Sumatera Barat Berkiblat ke Timur

Oleh H. Fachrul Rasyid HF

Majalah Rantau Edisi Februari 2010

Sumatera Barat terus meningkatkan transportasi darat ke Pantai Timur Sumatera. Empat jalur jalan  siap membuka pedalaman Ranah Minang ke  bibir Selat Melaka. Menikam jejak sejarah perdagangan jalur sungai Minangkabau ke Malaya berabad-abad silam?

Perlahan tapi pasti  ekonomi Sumatera Barat terus berkiblat ke Pantai Timur, ke Selat Melaka. Jalur perdagangan internasional yang telah berdampak luas pada pertumbuhan penduduk dan ekonomi Provinsi Riau, Kepulauan Riau dan Jambi beberapa tahun terakhir. Apalagi di seberang Selat Melaka, negara Singapura dan Malaysia dengan kota-kota seperti Johor Baharu, Melaka, Penang dan jadi kota perdagangan Asia. Akibatnya, kota-kota seperti Pekanbaru, Dumai, Bengkalis, Batam, Tanjung Pinang dan Jambi jadi pasar produk pertanian, peternakan dan hasil industri kerajinan Ranah Minang.

Pantas jika kini Sumatera Barat, melalui Dinas Prasarana Jalan dan Tata Ruang Pemukiman  membangun empat jalur jalan raya untuk menjangkau lebih cepat dan dekat kawasan perdagangan itu. Keempat jalur jalan tersebut, pertama adalah Padang-Bukittinggi-Pekanbaru, Riau. Ruas jalan ini terus diperlebar 7 hingga hingga 9 meter sejak 1990-an. Jembatan tua dan sempit diganti. Tikungan dan tanjakan yang tajam dipangkas. Kini praktis Padang-Pekanbaru sejauh 312 kilometer bisa ditempuh selama 5 jam dari sebelumnya 7 hingga 8 jam.

Jarak tempuh masih bisa dipercapat apabila hambatan di Kelok Sembilan di kawasan Cagar Alam Teluk Air Putih, Kecamatan Harau, Kabupaten Limapuluh Kota, sekitar 45 kilometer di timur Kota Payakumbuh, dapat diatasi.  Kelok sembilan jadi masalah karena jalan selebar 5 meter itu tikungannya patah sering membuat truk semitrailer atau bus besar tersangkut di situ.

Untuk mengatasi kemacetan itu, seperti ditulis Rantau edisi I/ Desember 2009 lalu, di atas jalan Kelok Sembilan yang lama sejak Oktober 2003 lampau dibangun jembatan dan jalan layang sepanjang 4,4 kilometer terdiri dari enam ruas jembatan sepanjang 964 meter. Bagaikan seekor ular raksasa,  jalan dan jembatan itu meliuk-liuk diantara dinding – dinding bukit dengan tiang-tiang beton setinggi 100 meter, kelandaian 6% hingga 8%. Tikungannya dibuat lebih ramah,  berjari-jari 50 meter, jalan lama hanya 7 dan 20 meter. Dengan begitu pengemudi truk bisa melaju 40 kilometer perjam dari sebelumnya 5 kilometer perjam.

Rancang bangun jembatan itu dikerjakan tim ahli pimpinan pakar jembatan Dr. Muntasir Nasir dari Departemen Permukiman dan Prasarana Wilayah. Konsultan teknik jembatan adalah Ir. Sarmayenti Sail, dari PT Virama Karya, urang awak alumni Universitas Andalas, Padang, tahun 1988. Diharapkan jalan berbiaya sekitar Rp 250 milyar itu rampung akhir 2010 ini.

Tapi melihat pertumbuhan kendaraan akhir-akhir ini, tampaknya jembatan Kelok Sembilan yang baru itupun belum memecahkan persoalan kepadatan lalulintas Bukittinggi- Pekanbaru. Sebab, menurut penelitian Dinas Prasara Jalan dan Tata Ruang Pemukiman Sumatera Barat tahun 2002, di hari-hari biasa sekitar  6.800 unit dan di hari libur sekitar 1.350 unit kendaraan melintasi Kelok Sembilan.  Sekitar 28,5 juta ton barang Sumatera Barat, lebih dari 50% adalah hasil pertanian peternakan, dan sekitar 15,8 juta orang setahun melintas di sana.

Berangkat dari kenyataan itu Bupati Limapuluh Kota dr. Alies Marajo (2000-2005) membuka jalan kolektor primer Pangkalan Kotobaru- Sialang (Kecamatan Kapur IX) ke Panti Kabupaten Pasaman. Kemudian dari Sialang dibuka pula jalan ke Gelugur menuju Rokan (Riau). Dr. Alies Marajo juga telah membuka jalan dari Pangkalan – Siabu, Bangkinang, dan dari Buluh Kasok ke Lipat Kain, Kabupaten Palalawan Riau. Dibuka pula jalan dari Suliki- Palupuh Kabupaten Agam dan Kototinggi – Bonjol Kabupaten Pasaman. Dengan demikian otomatis jalan-jalan tersebut akan membuka akses langsung kendaraan dari pedalaman Sumatera Barat, ke Riau dan Sumatera Utara.

Ruas utama Padang- Bukitinggi, yang juga akan menyatu ke jalur Pekanbaru,  masih didukung jaringan ateri dan kolektor primer. Disamping sejumlah ruas jalan yang sudah, kini sedang ditunggu rampung akhir tahun ini adalah jalan Koto Mambang, Sicincin – Malalak – Balingka- Padang Luar- Bukittinggi sepanjang 48 kilometer, lebar 14 meter, dengan biaya sekitar Rp 220 milyar. Jalan ini akan menyambung ke rencana Jembatan Ngarai Sianok, jalan masuk dari arah Barat ke pusat kota Bukittinggi. Dan, pertengahan 2010 akan rampung pula pembangunan jalan dua jalur experssway, Duku-Sicincin sepanjang 19 km, lebar 34 meter, berbiaya sekitar Rp 200 milyar.

Jalur Padang-Pekanbaru tampaknya merupakan jalur terpadat dalam waktu sepuluh tahun kedepan.  Maklum, Riau dan Sumatera Barat saling punya ketergantungan. Di satu pihak Riau mengalami pertumbuhan ekonomi dan peningkatan jumlah penduduk yang cukup pesat. Di pihak lain Sumatera Barat mengalami kemjuan di bidang pertanian tanaman pangan, perikanan, peternakan, industri makanan, kerajinan dan pariwisata.

Karena itulah pemerintah pusat merencanakan pembangunan jalan tol Padang- Pekanbaru dimulai dari Bukittinggi tahun 2012. Jalan tol ini merupakan jari-jari jaringan jalan tol Lintas Sumatera yang akan rampung tahun 2022. Studi kelayakan tol Padang-Pekanbaru dikerjakan Perusahaan Korea Selatan, telah rampung Agustus 2009 lalu. Kepastian itu memaksa Rapat Kerja Gubernur se-Sumatera di Batam 21 Desember 2009 lalu merekomendasikan agar tiap daerah segera membebaskan lahan untuk jalan tol tersebut.

Satu hal yang tak terelakkan, rampungnya jembatan Kelok 9 akan memotivasi Pangkalan Kotobaru yang terletak di persimpangan jalan ke Kecamatan Kapur IX  menuju Kabupaten Rokan Hulu dan jalan ke Kuntu Darussalam, Kabupaten Palalawan, provinsi Riau jadi kota satelit terdekat di perbatasan Riau. Terletak di bibir Danau PLTA Kotopanjang, Pangkalan berpotensi jadi kota wisata dan olahraga dayung, lomba perahu, perhau layar, olahraga memancing terdekat dari kota Pekanbaru.

Jalur kedua adalah ruas jalan Rao, Kecamatan Rao Mapattunggul, Kabupaten Pasaman, di pinggir Lintas Tengah Sumatera, 30 kilometer ke perbatasan Kabupaten Rokan Hulu, Riau.  Ruas jalan ini tak hanya akan membuka pasar beras, ikan air tawar,  kakao dan kopi hasil Kabupaten Pasaman tapi juga saudara kembaranya Pasaman Barat di bibir Samudera Hindia yang terkenal dengan hasil minyak sawit, ikan laut, kakao, dan minyak nilam.

Ruas jalan ini bahkan akan berdampak ekonomi bagi Kabupaten Mandahiling Natal (Madina) yang berada di Pantai Barat Sumatera dan Kabupaten Tapanuli  Selatan di pedalam bagian tenggara  Sumatera Utara. Dengan adanya jalan Rao-Rokan kedua daerah penghasil ikan laut, karet, sawit, kopi dan beras itu bisa keluar dari ”keterpencilan” karena terpaut sekitar 500 kilometer dari Kota Medan ibukota provinsi Sumatera Utara.

Jika Pemerintah Daerah Provinsi Riau merampungkan kelanjutan ruas jalan Rao  ke Rokan kendaraan dari Kabupaten Pasaman Barat, Kabupaten Pasaman, Tapanuli Selatan dan Kabupaten Madina, Sumatera Utara,  bisa langsung ke Rokan, Pasir Pengarayan, Duri sampai ke Kota Dumai di pinggir Selat Melaka. Jalur ini jauh lebih dekat ketimbang Bukittinggi- Pekanbaru-Duri-Dumai. Dengan demikian dipastikan Panti atau Rao di ujung Kabupaten Pasaman akan berkembang jadi kota perdagangan.

Jalur ketiga adalah ruas jalan ateri pirmer dari Kiliran Jao, Kabupaten Sijunjung ke batas Riau menuju Teluk Kuantan, Kabupaten Kuantan Singinggi. Jalan ini menghubungkan Lintas Tengah dan Lintas Timur Sumatera. Bagi Sumatera Barat, terutama Kabupaten Sijunjung, Kabupaten Solok, dan Kabupaten Solok Selatan bahkan Kabupaten Pesisir Selatan, ruas jalan ini akan menjadi pintu gerbang ekonomi rakyat.

Maklum, Kabupaten Solok Selatan dan Pesisir Selatan yang terentang sepanjang  230 kilomter di Pantai Selatan Sumatera Barat selama ini nyaris bak daun telinga. Meski berdekatan tapi tak pernah bisa bertemu lantaran tak punya jalan penghubung satu sama lain.  Solok Selatan terentang sepanjang jalan provinsi sejauh 165 kilomter, hanya jadi lintasan angkutan dari Padang atau Solok ke Kabupaten Kerinci, Jambi. Solok Selatan tak bisa keluar ke arah utara atau timur ke  Kabupaten Dharmasraya karena terbentur  belum rampungnya jalan sepanjang 328 kilomter yang direncakan sejak 1992 silam.

Arah ke selatan Solok Selatan dipagar hutan lindung Taman Nasional Kerinci Sebelat (TNKS). TNKS pula yang mengganjal rencana pembangunan jalan dari Muaralabuh- Kambang Kabupaten Pesisir Selatan sepanjang 60 kilometer yang telah direncakan sejak 1994 silam.

Padahal kalau ruas jalan itu rampung, produksi ikan laut dan beras yang melimpah di Pesisir Selatan bisa dipasarkan sampai ke Jambi dan Riau  lewat Solok Selatan. Sebaliknya, produksi perkebunan dan pertambangan dari Dharmasraya bisa diangkut lewat Solok Selatan ke Pelabuhan Teluk Bayur, 200 kilomter lebih dekat ketimbang ke Padang lewat jalan Lintas Tengah Sumatera.

Solok Selatan sendiri punya 80 ribu hektare sawit dan 30 ribu hektare teh disamping hasil tanaman perkebunan tradisional: karet, kopi, kayu manis, pala, nilam, beras dan  kemiri. Bahan tambang seperti biji besi, batubara dan timah putih, sebagian sudah dieksploitasi. Malah kini PLN sedang mempersiapkan pembangkit listrik panas bumi berkuatan 230 megawatt di kaki utara Gunung Kerinci, cukup menutupi kekurangan tenaga listrik di Sumatera Barat.

Begitupun, sembari menunggu realisasi Jalan Kambang- Muara Labuh, Dinas Prasarana Jalan Tata Ruang dan Pemukiman Sumatera Barat secara bertahap memanfaatkan dana APBD membuka ruas jalan Padang Aro, ibukabupaten Solok Selatan – Lubuk Malako, Abay-Pulau Punjung ibukabupaten Dharmasraya. Bila jalan Alahan Panjang – Kiliran Jao rampung, Solok Selatan bisa lebih dekat ke Riau dan Pantai Timur

Jalur keempat adalah Solok-Dharmasraya- provinsi Jambi. Meski sebagian besar  merupakan jalan Lintas Tengah Sumatera ruas jalan ini adalah urat nadi ekonomi Kabupaten Solok, Solok Selatan, Sinjunjung dan Dharmasraya ke Riau via kiliran Jao atau ke Provinsi Jambi. Maka, untuk mempercepat pertumbuhan Dharmasraya dan daerah sekitarnya Dinas Prasarana Jalan Tata Ruang dan Pemukiman Sumatera Barat membangun dan meningkatkan kualitas jaringan jalan ateri primer dan jalan kolektor di kawasan itu.

Mulai jalan lingkar Pulau Punjung untuk pengembangan ibukabupaten, lalu,  membuka jalan Alahan Panjang- Kiliran Jao menyambung dengan pembukaan jalan Alahan Panjuang- Pasar Baru, Kecamatan Bayang, Pesisir Selatan.  Dharmasraya juga akan terbuka ke Solok Selatan bila  jalan Padang Aro,– Lubuk Malako, Abay-Pulau Punjung rampung bersamaan jalan Kiliran Jao- Padang Laweh- Sungai Rumbai.

Tuntuan perlunya ruas jalan-jalan tersebut kini kian terasa. Maklum, Kabupaten Dharmasraya, 2.961,13 kilomtere persegi, 4 kecamatan, berpenduduk 170. 440 jiwa, sejak dimekarkan dari Kabupaten Sawahlunto Sijunjung Januari 2004 mengalami kemajuan yang cukup pesat.  Dhramasraya memiliki kebun sawit seluas 76.163  hektare , karet 34.514 hektare, disusul kelapa, kopi, kakao, kayu manis dan sebagainya. Daerah ini juga punya deposit emas, granit, biji besi, batu bara, andesit dan kuarsit, sebagian sudah ditambang.

Setelah Irigasi Batanghari diresmikan Presiden Soesilo Bambang Yudhoyono 13 Desember 2008 lalu, Dharmasraya berperan sebagai lumbung beras Sumatera Barat. Sekitar 30 ribu hektare sawah yang diari irigasi ini mampu menghasilkan 40 ribu ton gabah setahun. Tak mengejutkan jika pertumbuhan ekonomi Dharmasraya rata-rata di atas 6% setahun dan APBD-nya pun meningkat drastis dari Rp. 111, 6 milyar tahun 2005  jadi Rp 501 milyar tahun 2009.

Bagi Kepala Dinas Prasarana Jalan Tataruang dan Pemukiman Sumatera Barat  pembangunan empat jalur jalan ke arah timur tersebut merupakan solusi yang tepat untuk pemasaran produk pertanian Sumatera Barat.  Dan, sebagaimana selama ini, bukan hanya pedagang, petanipun bisa menjual hasil pertaniannya langsung ke pasar di Riau atau di Jambi. ”Jadi, pembangunan keempat jalurt jalan itu akan berdampak langsung pada ekonomi rakyat,” ujar Dodi.

Prof. Dr. H. Marlis Rahman Msc, Gubernur Sumatera Barat melihat keempat jalur jalan yang menghubungkan Sumatera Barat Riau dan Jambi selain akan berdampak ekonomi juga akan berdampak sosial budaya. Jalan itu semakin mempererat hubungan masyarakat satu budaya di ketiga provinsi itu. ” Jalan ini akan berdampak timbal balik bagi ketiga daerah. Karena itu kualitas dan fusngisnya akan terus ditingkatkan,” ujar Marlis.

Memang bukan mimpi apabila keempat jalur jalan itu berfungsi secara optimal seluruh daerah  Sumatera Barat bisa langsung ke Pantai Timur Sumatera. Sebaliknya diharapkan pula arus pengunjung ke Ranang Minang, untuk tujuan wisata, pendidikan dan pelayanan kesehatan andalan lain Sumatera Barat, ikut  meningkat. Tujuan akhir semua gerak pembangunan itu memang peningkatan ekonomi dan kesejahteraan rakyat. Fachrul Rasyid HF

Perjuangan di Balik Tantangan

Sepanjang sejarah Minangkabau, dari kerajaan Minangkabau tua, Minakanua di Muara Takus, kini Kabupaten Kampar, sampai Kerajaan Darmasraya di Siguntur, kini Kabupaten Darmasraya dan Kerajaan Pagaruyung, kini Kabupaten Tanah Datar atau selama delapan abad sejak abad ke 7 M, kecuali peninggalan Candi Muara Takus, nyaris tak ditemukan peninggalan sejarah simbol kejayaan ekonomi pemerintahan di Minangkabau.

Maklum, Minangkabau hanya andal dengan hasil hutan, pertanian seperti beras  sayur-sayuran, gambir, kopi, kayu manis, dan rempah-rempah. Kemudian ada hasil tambang, emas, timah, batu bara dan besi. Namun luas lahan dan produksinya terbatas. Karena itu kemudian Inggris yang semula berada di Pantai Barat Sumatera pada abad ke 17  pindah dan membangun Pelabuhan Penang dan Singapura.

Sementara selama pemerintahan penjajahan Belanda, kecuali tambang batu bara Ombilin, pabrik Semen Padang dan pelabuhan Telukbayur dan jaringan kereta api, kini jadi milik pemerintah pusat, nyaris tak meninggalkan jejak kejayaan ekonomi.  Bukti sejarah yang ditinggalkan Belanda, seperti jam Gadang, benteng Fort de Cook di Bukittinggi dan Van der Capelent di Batusangkar termasuk juga pelabuhan Muara Padang, lebih sebagai simbol pertahanan ketimbang perdagangan.

Bisa dimengerti jika kemudian di masa Pemerintahan Presiden Soekarno  muncul pergolakan Pemerintahan Revolusioner Repoblik Indonesia (PRRI) tahun 1958 -1960 menuntut pemerataan pembangunan kepada pemerintah pusat. Tuntutan itu baru dijawab pemerintahan Orde Baru di bawah Presiden Soeharto dengan cara memberikan perhatian lebih kepada Sumatera Barat.

Maka, sekitar 30 tahun atau sejak pemerintahan Gubernur Hasan Harun Zain hingga  akhir masa jabatan Gubernur Hasan Basri Durin, sekitar 80% APBD Sumatera Barat berasal dari pusat. Dan, karena didukung sumber daya manusia yang memadai Sumatera Barat bisa melaksanakan pembangunan secara lebih baik dan merata di seluruh daerah. Selama itu Sumatera Barat bisa membangun puluhan irigasi besar dan kecil,  jalan raya dan jembatan hingga ke pelosok desa, ratusan sekolah, belasan perguruan tinggi, rumah sakit, pasar, pertokoan dan kantor pemerintahan. Tak aneh jika selama Orde Baru Sumatera Barat jadi percontohan pembangunan nasional.

Tapi musim berganti dan angin pun berubah. Pada 1997 terjadi krisi ekonomi. Lalu, diiringi penerapan pemerintahan otonomi daerah. Meski  posisi dana pusat dalam APBD Sumatera Barat tak banyak berubah namun gerak pembangunan mulai terseok-seok. Investasi oleh swasta maupun pemerintah terbatas.  Akibatnya angka penduduk miskin yang cuma 16% pada akhir masa pemerintahan Gubernur Hasan Basri Durin (1997) meningkat jadi 28 % dari 4,7 juta penduduk tahun 2007.

Pendapat asli daerah (PAD) terbesar Sumatera Barat (sekitar 65) berasal dari pajak kendaraan bermotor. Berharap pada Pelabuhan Telukbayur sebagai pelabuhan ekspor impor utama di  Sumatera bagian Tengah ke Eropa semakin berat. Sejak dibukanya  jalan Lintas Sumatera pada 1977 silam sebagian besar komoditi andalan Sumatera Barat  seperti karet, kopi, kaseavera, yang   semula diekspor ke berbagai negara di Eropa melalui Telukbayur  belakangan lebih banyak dianggkut menggunakan truk ke Pelabuhan Belawan, Medan, atau langsung ke Jakarta.

Sebaliknya hasil industri dari Jakarta dan Medan seperti besi dan bahan bangunan yang dulu masuk ke Sumatera Barat via Telukbayur kini masuk melalui jalan darat. Angkutan penumpang yang sebelumnya menggunakan kapal laut pun beralih ke bus umum atau kendaraan pribadi. Kini praktis Telukbayur hanya jadi pelabuhan ekspor semen, batubara dan minyak sawit. Sesekali membongkar beras, gula atau barang industri berat untuk kebutuhan daerah ini.

Kenyataan itu tak membuat Sumatera Barat berputus asa. Tantangan itu justru jadi cambuk bagi  Pemerintah Daerah Provinsi Sumatera Barat di bawah Gubernur/Wakil Guberur Gamawan Fauzi dan Marlis Rahman. Berbagai upaya terus dilakukan. Antara lain, intensifkikasi pertanian, perkebunan dan peternakan. Hasilnya mulai tampak. Perkebunan kakao yang dibuka selama tiga tahun terakhir sudah seluas 48.000 hektare dengan produksi 32.000 ton setahun. Kebun sawit, sampai 2007, sudah seluas 154.484 hektare dengan produksi 326.580 ton setahun, karet seluas 146.800 hektare dan produksi 87.200 ton, kopi seluas 46.890 hektare dan produksi 28.788 ton, kaseavera seluas 38.300 hektare dan produksi  35.232 ton dan kelapa seluas 90.700 hektare dengan produksi 79.829 ton.

Luas lahan padi sawah beririgasi teknis, setengah teknis, irigasi pedesaan, tadah hujan dan ladang seluas 421. 902 mampu menghasilkan 1. 965. 634 ton. Hasil peternakan pun menggebirakan. Dalam tahun 2007 Sumatera Barat menghasilkan 450.800 ekor sapi, 192.000 kerbau dan 227.000 kambing. Kabupaten Limapuluh Kota sebagai daerah peternakan ayam menghasil 3 juta butir telur sehari. Produksi tanaman plawija selama tahun 2008  misalnya, mencapai 529.000 ton.  Dengan demikian empat jalur jalan ke Selat Melaka itu terasa semakin penting artinya bagi peningkatan perekonomi daerah dan pendapatan petani di nagari-nagari.  Fachrul Rasyid HF

Menapak Jalur Sungai

Sebetulnya empat jalur jalan raya dari pedalaman Sumatera Barat ke Pantai Timur Sumatera itu adalah menikam jejak jalur sungai, yaitu  sungai Kampar, Rokan, Indragiri dan Batanghari, yang dilayari pedagang Minangkabau sejak berabad silam.

Jalur perdagangan tertua, sesuai dengan sejarah perkembangan kerjaan di Minangkabau,  adalah melalui Sungai Kampar. Diperkirakan telah bermula sejak Kerajaan Muara Takus sekitar abad ke 7 Masehi. Sejak itu Muara Takus sudah berhubungan dengan Selat Melaka dan berhubungan dengan pedagang asal Cina, India, Arab dan Eropa.

Para pedagang menjual hasil hutan seperti kemeyan, damar dan rotan. Hasil hutan itu diangkut dengan perahu kajang ukuran 2 x 9 meter beratap daun palam diawaki empat atau enam orang. Perahu ini  mampu memuat 2 hingga 3,5 ton barang berlayar dari Sibiruang di hulu Sungai Kampar atau Pangkalan di pinggir Batang Mahat, anak sungai Kampar, menuju Selat Melaka.

Berlayar, pulang pergi, selama hampir satu bulan melewati Taratak Buluh, Kuntu, Lipat Kain, Pangkalan Kerinci, Pangkalan Serai, Pangkalan Kapas, Pangkalan Indarung, Pangkalan Bunut , Palalawan sampai ke Kuala Kampar.  Di sini hasil hutan dijual kepada pedagang dari Arab, India dan Cina. Setelah gambir jadi komoditi andalan di Selat Malaka, pedagang Minangkabau berhubungan langsung dengan Kesultanan Johor yang saat itu membawahi hampir seluruh Semenanjung Malaysia. Kembali dari ”laut” sebutan Selat Melaka kala itu, para pedagang membawa dagangan seperti  garam, tekstil, peralatan rumah tangga, perhiasan, kain sutra dan sebagainya.

Perdagangan di jalur Sungai Kampar mulai sepi setelah penjajah Belanda membangun jalan Kelok Sembilan tahun 1932. Setelah menguasai pelabuhan sungai Pangkalan Kotobaru Belanda membuka jalan di sepanjang Sungai Kampar, dari Danau Bingkuang ke Lipat Kain, hinggga ke Logas. Perdagangan jalur Sungai Kampar ke Selat Melaka baru berhenti ketika Jepang menduduki Indonesia dan membangun jalan dari Danau Bingkuang ke Pekanbaru, seperti adanya sekarang.

Setelah generasi raja-raja Muara Takus beralih ke Siguntur ( kini Kabupaten Dharmasraya) dan mendirikan Kerajaan Dharmasraya sekitar abad ke 14 dan 15 keramaian jalur perdagangan sungai beralih ke Sungai Indragiri, dengan anak-anak sungai antara lain Batang Ombilin dan Batang Sinamar. Siguntur menjadi pelabuhan pengumpul terbesar di pinggir Batang Ombilin. Para pedagang lokal mulai dari Sitiung, Jambu Lipo Lubuk Tarok, bahkan dari Padang Ganting dan Lintau membawa hasil hutan dan tambang ke Siguntur.

Pedagang Siguntur kemudian menjualnya kepada pedagang asal India, Cina, Arab dan Eropa. Atau menggunakan perahu melayari Sungai Indragiri melewati Teluk Kuantan, Cerenti, Rengat, terus ke Tembilahan.

Bersamaan dengan itu berkembang pula jalur perdagangan lewat jalur Sungai Batanghari yang berhulu di Kabupaten Solok Selatan Sumatera Barat dan bermuara di Muara Sabak di Selat Berhala bagian timur Selat Melaka. Pelabuhan setelit di jalur ini adalah Pulau Punjung dan Sungai Dareh. Kedua daerah ini mengumpulkan hasil hutan dan hasil tambang dari pedalaman Minangkabau melalui anak-anak sungai Batanghari.

Perdagangan jalur suangai teramai setelah Batang Kampar adalah Batang Rokan. Sungai dengan panjang sekitar 400 kilometer itu di hulunya, di Kenagarian Jambak, Lubuk Sikaping, terus ke Panti- Rao ke perbatasan Sumatera Barat bernama Batang Sumpur. Sampai di wilayah Kerajaan Rokan, kini Kabupaten Rokan Hulu, terus ke Bagan Siapi-api, Riau, di bibir Selat Melaka, bernama Sungai Rokan.

Perdagangan di jalur Sungai Rokan berkembang pesat saat jayanya kerajaan Rokan, Kerajaan Rambah, Kerajaan Tambusai sekitar abad ke 18 hingga pertengahan abad ke 20. Kerajaan yang berada di bawah Kerajaan Pagaruyung/ Minangkabau itu menguasai perdagangan hingga ke pedalama Pasaman dan Tapanuli Selatan, daerah penghasil emas, beras, kopi dan kaseavera. Sekitar abad ke 19, saat dikuasai Padri di bawah Imam Bonjol bersama Tengku Tembusai, dan Tuanko Rao,  hampir semua hasil daerah itu diperdagangkan melalui  Sungai Rokan ke Selat Melaka. Perebutan wilayah itu pula yang mengundang perang berkepanjangan antara Padri dan penjajahan Belanda.

Jika kini Pemda Provinsi Sumatera Barat membuka jalan raya di empat jalur sungai tersebut tentulah tidak terlepas dari potensi ekonomi yang ada di daerah ini.*

11 Balasan ke Sumatera Barat Berkiblat ke Timur

  1. diki mahendra mengatakan:

    apakah di dharmasraya belum planning tata ruang nya,terima kasih sebelumnya

    • fachrulrasyid mengatakan:

      Terus terang saya belum mendapat informasi soal itu. Jika ada yang memiliki informasi tentang tata ruang Dharmasraya tentu akan bermanfaat bila diinformasikan di sini.

  2. Dody Osmon mengatakan:

    terima kasih pak fachrul atas artikel nya , saya minta ijin taruh linknya di blog saya .

  3. MDRSolok mengatakan:

    Terimakasih infonya Pak.
    Wah apalagi kalau ada Jalan TOL Sumbar – Riau, bakal lebih cepat lagi tuh.
    Kalau bisa diangkat juga rencana pembangun Jalur Kereta Api Trans Sumatera Pak.

    Salam.

    • fachrulrasyid mengatakan:

      Mudah-mudahan rencana jalan tol Padang-Pekanbaru-Dumai itu segera terwujud segera sehingga hasil pertanian daertah Sumatera Barat lebih cepat dan lebih banyak bisa dijual ke jalur perdagangan Pantai Timur dan rakyat Sumbar semakin makmur.

  4. Fauzi mengatakan:

    Terima kasih Pak Fachrul atas penjelasan yg detil, sehingga kami urang rantau mendapatkan info daerah Sumbar untuk masa datang khususnya dibidang transportasi. Walaupun Prop. Sumbar letaknya di bgn barat, urang awak harus giat mengembangkan komoditi yg layak jual ke daerah lain.Dengan dibukanya beberapa alternatif tranportasi arah ke timur Sumatra nantinya, berarti urat nadi ekonomi semangkin lancar. Mudahan masyarakat Sumbar tambah makmur. Amin

    • Sdr. Fauzi, karena kesibukan baru sekarang saya bisa membalas komentar anda. Terimakasih atas perhatian anda pada tulisan-tulisan saya. Saya akan terus menulis tentang banyak hal mengenai Sumatera Barat dan negera ini. Tulisan-tulisan saya akan banyak membantu menginformasikan kampung halaman kepada perantau, terutama bagi mereka yang tak banyak kesempatan untuk pulang kampung.

  5. armenzulkarnain mengatakan:

    Pak Fachrul, saya akan buatkan peta sesuai tulisan ini. Apabila telah selesai akan saya kirimkan via email yang bisa dipakai untuk melengkapi tulisan ini. Terkadang, banyak orang minang yang tidak tahu rute jalur-jalur jalan yang harus dibangun sesuai yang bapak paparkan. Salam.

  6. Lia mengatakan:

    Terima kasih, Pak Fachrul atas informasinya, menambah wawasan saya, tepat saat singgah di Dharmasraya menuju Jakarta.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: