Pertukangan Lapangan Yang Terabaikan

Oleh H. Fachrul Rasyid HF

Komentar Singgalang 15 Maret 2010

Setiap tahun Sumatera Barat menamatkan sekitar 45 ribu siswa SLTA. Tahun 2008 misalnya, tanmatan SMA/ MAN sekitar  35 ribu  dan SMK sekitar 11 ribu orang. Katakanlah seluruh tamatan SMK langsung masuk lapangan kerja dan sekitar  15 ribu  tamatan SMA/MAN melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi.  Lalu kemana sisanya, sekitar 20 ribu  lagi? Bekerjakah mereka? Tak jelas.

Yang pasti tahun 2008 di Sumatera Barat angka pengguran di Sumatera Barat sekitar tat 171 ribu orang. Dan, mengingat terbatasnya investasi, pembukaan lapangan kerja baru, lalu, rendahnya minat generasi bekerja di bidang pertanian, diperkirakan angka pengangguran itu tak banyak berubah dari tahun ketahun.

Atas kenyataan itu empat tahun lalu saya menawarkan alternatif kepada Pemda Sumatera Barat.  Yaitu mencetak tenaga tenaga kerja bidang pertukangan alias tukang bangunan bagi tamatan SMA/MAN itu. Hal ini bisa ditangani Dinas Tenaga Kerja, bekerjsama dengan Dinas Ciptakarya, kini Tata Ruang dan Pemukiman di bawah Dinas Kimpraswil/PU yang membidangi konstruksi bangunan, Pemda Kabupaten/Kota dan pengelola Balai Latihan Kerja (BLK) yang ada. Setidaknya sekitar 2000 tamatan SMA/MAN bisa sialtih jadi tukang tiap tahun. Dan, ini sekaligus menjadi jalan pintas bagi tenaga tak siap kerja jadi siap kerja.

Ada beberapa alasan.  Pertama, lapangan kerja pertukangan terbuka sepanjang tahun, baik untuk bangunan pemerintah, swasta atau milik penduduk. Kedua, pertukangan diyakini diminati generasi muda karena ilmu pertukangan sudah jadi keterampilan rakyat Sumatera Barat sejak dahulu kala. Tukang-tukang di Sumatera Barat sudah lama mengenal teknik konstruksi yang benar, baik konstruksi kayu maupun konstruksi beton, termasuk bangunan tahan gempa yang kini sedang ramai disosialisasikan.

Ketiga, regenerasi tenaga pertukangan di Sumatera Barat selama ini nyaris berlangsung  secara alami  dantradisional terhadap pemuda lingkaran keluarga, terhadap mereka yang tak bersekolah atau putus sekolah. Mereka nyaris terdidik oleh keadaan dan bahkan keterpaksaan. Jika kebetulan tukang yang membawanya punya keterampilan lebih, maka anak buah alias pekerjanya akan mendapat keterampilan yang memadai.  Jika tidak, keterampilan mereka apa adanya. Inilah umumnya yang langsung bekerja di masyarakat.  Artinya, mereka tak memperoleh pendidikan/ pembekalan ilmu dan pengenalan teknologi yang berkembang.

Akibatnya, selain keterampilannya menurun dan jumlahnya kian berkurang upah tukang di Sumatera Barat, apalagi di Kota Padang, lebih mahal dibandingkan daerah lain. Itu sebabnya, di saat jumlah pengangguran membengkak, pengusaha konstruksi Sumatera Barat justru mendatangkan tenaga tukang dari Sumatera Utara atau Pulau Jawa. Mereka yang dari luar daerah itulah yang mengerjakan sebagian besar bangunan pemerintah atau swasta di Sumatera Barat lebih sepuluh tahun terakhir. Sementara tukang lokal hanya berkutat di sekitar bangunan penduduk kelas sederhana.

Pasca gempa berkekuatan 7,9 SR 30 September 2009 lalu kebutuhan tenaga tukang sangat terasa. Maklum, akibat gempa itu sebanyak 114.797 bangunan mengalami rusak berat, 67.198 rusak sedang dan 67.838 rusak ringan. Untuk rekonstruksi dan rehabilitasi bangunan dibutuhkan tenaga tukang sekitar 15 ribu orang. Jika tenaga itu tersedia di Sumatera Barat, paling tidak untuk dua tiga tahun ke depan sekitar 15 ribu tenaga kerja bisa tertampung.

Kalau saja  Dinas Tenaga Kerja melaksanakan pendidikan pertukangan itu empat tahun lalu, setidaknya separuh dari jumlah tukang yang diperlukan bisa diserap dari tamatan SMA/MAN.  Kalau Dinas Tenaga Kerja pernah mengusulkan program dan anggran itu ke DPRD Provinsi dan tiap Kabupaten/Kota, dipastikan tiap DPRD akan mengalokasikan anggaran untuk itu.

Kini, mestinya, dengan momen pasca gempa ini Pemda dan DPRD Sumatera Barat termotivasi untuk memprogramkan pendidikantenaga tukang tersebut. Dan, perguruan tinggi yang ada pun diharapkan ikut berpatisipasi.

Semua pihak tentu menyadari bahwa persoalan pertukangan bukan hanya sebatas kepentingan lapangan kerja tapi juga pelestarian budaya. Sebab, tukang pada dasarnya adalah budayawan/ seniman yang berperan melestarikan budaya satu bangsa.  Dan, peradaban satu bangsa sering dilihat dari karya bangunannya. Karena itu kalau mau arsitektur Minangkabau tetap lestari tentu keterampilan pertukangan Minang pun harus diwariskan dari generasi ke generasi.(*)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: