Menunggu Ulama di Pintu Lebaran

Fokus Minggu 20 September 2009

Oleh Fachrul Rasyid HF

Puasa Ramadhan, zakat fitrah dan Idulfitri pada dasarnya adalah tiga kegiatan terpadu dan saling berkaitan yang bertujuan ganda. Pertama, ketiganya merupakan ibadah dan bukti kepatuhan dan ketaqwaan pribadi pada perintah Allah dan Rasulullah. Kedua, sebagai ibadah yang dilaksanakan secara serentak dan massal ketiganya bertujuan membangun solidaritas, tenggang rasa dan tanggungjawab sosial sesama umat yang pada akhirnya juga berimbalan pahala.

Jika secara psikologis puasa Ramadhan menumbuhkan perasaan dan kesadaran atas penderitaan dan kekurangan orang lain, maka zakat fitrah adalah aplikasi/ stimulasi perasaan dan kesadaran terhadap penderitaan dan kekurangan orang lain. Hari raya sendiri kesempatan untuk membuktikan bahwa semua orang, kaya atau miskin, sementara bisa sama-sama bergembira. Kegembiraan itu ditandai dengan semarak gema takbir, sholat id bersama saling berkunjung dan bermaafan dengan karib kerabat sehingga tumbuh keakraban dan rasa hormat dan ikatan sosial diantara sesama umat di lingkungan masing-masing.

Kenyataan yang terjadi belakangan justru bertolak cenderung menyimpang dari makna dan tujuan berhari raya itu. Yaitu kecenderungan  menjadikan hari raya sebagai hari libur  bebas berhiburan dan berekreasi ke pasar-pasar dan objek-objek wisata. Hari raya seolah kesempatan untuk berhamburan. Hari raya seolah dianggap pintu bendungan yang dibuka selebar-lebarnya sehingga  menimbulkan bah dan menghanyut semua amalan ibadah, latihan dan pendidikan selama puasa serta zakat fitrah itu. Solah hilang sudah perasaan tentang penderitaan, kesulitan dan bahkan kelaparan yang masih diderita sebagian besar umat di daerah ini.

Akibatnya, Idulfitri yang mestinya disemarakkan suara takbir dan pemukiman ditandai orang-orang yang saling mengunjungi dan bermaafan berubah sama sekali. Begitu shalat Idulfitri berakhir, masjid-masjid sepi dari jamaah dan suara takbir. Yang ramai justru orang yang hilir mudik di jalan mengunjungi gua-gua, kebun binatang, ngarai, sungai, danau dan berbagai tempat rekreasi atau objek wisata diantaranya banyak dihuni monyet.

Melihat kenyataan itu terkesan seolah berhari raya adalah bersilaturrahmi dengan monyet. Atau perbuatan maksiat, misalnya dengan berjogetria mengikuti alunan musik organ tunggal dari pentas dangdut dengan pakaian dan sikap prilaku  yang bertolak belakang dengan tuntutan puasa, shalat tarwih dan makna zakat fitrah.

Boleh jadi kecenderungan berhari raya berbelok ke perbuatan mubazir, hiburan dan perjalanan yang cenderung mengundang maksiat, lantaran selama Ramadhan para ulama dan da’i cuma berbicara tentang puasa dan zakat fitra dan nyaris tak ada yang mengajarkan bagaimana seharusnya berlebaran Idulfitri yang benar.

Apapun alasannya, yang pasti di jalanan dan diobjek-objek wisata itu  tenggang rasa dan gembiraan bersama yang menjadi tujuan puasa dan zakat fitra berubah jadi unjuk kekayaan dan pamer harta benda yang pada akhirnya justru bisa menyakitkan dan mengundang kecemburuan sosial bagi yang tak berpunya. Di samping itu, berhari raya di jalan, di pasar dan objek wisata itupun meningkatkan kosumsi bahan bakar, peningkatan arus dan jumlah kendaraan di jalan raya sehingga menimbulakan kemacetan yang merepotkan petugas lalu lintas dan pengguna jalan raya itu sendiri.

Lihat saja selama sepuluh tahun terakhir di Sumatera Barat. Bukittinggi- Padangpanjang yang cuma 15 Km, di hari-hari lebaran harus ditempuh tiga sampai lima jam. Padang- Padangpanjang, 75 Km, yang biasanya ditempuh satu setengah jam harus dilewati lima sampai tujuh jam. Kota Bukittinggi sendiri yang memang banyak objek wisata penuh sesak.

Mengatasi hal itu Pemda Sumatera Barat melalui Dinas Kimpraswil, sudah memulai pembangunan jalan alternatif menghindari kemacetan di ruas jalan Padangpanjang- Lembah Anai, Sicincin, Lubuk Alung. Menurut Ir. Metra Gusiar, Kasubdin Pembangunan Jalan Dinas Kimpraswil Sumatera Barat, sejak tahun 2005 lampau sudah dibangun jalan provinsi di utara Gunung Singgalang, dari Kotomambang, Sincincin,  ke Balingka terus  ke Pang Luar Bukittinggi sejauh 52 Km. Diantaranya, 40 Km dari Kotomambang ke Malak yang diresmikan 17 September 2009 ini.

Begitupun kemacetan di jalan raya Padang Bukitinggi, termasuk kesumpekakan di Bukittinggi di hari- hari lebaran itu, masih akan mengancam. Soalnya, kecenderungan berlebaran di jalanan dan ke objek wisata itu kian meluas. Apalagi, Pemko Bukittinggi sendiri belum memiliki perencanaan yang matang mengatur keluar masuk kendaran ke kota itu.

Jika ditelusuri akar persoalannya, kemacetan dan kesembrautan di jalan raya itu tak lain karena adanya penyimpangan prilaku berhari raya itu. Karena itu sebelum lebaran ini ada banikanya ulama dan mubalig mengeluarkan himbauan atau fatwa tentang berlebaran yang benar sesuai tuntunan Rasulullah. Sehingga berhari raya tidak lagi di jalan raya  atau di objek-objek wisata itu. Sehingga setelah berpuasa umat tidak lagi terjerumus pada perbuatan dosa, maksiat dan hal-hal yang mubazir.(*)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: