Urang Rantai Adalah Pahlawan

Oleh H. Fachrul Rasyid HF
Pos Metro Opini Rabu 17 Maret 2010

Urang (orang) rantai adalah sebutan untuk tahanan/ terpidan dalam perkara politik atau kejahatan umum di zaman penjajahan Belanda. Siapa saja yang dianggap melawan terhadap aturan penjajah atau dianggap melakukan kejahatan perampokan, pembunuhan, pemerkosaan dan maling atau dianggap meresahkan penduduk ditangkap, ditahan dan dipenjara.

Mereka kemudian dijuluki orang rantai karena selama dalam tahanan atau penjara kedua kaki, tangan dan bahkan lehernya dipasangi borgol dan digembok. Borgol itu terbuat dari besi mirip pipa sepanjang 10 sentimeter dirangkai dengan rantai besi sekitar 60 sentimeter. Dengan cara itu para tahanan masih bisa berjalan meski bak orang sedang pacu karung. Julukan itulah masih melekat hingga sekarang untuk menyebut para terpidana atau orang-orang yang dianggap tak menghargai aturan yang berlaku.

Sebutan itu sesungguhnya merupakan penghinaan Pemerintah Belanda terhadap bangsa Indonesia. Sebab, kalau ditelusuri sejarahnya, tak semua orang yang pernah dirantai belanda adalah penjahat. Sebagian besar mereka justru para pejuang bangsa Indonesia. Mereka ditangkap, dipernjara dan dirantai, lalu, digiring ke medan kerja paksa, bukan karena maling, merampok, memerkosa atau terlibat pembunuhan. Mereka ditangkap karena melawan dan memberontak terhadap berbagai kebijakan dan aturan Belanda yang merugikan bangsa Indonesia. Tak aneh jika sebagian besar orang rantai terdiri dari guru, ustaz, tokoh adat, tokoh politik, pemuda dan sebagainya.

Sebutan orang rantai di Sumatera Barat mulai populer saat Belanda membuka tambang batu bara di Sawahlunto tahun 1887. Saat itu Belanda mendatangkan sejumlah tahanan dari Pulau Jawa, Maluku, Sualwesi, warga keturunan Tionghoa, India dan beberapa dari daerah lain di Indonesia. Mereka dipekerjakan secara paksa, dalam keadaan dirantai, membuka lobang-lobang tambang di perut Sawahlunto.

Dua buku Erwiza Erman, yang diterbitkan Pemko Sawahlunto; Orang Rantai dari Penjara ke Penjara (Juli 2007) dan Pekik Merdeka dari Sel Penjara & Tambang Panas, (Mei 2008) bercerita banyak tentang siapa dan bagaimana penderitaan orang rantai di sel persis di mulut lobang sebuah tambang bawah tanah Sawahlunto.

Seadanianya generasi sekarang berkunjung dan menyaksikan sisa tempat penyiksaan di Penjara Orang Rantai di Kampung Durian, Sawahlunto itu mungkin tak terbayangkan betapa pahitnya kehidupan orang rantai itu. Mereka bergumul dengan kelaparan, penyakit dan bakuhantam sesama. Tapi apapun yang terjadi penjajah Belanda hanya mau tahu mereka harus bekerja. Setiap pagi, di kawal polisi bertampang seram dan bringas, mereka digiring ke dalam lobang tambang dan baru keluar saat makan siang. Menjelang mata hari terbenam mereka kembali digiring ke penjara persis bak kerbau masuk kadang.

Toh, meski tenggelam dalam penderitaan dan penyiksaan rasa nasionalisme dan semangat ingin merdeka orang-orang rantai tak pudar. Mereka tak hanya berteriak dan memekikkan kemerdekaan tapi juga berjuang dengan segala daya dan cara. Padahal kalau sempat ketahuan melakuakn perlawanan mereka akan dikucilkan dan disiksa lebih keras. Tak sedikit dari mereka yang tewas di ujung campuk, di mulut senjata atau di tiang gantungan.

Maka, meski tak tercatat sejarah dan tak dikembumikan di makam pahlawan, mereka sesungguhnya adalah pahlawan yang mengorban nyawa demi matbat dan kemerdekaan bangsa. Mereka bukan orang yang mengorbankan bangsa dan negara demi diri sendiri seperti yang banyak terjadi sekarang.

Karena itu tak sepantasnyalah sebutan orang rantai diwariskan dari generasi ke generasi. Sebab, mewariskan sebutan orang rantai, apalagi dengan konotasi dan persepsi penajahat versi Belanda dulu sama dengan mewarisi penghinaan terhadap bangsa sendiri. Apalagi kini, secara hukum pidana maupun hak asasi manusia, perlakuan buruk ala penjajah itu adalah perbuatan melanggar hukum. (*)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: