menjadi objektif selalulah merujuk hal-hal yang bersifat normatif; aturan/ketentuan, dan nilai-nilai sosial budaya yang berlaku.

Dengan demikian pendapat/pernyataan ulama, cendekiawan, pengamat dan tokoh masyarakat  tersebut bisa menjadi rujukan atau jadi jalan tengah dan bahkan solusi pemecahana persoalan  siapapun dan apapun. Selain itu, dalam kehidupan masyarakat yang masih normal hal-hal yang bersifat normatif lazimnya didukung banyak orang.

Pernyataan dukungan MUI dan LKAAM Kota Padang terhadap upaya penangkapan para aktivis Faroum Warga Kota yang berunjukrasa, sebagaimana dilansir media massa belakangan bisa dijadikan contoh. Pernyataan dukungan itu menimbulkan pro kontra dan bahkan sanggahan dari organisasi yang lain, misalnya MTKAAM. Soalnya, pernyataan itu mengesankan keberpihakan MUI sebagai refresentasi dari organisasi keulamaan dan LKAAM sebagai refresentasi dari oragnisasi pemuka adat terhadap salah satu pihak di seputar unjuk rasa itu.

Secara alamiha, bila sebuah pendapat terkesan berada pada salah satu pihak akan mengundang pihak lain untuk berada di sisi yang lain. Dalam teorinya, apabila ada 100 orang dalam satu kumpulan, 90 diantaranya berada di satu pihak, maka 10 orang lagi tentu berada di pihak yang lain. Dan yang 10 itu bisa jadi punya pendukung yang lebih besar lagi. Kalau cara itu diteruskan, apalagi mengatasnamakan organisasi yang dianggap milik semua orang, sama artinya membangun kelompok antipati organisasi tersebut.

Tak aneh jika kemudian muncul pertanyaan kepada MUI dan LKAAM. Apakah mereka yang ditangkap polisi itu bukan umat Islam yang mestinya diayomi ulama dan anak keponakan para penghulu adat yang seharusnya mendapat pencerahan LKAAM. Nah, kalau dikeruk lebih dalam akhirnya akan sampai pada kesimpulan: sesalah-salah umat masih lebih salah ulama, sesalah-salah keponakan masih lebih salah pemuka adat. Karena itu  ada pribahasa adat, mamak di pintu utang keponakan di pintu bayia.

Khusus bagi para ulama, banyak butir etika sebagai benteng integritas ulama yang bisa dibaca dari buku Mencari Ulama Pewaris Nabi karangan Umar Hansyim (Pt. Bina Ilmu –Surabaya, 1979). Diantaranya diingatkan agar ulama tidak menjauhi dan tidak pula mendekat umara’ (pejabat pemerintah). Sebab, resikonya hampir sama. Kalau ulama menjauhi umara”, umara’ bisa terjauh dari nilai-nilai agama dan bahkan bisa tergelincir kepada perbuatan yang bertentangan dengan agama. Bila ulama terlalu dekat dengan umara’, maka ulamanya bisa jadi pesuruh jadi corong atau diatur oleh pejabat. Dalam konteks ini akan muncullah fatwa atau pendapat yang seolah-olah anjuran agama padahal tak lebih dari anjuran dari dan untuk kepentingan si pejabat. Inilah ulama yang di tahun 1970-an diejek di Malayisa dengan sebutan ulama sunsang.

Kalau memang ulama ingin dihargai, dihormati dan punya integritas di depan semua pihak, ia harus menjaga jarak dalam bertindak dan bersikap. Menjadikan Alquran dan Hadits sebagai rujukan, norma bagi kehidupan semua lapisan dan semua pihak. (*)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: