Menjual Tambang Tanpa Arang

Oleh H. Fachrul Rasyid HF

Komentar Singgalang 17 Maret 2010

Ir. H. Amran Nur, agaknya pantas disebut wali rakyat Sawahlunto ketimbang Walikota Sawahlunto. Sebab, baginya kota hanyalah wilayah administarasi pemerintahan. Rakyat adalah tujuannya pemerintahan itu. Maka, Amran terus berusaha memanfaatkan kota bagi kesejahteraan rakyatnya.

Langkah Amran sederhana dan mudah dibaca. Ketika pertama menduduki kursi walikota 25 Juni 2003 silam, produksi arang atau  batubara PT. Bukit Asam Unit Penambangan Ombilin  Sawahlunto yang menjadi basis ekonomi warga dan kota sedang lumpuh akibat digerogoti penambang liar dan krisis ekonomi. Amran segera mengalihkan perhatian rakyat ke bidang perkebunan. Ia mengajak rakyat menanam ratusan ribu pohon karet dan kakao alias coklat.

Hasilnya nyata. Kini rakyat bisa memanen dan menjual kakao sekitar Rp 24.000/kg dan karet sekitar Rp 11.000/kg, jauh lebih tingi ketimbang harga sawit,  Rp 1.300 /kg. Secara tak sengaja, pohon kakao dan karet itu ikut menghijaukan Sawahlunto. Sehingga, Batang Lunto yang membelah Kota Sawalunto,  yang dulu airnya keruh akibat erosi dan kebun singkong kini berubah jernih.

Amran belum berhenti. Ia kemudian membangun waterboom, air terjun dan pemandian yang dilengkapi kebun binatang dan taman rekreasi. Ternyata objek wisata itu laris manis dan mengundang beberapa kota di Sumatera Barat meniru taman serupa. Belakangan, setelah  menyerahkan pengelolalan waterboom kepada pihak swasta, Amran pun merealisasikan visi Sawahlunto sebagai Kota Tambang yang Berbudaya. Ia ”menjual” kota tua yang kaya peninggalan penambangan sejak geolog muda Belanda, W.H. de Greve,  menemukan batubara di Sawahlunto tahun 1871 silam.

Amran, belakang dipercaya sebagai ketua Jariangan Kota Tua (JKT) Indonesia,  melakukan serangkaian kegiatan konservasi, inventarisasi serta revitalisasi peninggalan sejarah itu. Ia bukan mengundang investor tapi bekerjasama dengan beberapa ahli dari  ITB, UGM, Unand, serta sarjana dan pemuka adat/agama Sawahlunto sendiri.

Begitu juga untuk sosialisasi visi kota. Pekan lalu misalnya, selama empat hari hingga 14 Maret, Amran mengadakan Pelatihan Penguatan Pemda Dalam Pengelolaan Kota Tua. Pelatihan itu diikuti seluruh kepala SKPD Sawahlunto, beberapa pejabat daerah lain dan pemuka masyarakat. Lima fasilitator pelatihan terdiri dari para ahli Badan Pelestarian Pasaka Indonesia (BPPI). Bahkan, Ketua BPPI, Setyanto P. Santoso, mantan Dirut Garuda Indonesia, ikut menyampaikan makalah dalam diskusi hari terakhir itu.

Saya ikut diundang walikota untuk diskusi tersebut, berbicara soal tantangan dan peluang Kota Tua Sawahlunto sebagai kota tujuan wisata. Terus terang saya optimis upaya Amran akan membuka mata rantai ekonomi rakyat Sawahlunto. Selain melihat kesungguhan dan persiapan yang dilakukan, potensi wisata Sawahlunto sebagai kota tambang dan kota tua  memang cukup besar. Setidaknya ada 70 peninggalan sejarah penambangan yang bersifat fisik/ bangunan, 61 yang bersifat non fisik dan 19 objek wisata alam.

Jika direkonstruksi dan direvitalisasi kemudian difasilitasi sarana dan prasarana memadai, lalu, dikemas dengan kisah yang melekat pada tiap tempat dan lokasi, semua itu tak hanya jadi objek wisata tapi juga objek studi/ penelitian pertambangan. Sawahlunto bahkan bisa jadi kota wisata tanpa polusi karena semua objek dapat dikunjungi berjalan kaki. Dan, kian menarik bila jalan-jalan dirindangkan penghijauan, tersedia tempat terbuka yang teduh, restoran bermenu khusus dan tentu juga cendramata yang menarik dan murah.

Bila terpublikasi dengan apik dipastikan pengunjung berdatangan dari berbagai daerah dan negara. Soalnya, peninggalan tambang dan kota tua seperti Sawahlunto terbilang langka di dunia. Disamping itu, kehidupan modern dengan teknologi serba canggih yang membuat kehidupan serba instan tanpa nilai-nilai dan hikmah, memotivasi masyarakat  melirik ke masa lalu. Lumrah jika, misalnya, Piramida di Mesir, Brobudur di Jawa Tengah dan Tanj Mahal di Pakistan tetap lebih menarik dikunjungi orang ketimbang Twin Tower Putra Jaya Kuala Lumpur, Burj Dubai, gedung 80 lantai di Dubai.

Buah kerja keras itu mulai nyata. Kini Sawahlunto sebagai kota wisata di posisi kedua di Sumatera Barat setelah Bukittinggi yang semakin sumpek. Buktinya, tahun 2009 Dinas Pariwisata setempat mencatat pengunjung sekitar 537 ribu, lebih sepuluh kali tahun sebelumnya. Wajar jika dalam waktu singkat 75 toko/warung baru dibangun warga. Dan, tahun depan dua hotel berbintang juga akan tegak di sini.

Tak pelak, menjual tambang tanpa arang batubara, bisa membuat warga Sawahlunto mengalami ”revolusi”. Bila dulu saat berburu batubara, atau berkebun singkong, warga menyendiri bergelimang tanah, kini, sebagai warga kota wisata, mereka tentu harus bersih, rapi dan bersikap ramah di keramaian pengunjung Soldtown, singkatan dari Sawahlunto Old Town. (*)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: