Efektivitas Wirid Ramadhan

Komentar Singgalang Jumat 13 Agustus 2010
Oleh H. Fachrul Rasyid HF

Wirid Ramadhan atau pengajian sebelum shalat tarwih di setiap bulan Ramadhan sudah berlangsung sejak puluhan tahun lalu. Namun sejauh mana efektivitas wirid sekitar setengah jam yang berlangsung selama bulan Ramadhan itu, tampaknya belum ada penelitian yang mengevaluasi dan menjawab pertanyaan tersebut.

Meski demikian dari pengamatan secara empiris, baik dilihat dari metoda, teknik dan materi wirid maupun aplikasinya di tengah masyarakat muslim, tampaknya penyelenggaraan wirid Ramadhan selama ini belum sepenuhnya efektif menambah pengetahuan agama apalagi membentuk prilaku masyarakat muslim.

Pada dasarnya wirid, cermah atau pengajian, sebagaimana juga berlaku pada pendidikan dan pengajaran, bertujuan memberi pengetahuan agama, memberikan solusi agama terhadap persoalan yang dihadapi masyarakat dalam kehidupan sehari-hari, mendidikkan nilai-nilai agama dalam upaya membangun budaya islami masyarakat muslim.

Wirid akan efektif mencapai tiga tujuan tersebut apabila mubaligh/da’i/ustaz dan ulama yang berwirid mengenal tingkat pengetahuan agama, kehidupan sosial ekonomi dan pranta sosial masyarakat yang menjadi audiennya. Cara itu analog dengan sikap dokter yang selalu berusaha mendengar keluhan pasien sebagai upaya diagnosis untuk kemudian menentukan pilihan obat yang cocok yang kemudian menyembuh pasien tersebut. Dari situlah kemudian tumbuh kepecayaan dan bahkan dokter panutan.

Sayang, sejauh ini, dari sejumlah wawancara dan pengamatan diketahui lebih 90% mubalihg/da’i/ ustaz tak mengenal faktor-faktor pada calon audien yang akan diceramahinya. Mubaligh/da’i dan ustaz datang dengan ilmu dan jalan pikirannya sendiri dan jamaah mendengar dengan tingkat pengetahuan dan pemahamannya sendiri. Mereka mendatangi sebuah masjid dengan tema dan materi pengajian yang direka sendiri. Hebatnya, meski banyak yang mengemukakan judul namun urainya tak runut dan bahkan cenderung melebar ke mana-mana.

Tak aneh jika jamaah jarang memperoleh sesuatu yang baru, jarang sekali mendapatkan solusi agama yang menjawab persolan kehidupan yang dihadapi jamah. Setelah itu tak pernah ada lagi evaluasi terhadap apa yang telah disampaikan para da’i dari wirid ke wirid di masyarakat itu. Kecuali lelucon atau lawakan para da’i, wirid pengajian dianggap tak memberikan/menanamkan sesuatu sehingga tak dirasakan sebagai sebuah kebutuhan oleh jamaah.

Bahkan, kalau saja wirid diselenggarakan setelah shalat tarwih mungkin jamaah sudah pada pulang sebelum uztaz naik mimbar. Inilah agaknya kenapa pengajian Ramadhan semakin ramai tapi praktek kehidupan beragama semakin jauh. Lebih jauh itu pula sebabnya kenapa masyarakat tak merasa mendapat da’i, mubaligh dan bahkan ulama yang dapat jadi panutan.

Padahal, kalau mau, lembaga dakwah dan organisasi kemasyarakat Islam dan perguruan tinggi Islam yang ada bisa merumuskan peta dakwah, paling tidak untuk provinsi ini. Peta dakwah ialah peta yang menggambar kondisi dan tingkat pengetahuan dengan beberapa indikasi keberagamaan masyarakat di tiap nagari. Peta itu tentu akan terus berubah sejalan dengan kemajuan pendidikan, pengetahuan dan keberagamaan tiap kelompok masyarakat.

Dari peta itu para da’i/mubaligh dapat merumuskan masalah di masyarakat secara akurat dan dapat pula dijadikan pedoman dan rujukan menentukan pilihan materi dan metoda dakwah dan bahkan solusi agama (melalui Alqur’an, hadits, dan pendapat ulama) secara tepat dalam setiap wiridnya. Dengan begitu materi wirid yang akan disampaikan para mubaligh/da’i setidaknya bisa mendekati pemecahan kalau bukan menjawab persoalan aktual keberagamaan di masyarakat.

Agaknya, sebelum Ramadhan tahun ini berlalu sepatutnya para pemuka agama, pemimpin lembaga dakwah dan organisasi Islam mencoba mengevaluasi wirid kita selama ini. Paling tidak, dengan cara itu tak terdengar lagi mubaligh yang memarahi jamaah atau main tuding sana sini dan tak terdengar lagi mubligh yang populer hanya karena pintar melucu. (*)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: