Polisi Bukan Patung

Oleh H. Fachrul Rasyid HF
Pos Metro Opini 8 Februari 2010

Polisi bukanlah patung. Ungkapan yang datang dari seorang perwira menengah polisi itu sempat mengagetkan saya dan beberapa teman saat sarapan pagi di sebuah warung beberapa hari setelah aksi unjukrasa di Jl. A.Yani di depan rumah dinas Walikota Padang 10 Februari 2010 lampau.

Rupanya ia ingin berbagi suka duka saat mengamankan aksi unjuk rasa itu. Katanya, ia dan sejumlah anggota ditugasi mengamankan walikota yang didatangi pengunjukrasa. Ternyata, seperti lazimnya, walikota yang akan diamankan tak berada di tempat. Setelah lama menanti, pengunjukrasa kecewa. Kemudian sembari berteriak-teriak mereka melemparkan tempurung kelapa ke halaman rumah walikota.

Polisi pun merasa dikecewakan. Soalnya, akibat walikota tak menemui mereka, tugas polisi yang seharusnya mengamankan walikota berubah jadi mengamankan rumah dinas walikota. Lemparan pun mengarah kepada polisi. ”Kami bukan patung yang bisa dihadapkan kemana-mana. Kami juga manusia yang punya emosi: rasa kasihan, marah, sedih dan gembira. Kami dihadapkan pada dilema, melindungi rumah dinas walikota melindungi diri sendiri atau membiarkan pengunjukrasa. Akhirnya dalam pikiran yang berkecamuk kami amankan rumah walikota sebagai aset negara. Pengunjukrasapun disemproti air,” katanya.

Ungkapan ”polisi bukan patung” itu buat saya mungkin juga bagi para pengamat lainnya merupakan sebuah respons yang tulus terhadap perkembangan politik dan demokrasi. Bukan hanya dilihat dari aksi ujukrasa di Padang, tapi diseluruh pelosok negeri ini. Di satu pihak unjukrasa diakui sebagai salah bentuk wadah penyampaian aspirasi dalam berdemokrasi. Di pihak lain aksi unjukrasa nyaris selalu dilatarbelakangi ketidakpuasan terhadap kebijakan pejabat politik, eksekutif maupun legislatif. Atau sebagai reaksi terhadap sikap pejabat yudikatif yang terkesan lamban dan bahkan lalai merespon pelanggaran hukum, atauran dan ketentuan oleh pejabat politik.

Kondisi itu kemudian diperburuk sikap pejabat politik yang suka menghindar sehingga komukasi tak berlangsung sebagaimana mestinya. Saat komunikasi macet, sebagai manusia lumrah muncul aksi emosional yang kemudian bisa berujung anarkis. Menghadapi kenyataan itu polisi, sebagai manusia biasa dan sebagai aparat penegak hukum, tentu berada pada posisi dilematis. Di satu pihak mereka mesti menindak pengunjukrasa yang dinilai anarkis, di pihak lain mereka seharusnya juga menindak para pejabat politik yang menjadi pemicu unjukrasa itu.

Polisi jelas amat menyadari, jika merujuk prinsip-prinsip pengamanan dan penciptaan ketertiban masyarakat maka yang harus ditindak terlebih dahulu seharunya adalah pelanggaran hukum oleh pejabat politik itu. Dengan cara itu unjuk rasa, apalagi aksi anarkis, bisa dihindarkan.

Tapi kini, entah karena kemauan atau kebijakan politik, polisi lebih sering dihadapkan pada pengunjukrasa. Akibatnya sulit dihindarkan munculnya kesan seolah-olah polisi dibenturkan dan memusuhi rakyat. Padahal kita sangat yakin, pejabat kepolisian tak menginginkan hal itu. Pertama karena polisi jelas bukan patung atau robot yang tak berfikir, tak punya emosi dan mudah diperalat. Polisi juga menyadari bahwa mereka datang dari dan untuk rakyat dan digaji negara dari uang rakyat. Lebih dari itu tugas kepolisian justru melindungi rakyat dari segala bentuk kesewenang-wenangan dan pelanggaran hukum, tentu termasuk oleh pejabat politik.

Karena itu ungkapan perwira polisi tadi bahwa polisi bukan patung, buat saya sungguh dalam maknanya. Di tengah-tengah upaya membangun citra bhayangkara, di saat polisi berusaha merangkul simpati dan partisipasi rakyat dalam menciptakan dan memelihara ketertiban dan keamanan di seluruh pelosok negeri yang belum semuanya terjangkau polisi, polisi justru terus saja dihadapkan kepada rakyat.

Padahal meski para pengunjukrasa terus ditangkapi, diadili dan dihukum, terbukti selama pemicu unjukrasa masih belum terjangkau hukum, unjukrasa bukannya reda tapi justru makin menggila. Maka kita percaya, karena bukan patung, pada akhirnya polisi akan berbicara dengan hati nuraninya sendiri.(*)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: