Lain Guru Lain Surau

Pos Metro Opini Kamis 27 November 2010

Oleh H. Fachrul Rasyid HF

Menyebut kata surau (bahasa Melayu bukan bahasa Arab) kini langsung dipersepsikan rumah ibadah, mushalla, tempat shalat atau tempat mengaji/ belajar membaca Alquran. Hanya beberapa diantaranyan dijuluki sesuai fungsi khususnya. Misalnya, surau suluk karena digunakan tempat suluk atau surau thariqat karena digunakan tempat belajar atau mengamalkan ilmu-ilmu thariqah.

Karena itulah, bila di Indonesia tempat shalat di gedung, di pasar atau terminal  ditunjukkan dengan sebutan mushalla, Malasyia bahkan sampai di Pathani, Thailand Selatan, ditunjukkan dengan sebutan surau. Di beberapa nagari di Limapuluh Kota sebutan surau hampir sama lazimnya dengan sebutan langgaran (longgea/langga).

Sebelum Islam jadi anutan, surau di Minangkabau bukan tempat ibadah atau tempat mengaji. Surau adalah rumah tempat para lelaki bujangan, tua atau muda, menginap. Yang baru pulang dari rantau atau tamu lelaki menginap di surau. Maklum, konstruksi rumah adat Minang tak menyediakan ruang bagi laki-laki atau bujangan. Buat mereka

Surau, layaknya rumah biasa punya kamar, dapur tempat memasak dan sumur tempat mandi. Kamar tidur biasanya disediakan untuk tetua surau.

Di surau kemudian berkembang berbagai kegiatan para lelaki sesuai siapa dan apa keahlian tetua surau. Jika tetua surau seorang pendekar maka surau itu menjadi surau silat. Jika tetuanya seorang perandai, maka suraunya menjadi basis randai. Jika tetuanya seorang petani berpengalaman, maka yang berkembang adalah ilmu pertanian. Begitulah seterusnya, sampai ada surau indang dan sebagainya. Singkat kata, lain guru (tetua) lain suraunya.

Setelah Islam diterima di Minangkabau, peran surau secara evolusi bergeser ke arah pendidikan Islam dan tempat ibadah. Prosesnya sederhana. Para pemuda yang memperoleh pendidikan dan pengajian agama dari kalangan juru dakwah setempat atau di perantauan, ketika pulang ke kampung menginap di surau. Mereka mengajarkan ilmunya kepada anak-anak secara halaqah/lesehan: membaca Alquran, hadits, ibadah, akhlak atau bercerita tentang kisah-kisah para nabi. Merekapun mengajarkan tulis baca bahasa Melayu dengan tulisan Arab (Arab Melayu).

Dalam perkembangannya, sejalan dengan makin diterimanya ulama, ustaz dan mubalig dalam kepemimpinan masyarakat Minang, surau mengaji terus mendapat tempat sampai akhirnya mengalahkan pamor surau yang lain. Sejak itu surau mulai identik  dengan tempat mengaji. Namun kemudian, seiring meningkatnya ilmu para ulama, mubaligh dan ustaz kemudian semakin menguatnya posisi dalam masyarakat surau akhirnya berkembang  jadi mushalla, masjid dan bakan jadi madrasah.

Di awal abad ke 19  beberapa surau yang dimpimpin ulama terpelajar, diantaranya alumni Mekah, Madinah dan Al Azhar, berkembang menjadi madrasah terkemuka. Diantaranya madrasah yang bernama Madrasah Sumatera Thawalib. Menerapkan pola dan methoda pengajaran modern, madrasah ini punya ruang kelas, papan tulis berkursi dan meja. Sumatera Thawalib berdiiri di beberapa kotra dan nagari. Misalnya, Sumatera Thawalib Padangpanjang, Sumatera Thawalib Parabek yang masih berkembang sampai sekarang. Kemudian Sumatera Thawalib Manin jau, Sungayang dan Padang Japang Limapuluh Kota. Tapi yang terakhir ini kemudian berganti nama jadi Darul Funun El Abbasyiah.

Beberapa surau tetap bertahan dengan materi, pola dan metoda pengajarannya. Misalnya, surau thariqat Sekh Burhanuddin Ulakan, Pariaman, tetap mengembangkan pengajaran tahariqah hingga sekarang. Surau Sekh Abdurrahman di Batu Hampar, Limapuluh Kota, meski berkembang jadi madrasah namun tetap mempertahankan kekhususannya pengajaran seni baca Alquran.

Menurut Prof. Mahmud Junus dalam bukunya Sejarah pendidikan Islam Indonesia,  sampai akhir abad ke 19 satu-satunya qari terbaik di Minang adalah Syekh Abdurraham Batu Hampar itu. Setelah wafat tahun 1317 H/ 1900 M, ia digantikan dua anaknya, H.M. Rasyad dan H. Arifin.  Suaru Abdurhaman kemudian berkembang jadi madrasah dan hingga sekarang banyak melahirkan pembaca Alquran terbaik.

Ungkapan lain guru lain surau, meski sudah diterima sebagai  sarana ibadah dan tempat mengaji terus berlanjut. Bahkan perbedaan tercemrin dari prilaku murid dan jmaahnya. Bila gurunya seorang ulama yang berpendidikan Islam, berwawasan dan terbuka, jamaah dan murid-muridnya pun dinamis, inklusif/terbuka dan lazimnya punya kepedulian sosial yang tinggi. Ini misalnya menandai alumni atau turunan Madrasah Sumatera Thawalib.

Bila surau dipimpin guru/ulama yang eksklusif/tertutup, fanatik dan taklik, murid dan jamaahnya pun cenderung  demikian. Dari surau yang dipimpin dan dibina guru yang memahami ekonomi maka muridnya berkembang di bidang ekonomi. Cara berpenampilan guru pun tercermin pada jamaah dan muridnya. Jika gurunya memelihara jenggot dan bergamis pengikutnya pun berjenggot dan bergamis. Bahkan warna warni guru dan surau itu berkembang pada urusan politik. Maka jadilah, lain surau lain partai politiknya. (*)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: