Ramadhan Antikorupsi

Komentar Singgalang 20 Agustus 2010

Oleh H. Fachrul Rasyid HF

Puasa dan semua nilai-nilai yang diajarkan dan dianjurkan Ramadhan pada prinsipnya mampu mencegah setiap pribadi dan masyarakat dalam posisi dan kapasitas apapun dan di manapun untuk melakukan segala bentuk penyimpangan. Mulai dari yang sekecil-kecilnya sampai pada pelanggaran yang sebesar-besarnya. Baik yang bersifat norma-norma akhlak, etika, aqidah, ibadah, syariah maupun norma dan ketentuan hukum adat, hukum pidana dan perdata. Karena itu masuk akal bagi  orang yang telah berhasil lolos dalam latihan dan pendidikan puasa dijanjikan imbalan jadi orang yang bersih bagaikan bayi tanpa dosa atau kertas putih tanpa noda.

Sebagaimana diketahui puasa dan Ramadhan mendidik, melatih, dan mengajarkan kejujuran pribadi terhadap diri sendiri, terhadap orang lain dan terhadap Allah SWT. Kejujuran pribadi dalam keadaan dan di tempat mananpun. Baik dalam keadaan sendiri, dalam gelap atau terang, di tempat tertutup  atau di terbuka, lisan dan tulisan, tertulis atau tidak tertulis, di depan bawahan atau atasan. Orang-orang yang memegang prinsip tersebut tentulah tak akan pernah berbuat curang apalagi korupsi. Disitulah puasa dan Ramadhan akan benteng antikorupsi.

Pertanyaannya kemudian adalah, kenapa rakyat Indonesia yang mayoritas pemeluk Islam ternyata masuk daftar negara terkorup di dunia? Apa sebetulanya yang salah?

Maraknya tindak pidana korupsi itu tentu bukan karena kekeliruan apalagi kesalahan Islam sebagai agama. Korupsi terjadi jelas akibat kesadaran dan kemauan pribadi atau kelompok melakukan penyimpangan dan pelanggaran atau mengabaikan kejujuran dan keyakinannya ajaran agama yang dianutnya, diantara puasa Ramadhan.

Jika digali lebih jauh kekeliruan itu bisa terjadi karena kemauan dan kesungguhan pribadi, atau kekeliruan pengajaran, pendidikan dan dakwah Islam serta lingkungan dan kultur dalam satu ruang dan waktu. Kemauan dan kesungguhan seseorang secara pribadi mungkin memerlukan penanganan khusus seperti adanya pengawasan pelaksanaan agama setiap pribadi dalam masyarakat. Kekeliruan dalam lingkungan dan kultur masyarakat tentu erat kaitannya dengan  kemungkinan kekeliruan dalam materi dan metoda pendidikan, pengajaran dan dakwah islmaiyah itu sendiri.

Sebagaimana kita saksikan selama ini kecenderungan pengajaran dan pendidikan dakwah Islam terpaku pada pengenalan/ penghafalan teks islami seperti lafaz, definisi-definisi dan format-format penampilan dalam berpakaian. Melihat perkembangan pengajaran dan pendidikan Islam seakan berhenti pada penguasaan lafaz, definisi dan formalitas penampilan itu.

Sementara Islam dan masyarakat Islam itu sendiri  menuntut bagaimana Islam mampu membentuk sikap dan prilaku yang islami, bukan model pakaiannya. Sebab, mengenai pakaian dan penampilan itu sendiri sudah jelas patokannya. Selama tak melanggar syariat dan tak memperlihatkan aurat, umat boleh memilih model yang disukainya. Karena tuntutan itulah kenapa kita sering mendengar keluhan, meski pengajian, pesantren dan bentuk pendidikan Islam lainnya semakin ramai namun kehidupan masyarakat tak juga diwarnai oleh nilai-nilai islami.

Maka, dilihat dari tujuan Islam itu sendiri seharusnya pendidikan, pengajaran dan dakwah Islam tidak berhenti pada pengenalan lafaz, definisi dan formalitas islami. Tapi bagaimana pengajaran dan pendidik mampu menjadi wadah pembentukan dan pembudayaan nilai-nilai islami atau masyarakat yang berbudaya islami.

Melihat perkembangannya kini tampaknya sudah saatnya materi dan methoda pengajaran, pendidikan dan dakwah sebagai lembaga sosialisasi Islam diperbaharui. Arahnya mesti pada pembentukan prilaku dan budaya islami. Sebab, hanya dalam masyarakat yang berbudaya islamilah semua bentuk amal, ibadah dan syariat Islam bisa ditegakkan. Kemudian hanya dalam masyarakat yang berbudaya islamilah segala bentuk kejahatan termasuk kemaksiatan dan tindak pidana korupsi bisa dicegah.

Langkah ini jelas tak mudah. Soalnya, masyarakat sudah terlanjur dan bahkan sudah terangkap berabad-abad dalam kebiasaan pendidikan, pengajaran dan dakwah tekstual. Para guru dan ustaz merasa sudah menjalankan tugasnya dengan baik, bila anak didiknya mampu menghafal teks-teks itu. Para da’i dan mubalig pun merasa puas apabila mampu memukau jamaahnya dengan ceramah yang lucu dan mengundang kelak ketawa.

Padahal, kecuali yang bersifat dogmatis (nakli) semua ayat Alqur’an dan hadits bisa ditangkap hikmah dan nilai-nilai yang dikandungnya untuk disosialisasikan dan diaplikasikan dalam kehidupan. Apalabila pendidikan, pengajaran dan dakwah nilai-nilai yang terkandung dalam setiap ajaran amal, ibadah dan syariah Islam itu dilakukan secara sistimatis dan terus menerus tentulah budaya islami akan bisa mewarnai masyarakat kita. Dan, kejahatan moral, akhlak, dan tindak pidana, termasuk korupsi, Insya’allah akan tercegah dalam diri setiap pribadi.(*)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: