Retaknya Hubungan Serumpun

Komentar Singgalang 1 September 2010

Oleh H. Fachrul Rasyid HF

“Serumpun dua kebun”, begitulah hubungan Indonesia dan Malaysia. Hubungan itu   diperkirakan telah terbentuk sejak tiga abad sebelum Masehi, saat dua gelombang imigran asal Mongolia, disebut proto dan neo Melayu, datang ke Semenanjung Malya dan kepulauan Nuasantara.

Keserumpunan itu semakin meluas akibat mobiltas bangsa pelaut yang mampu menyebar ke sreluruh Nusantara ini. Apalagi kemudian rantau ini pernah dikuasai secara bergentian oleh Kerajaan Sriwijaya yang sempat sepuluh kali berpindah-pindah di sepanjang Nusantara ini. Kemudian berlanjut di bawah Kerajaan Majapahit, Kerajaan Malaka, Johor sampai Kerajaan Pagaruyung di Minangkabau.

“Persilangan” genetika pun tak terelakan. Akibatnya, bangsa Melayu nyaris tak memiliki proto tipe khusus yang menonjol. Hampir semua warna kulit, bentuk mata, warna dan ragam rambut, serta bentuk dasar etnis di dunia ada pada bangsa Melayu. Prilaku sosial, sistem mata pencarian (pertanian dan perdagangan) dan seni  budaya hingga masakan juga memiliki kesamaan. Sebutlah misalnya, masakan rendang dan gelamai atau dodol hampir didapati di seluruh sub etnis Melayu di sepanjang Nusantara mulai dari Sumatera, Semenanjung Malaya, terus ke Betawi, Sunda, Bugis, Mandar, Dayak  bahkan sampai ke Mindanao Pilipina

Persamaan juga terlihat pada kesenian dan tarian diantara sub entis Melayu.  Hampir seluruh alat kesenenian tradisionalnya menggunanakan talempong (gamelan), gendang dan gong. Namun ketika terbentuk wilayah-wilayah administrasi pemerintahan provinsi atau negara oleh penjajahan dan kemerdekaan muncullah egoisme kedaerahan atau kenagaraan sehingga satu daerah atau negara seolah mencaplok kesenenian atau budaya yang lain.

Padahal era globalisasi dengan teknologi komunikasi dan transportasi serba canggih juga berimplikasi  pada sosial ekonomi dan budaya sehingga nyaris mengaburkan batas wilayah administrasi itu. Satu sama lainnya tak hanya sulit dibedakan tapi juga tak sulit diperdebatkan. Lantas kenapa hubungan antara negeri serumpun Indonesia dan Malaysia harus meruncing?

Pertama memang karena tanaman serumpun itu tumbuh pada dua kebun yang dikelola dan dipelihara dengan sistem yang berbeda. Indonesia sebagai sebuah negara demokrasi cenderung menciplak habis sistem politik dan pemerintahan model barat dan nyaris tak menyisakan potensi dan budaya ketimuran, seperti Melayu. Sementara Malaysia tetap memelihara kultur politik dan pemerintahan Melayu disamping mengadobsi secara selektif  budaya dan politik pemerintahan ala barat.

Heboh kasus pernikahan Manohara Odelia Pinot, 17 tahun, dan suaminya Tengku Mohammad Fakhry, 31 tahun, Pengeran Kerajaan Kelantan, Malaysia, awal 2009 silam pada dasarnya adalah perseteruan dua kultur, tradisi dan kebiasaan antara barat dan timur itu. Manohara yang dibesarkan dalam kultur barat dengan pergaulan bebas, berhadapan dengan Tengku Fakhry yang nota bene adalah pangeran kerajaan Melayu Kelantan. Akibatnya, tata krama di istana kerjaan Melayu itu dianggap penyiksaan oleh Manohara yang barat.

Konprontasi Indonesia dan Malaysia zaman Presiden Soekarno pada dasarnya  akibat perbedaan kepentingan politik. Di satu pihak Indonesia saat itu berada di bawah blok Soviet. Sementara Malaysia berada di bawah blok Amerika dan negara Persemakmuran di bawah Inggris.  Ketika kemudian kekuasaan Partai Komunis di Indonesia runtuh, apalagi setelah Uni Soviet terbelah, hubungan Indonesia – Malaysia pulih kembali.

Kini, jika  hubungan Indonesia – Malaysia  kembali memanas, penyebabnya tak lain karena perbedaan pengelolaan negara itu.  Sebut misalnya soal TKI ilegal. Meski disebut pendatang haram, namun Malaysia terus menampung TKI ilegal itu karena memang membutuhkan banyak tenaga kerja. Mereka pun memanfaatkan ilegalitas  TKI untuk diperlakukan secara ilegal. Artinya, jika Indonesia mau TKI diperlakukan secara baik, mestinya Indonesia jangan pernah membiarkan TKI ilegal ke Malaysia .

Persoalan perbatasan, di darat atau di laut, tak jauh beda.  Indonesia mestinya menunjukkan kedaulatannya sampai ke garis terakhir negara. Lindungi teritorialnya dan tingkatkan kesejahteraan rakyat sehingga tak menjadi wilayah terbiar. Apabila suatu wilayah perbatasan tak terkuasai lumrah akan dikuasai, bukan hanya wilayahnya penduduknya pun bisa beralih ke negara lain

Satu hal yang tak bisa diabaikan adalah kedua negara sama-sama memiliki pihak tertentu yang menginginkan hubungan keduanya jadi retak dan bahkan berlanjut ke medan perang. Amerika termasuk yang tak kemajuan Malasyia di Asia tenggara. Sementara di dalam negeri Malaysia sendiri ada etnis tertentu yang menginginkan memburuknya hubungan Indonesia – Malaysia untuk mendongkel dominasi Melayu di negeri itu. Dalam berbagai kasus, baik perlakuan buruk terhadap TKI maupun soal perbatasan, kalangan etnis tertentu itulah yang menjadi biang perkara.

Di Indonesia sendiri, pihak-pihak yang berusaha memperkeruh hubungan Indonesia –Malaysia untuk menyodok kelemahan kepemimpinan negara dan mejauhkan kultur berbau Melayu di negeri ini. Tak aneh kalau Menlu Malaysia saat merespon demonstran yang melempari Keduataan Malasyia di Jakarta berucap. “Jangan persoalan dalam negeri anda sendiri dihadapkan ke negeri kami,” katanya.

Hal itu pun terungkap dalam dialog antara rombongan wartawan senior  Sumatera Barat dan beberapa wartawan senior Malasyia di Kuala Lumpur  26/27 Maret 2010 lalu. Menurut mereka generasi muda kedua bangsa, baik Melayu Malaysia dan Melayu Indonesia kini tak lagi mengenal persamaan akar budaya keduanya. Sementara ada pihak-pihak lain yang terus membangun jurang pemisah sehingga generasi muda kedua bangsa kelak bukan hanya tak saling mengenal keserumpunannya tapi malah bisa merasa asing dan bertentangan.

Maka, jika memang mau memelihara keserumpunan Indonesia –Malasyia apabila ditelusuri jauh ke belakang akan terlihat jelas biang keruh hubungan Indonesia – Malayisa itu. Dan, apabila kedua negara mau duduk semeja membaca realita, kemudian menyadari keserumpunan atau kesurupannya, agaknya hubungan Indonesia – Malayisa, tak akan pernah terusik apapun. (*)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: