Amanah Itu Berat

Pos Metro Opini 18 Agustus 2010

Oleh H. Fachrul Rasyid HF

Saat menyampaikan sambutannya pada acara pelantikan Gubernur/Wakil Gubernur Sumatera Barat Irwan Prayitno dan Muslim Kasim Mendagri Gamawan Fauzi mengungkapkan kegembiraannya. Katanya, Pilkada Gubernur Sumatera Barat telah berjalan dengan baik, aman dan lancar.  Segala bentuk ketidakpuasan telah dilesesaikan secara baik melalui prosedur hukum di Mahkamah Kontitusi. Pilkada yang berlangsung 30 Juli 2010 itu  telah menghasilkan pasangan Gubernur Irwan Prayitno dan Muslim Kasim.
Seyogyanya, kata Gamawan, kemenangan ini menjadi kebanggaan masyarakat Sumatera Barat umumnya dan Minangkabau khususnya. Seharusnya kicau burung dan sinar mentari pagi ini melambangkan keceriaan Sumatera Barat dalam memajukan pembangunan yang lebih baik lagi dimasa-masa mendatang. “Namun hingga saya berdiri berpidato disini semua orang seakan-akan sepi tanpa tepuk tangan sama sekali, mungkin puasa telah membuat kita amat pelit bertepu tangan, “ Gamawan mencoba memancing suasana gembira, dan berhasil. Hadirin pun bertepuk tangan. Demikian penggelan realise Humas Pemda Sumatera Barat tentang acara pelantikan gubernur itu.

Sepinya acara itu dari tepuk tangan boleh jadi mengundang berbagai penafsiran, tergantung dari sisi mana mau menafsirkannya. Bisa jadi kondisi itu dianggap sebagai gambaran respon hadirin terhadap gubernur yang baru. Tapi bisa jadi pula sebagai gambaran bahwa amanah baru terasa berat setelah sumpah jabatan sebagai gubernur diucapkan. Maklum amanah harus dipertanggungjawabkan kepada Allah SWT dan kepada masyarakat Sumatera Barat sebagai pemberi amanah.

Beratnya amanah inimungkin dirasakan penerima dan pemberinya sehingga saat acara tersebut semuanya jadi terdiam dan bisu. Maklum, dilihat dari kondisi sosial politik daerah maupun peta politik nasional pasca pilkada itu dan kondisi sosial ekonomi Sumatera Barat pasca gempa 30 September 2009 penuh tantangan dan bahkan rintangan dalam menjalankan amanah itu. Maka, jika dilihat dari sisi itu, ditambah lagi suasana berpuasa, saya kira wajar kalau acara pelantikan gubernur tersebut tak larut dalam sukacita.

Dalam sejarahnya, di kalangan sahabat Nabi Muhammad SAW bahkan ada yang menangis saat diberi amanah memimpin umat mengingat sebuah amanah memang berat resikonya. Namun demikian, diam atau pun menangis saat menerima amanah tentulah bukan pertanda takut, grogi atau gagap menjalankan amanah. Jika dilandasi keikhlasan dan niat yang baik untuk berbuat baik bagi kepentingan masyarakat tentulah amanah itu menjadi ringan dan menggembirakan.

Yang aneh justru orang yang saat mendapat amanah menjadi pongah, merasa hebat dari yang lain, mau selalu dibenarkan meski pun salah, lalu, bersukaria dan larut dalam eforia kemenangan. Kemudian selalu mendabik dada seolah bisa melaksanakan apa yang dia mau. Seseorang yang cuma diamanahi sebagai ketua masjid, mungkin karena belum pernah memegang jabatan apapun sebelumnya, merasa mendapatkan segala-galanya. Tiap berdiri di mimbar suka berbicara menyindir ke sana kemari hingga kadang melebihi ustaz penceramah. Menerima sedikit impaq dan sadaqah dari jamaah merasa mendapatkan dukungan untuk segalanya. Padahal, infaq, sadaqah jamaah itu tentu bukan karena siapa yang jadi pengurus melainkan karena niatnya untuk beramal baik pada masjid dan mendapat keridhaan Allah.

Sejarah pun membuktikan bahwa penerima amanah model itu lazimnya suka lupa diri, gila hormat, tak menerima saran dan kritik, senang disanjung-sanjung dan dipuja puji, pantang kelintasan, pantang terabaikan, suka menerima hasutan dan fitnah, senang menjilat ke atas dan menekan ke bawah dan sebagainya. Pemimpin seperti itu, lazimnya bukan jatuh karena demonstrasi atau dihujat rakyat melainkan jatuh oleh prilaku sendiri atau anak istri dan orang-orang dekatnya.

Akhirnya, setelah lepas dari jabatannya ia langsung wafat sebelum mati. Artinya, meski belum meninggal dunia tapi pada dirinya tak belaku lagi adat hidup: tak ditegur orang, tak dimintai pendapatnya, tak diundang, tak diajak berteman dan bahkan dijauhi orang. Padahal hidup yang baik, apalagi orang yang pernah diamanahi memimpin, adalah hidup sampai mati. Artinya, meski tak lagi berjabatan ia tetap dihormati, disegani, dimintai pendapat/ fikirannya dan selalu dilibatkan dalam pergaulan masyarakat. Bahkan setelah wafat sungguhan nama, pemikirannya dan amal kebaikannya tetap jadi inspirasi dan jadi buah bibir masyarakat. (*)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: