Optimalisasi Peran Juru Dakwah Membina Kehidupan Sosial Kemasyarakatan Umat Islam

Oleh Fachrul Rasyid HF

Saya tak berani menyebut apakah peran mubaligh dan da’i sekarang sudah optiomal/ maksimal. Soalnya, sejauh ini belum ada satu rumusan tentang tolok ukur  tentang peran juru dakwah yang disebut optimal itu. Apakah diukur dari lamanya waktu berdakwah, besarnya jumlah masjid dan jamaah yang berhasil didakwahi, banyaknya materi dakwah yang berhasil disampaikan, banyaknya elemen masyartakat yang berhasil dijangkau atau luasnya penyeberan ilmu agama dan pembentukan prilaku masyarakat?

Seharusnya optimalisasi peran juru dakwah memang bukan dilihat dari seringnya aktivitas pengajian, tablig akbar atau kegiatan serupa lainnya,  tapi sejauh mana pengetahuan agama dan nilai-nilai agama membentuk prilaku kehidupan sosial masyarakat umat Islam. Dan, apabila dilihat di sisi ini boleh dikatakan peran juru dakwah masih belum optimal. Buktinya, kegiatan pengajian-pengajian agama semakin sering namun prilaku sosial kemasyarakatan umat Islam bahkan cenderung semakin jauh dari nilai-nilai islami.

Belajar dari kenyataan itu tampaknya perlu ada perbaikan dalam metoda/ pendekatan dakwah, materi dakwah dan organisasi dakwah. Sebagaimana diketahui metoda dakwah selama ini nyaris terperangkap pada pengertian kata dakwah, menyeru atau mengajak. Dalam prakteknya melaha berkembang dalam bentuk ceramah dan bahkan dalam bentuk bercerita.

Padahal kalau dirujuk pada ayat Alqur’an, ”U’du’ ila sabilirabbika bilhikmah wal mauizah, terbuka peluang untuk bagi juru dakwah mengembangkan kreasinya berdakwah dengan berbagai metoda dan pedekatan sesuai dengan tingkat pendidikan dan perkembangan masyarakat. Misalnya memberi contoh perbuatan yang sesuai dengan nilai-nilai islami. Baik menyangkut prilaku pergaulan sosial, kehidupan ekonomi maupun politik. Dengan demikian juru dakwah bukan hanya orang yang berdiri di atas mimbar melainkan juga di lahan pertanian, di pasar, di pabrik dan pentas seni budaya dan arena politik.

Dilihat dari materinya,  dakwah selama ini nyaris didominasi oleh soal-soal keimanan (tauhid), sekitar rukun iman, sekitar kesabaran orang yang beriman dan sebagainya. Jarang sekali yang berbicara aplikasi iman dalam kehidupan sehari-hari. Sering dsiebutkan bahwa kefakiran mendekatkan orang pada kekafiran. Fakir adalah bahasa ekonomi sedangkan kafir adalah bahasa iman. Di sini terlihat bahwa benteng keimanan itu adalah ekonomi. Sementara dakwah selama ini, meski sering berbicara bahwa tangan di atas lebih baik dari tangan di bawah, namun jarang sekali juru dakwah yang memberi gambaran dan harapan bagaimana hidup lebih baik bagaimana eknomi masyarakat meningkat sehingga keimanannya juga meningkat.

Tidaklah berlebihan, bila dilihat dari segi materi dakwah selama ini, Islam itu hanyalah urusan keimanan, urusan ibadah dan akhlak. Padahal keimanan, ibadah dan akhlak itu sangat erat kaitannya dengan kondisi ekonomi masyarakat. Sayangnya dakwah belum dimulai dari perbaikan kehidupan ekonomi, sebagaimana Nabi Muhammad memulai kehidupannya dari beternak dan berdagang, kemudian baru menyebarkan agama.

Seharusnya di era kemjauan teknologi dan komunikasi seperti sekarang, juru dakwah, paling tidak dimulai dari peserta pelatihan ini, mebentuk organisasi dakwah berdasarkan kewilayahan: kecamatan, kabupaten dan provinsi. Organisasi ini bukan hanya sekedar tempat berkumpul dan bertemu para mubaligh, melainkan jadi wadah musyawarah.

Para mubaligh di sebuah kecamatan misalnya, secara berkala sekali sebulan, bertemu di satu tempat. Masing-masing memberikan gambaran tentang kondisi keberagamaan masyarakatnya. Dari gambaran itu bisa disusun materi dakwah yang didakwahkan secara serentak. Kemudian, setelah melalui rentang waktu tertentu para mubaligh sekecamatan bertemu lagi mengevaluasi sejauh mana materi itu diterima dan diamalkan masyarakat. Begitulah seterusnya, sehingga gerakan dakwah, materi, metoda dan daya serap masyarakat di kecamatan itu secara keseluruhan terevaluasi dan terukur.

Kegiatan ini bisa dikembangkan di tingkat kabupaten dan proivinsi sehingga kegiatan dakwah ilamiyah, metoda dan materi dakwah bisa terkendali, terevaluasi dan terukur hasilnya. Lebih dari itu seluruh juru dakwah bisa membuat peta dakwah se- Sumatera Barat yang menggambar tingkat keberagamaan di masing-masing kecamatan. Kalau memang peta dakwah itu sudah ada, lalu materi dan metoda dakwahnya bisa direncanakan dengan baik, saya percaya Pemda Provinsi dan Kabupaten/Kota akan menyediakan annngaran untuk mendukung kegiatan juru dakwah di daerah ini.

Saya percaya hanya dengan cara ini peran juru dakwah bisa dioptimalkan dan kehidupan sosial keberagamaan masyarakat Islam bisa dibangun.(*)

*) Makalah Pelatihan dai se Sumatera Barat di Hotel Denai Bukittingggi Jumat 2 Juli 2010

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: