Saudagar, Budayawan dan Pahlawan

Pos Metro Opini 17 September 2010

Oleh H. Fachrul Rasyid HF

Silaturahmi Saudagar Minang (SSM) ketiga diselengarakan di Padang pada 15 dan 16 September 2010 lalu. Sekitar  600-an saudagar Minang datang dari penjuru dunia. Yang pertama 17 September 2009, juga di Padang dihadiri sekitar 700-an saudagar. Jika dulu dihadiri Yusuf Kalla sebagai Wakil Presiden, silaturahmi kali ini dihadiri Yusuf Kalla sebagai saudagar.

Tiga tahun lalu tema yang diusung dalam sillaturahmi itu adalah “Menjalin Silaturrahmi, Membentuk Jaringan dan Mengembangkan Sinergi Bisnis Diantara Saudagar Minang”. Kali ini tampaknya mulai melangkah mencari upaya memberi makna silturahmi itu. Setidaknya itulah yang terbaca dari tema diskusi, “Aktualisasi Peran Elit Minang di Rantau untuk Pembangunan Sumatera Barat”, dan “Optimalisasi Peran Intlektual dan Saudagar Minang”. Ujung dari semua itu, seperti diharapkan Yusuf Kalla saat pembukaan, Sumatera Barat harus banyak melahirkan pengusaha.

Agaknya, dilihat dari perhelatannya, pertemuan itu tentulah begitu besar maknanya dan kalau semua kesepakatan dilaksanakan akan besar pula dampaknya bagi Minangkabau, bangsa Melayu dan Indonesia. Sebab, saudagar   berasal dari bahasa Persia atau dari bahasa Sangskerta (terdiri dari dua suku kata, sau= seribu, dan dagar = akal) berarti seribu akal. Dalam pengertian sehari-hari saudagar adalah pedagang besar yang lincah, kreatif dan  punya jaringan usaha yang cukup luas.

Saudagar pada dasarnya memang hanya sebuah profesi. Namun sejarah membuktikan dalam menjalankan profesinya itu para saudagar selain berperan sebagai pedagang yang mencari keuntungan ia juga menjalankan misi sebagai budayawan dan bahkan pahlawan bagi satu suku atau bangsa.

Saudagar-saudagar Minang, misalnya, Luak Limapuluh Koto (kini Limapuluh Kota)  yang menyebar dari Pelabuhan Pangkalan Kotobaru ke Sumatera Utara, Riau dan Semanjung Malayisa sejak abad ke 13 selain mengembangkan adat budaya Minangkabau mereka juga jadi pelopor dan pahlawan bagi kerajaan-kerajaan di wailayah perdagangannya

Misi inilah kemudian yang mendorong berdirinya nama daerah dan dipakainya adat Minang seperti di Limapuluh, Tanjung Tiram, Talawi dan sebagainya di  pantai Timur atau berdirinya Kerajaan Padang Unang, keluarga asal marga Nasution di Tapanuli Sumatera Utara. Para saudagar Minang pulalah yang menjadi pendukung utama berdirinya kerajaan Rokan, Kerajaan Tambusai dan Kerajaan Siak Sri Indra Pura di Riau. Berdirinya Kerajaan Negeri Sembilan yang kemudian menjadi pelepor bersekutuan Negeri Melayu di Malaya merupakan bukti lain dari kepeloporan saudagar Minang.

Dalam kotek lain, sudagar Arab yang menjelajahi pelosok dunia termasuk Nuasantara tak hanya mencari barang dagangan tapi juga mengembangkan ajaran dan budaya Islam serta menjadi kekuatan berdiri dan bertahannya  kerajaan-kerajaan Islam sampai kemudian menjadi pelopor perlawanan terhadap penjajahan Portugis, Inggris dan Belanda.

Lebih spesipik lagi, berkembangnya ulama-ulama besar dan pendidikan madrasah di Minangkabau sekitar abad ke 18 hingga pertengahan abad 20, selain karena diantara mereka merupakan saudagar juga karena mereka didukung penuh oleh para saugadar yang ada. Pertanyaan bagaimana para ulama membangun masjid dan gedung madrasah sampai begitu besar tak lain atas sumbangan dan dukungan para saudagar. Saudagar pun berperan sebagai bapak asuh, mencari siswa baru dan kurir bekal hidup murid madrasah itu.

Bahkan di zaman modern sekarang, meski tak diamati lagi, pada dasarnya  peran saudagar masih menentukan prilaku dan model pakaian masyarakat satu daerah. Saya menemukan dua daerah di Minangkabau. Pertama daerah di mana pedagang pakaiannya didominasi para haji. Pakaian yang mereka jual, khusus wanita, selalu mempertimbangkan nilai-nilai Islam sehingga pakaian wanita di daerah itu rata-rata berbaju kurung dan sulit sekali melihat wanita memakai yerek atau celana Hawai.

Daerah kedua, pedagang pakaian itu rata-rata orang muda/ setengah baya yang tak berlatarbelakang pengetahuan agama. Pakaian yang mereka jual  pun tergantung model yang berkembang. Akibatnya di daerah itu wanita berpakaian minim dan sulit sekali melihat wanita berbaju kurung. Tua muda memakai yerek dan cela Hawai.

Berdasarkan bukti sejarah dan fakta yang terjadi, saudagar yang mengemban misi budaya dan motivator bagi kemajuan masyarakat tentulah sulit disamakan dengan pengusaha yang cenderung kapitalis dan sekuler.

Tampaknya misi itulah yang belum dibicarakan dan belum mendapat perhatian saudagar Minang sekarang, di kampung atau di rantau. Akibatnya, penegakkan adat basandi syara’, syara’ basandi kitabullah misalnya,  yang seharusnya mendapat dukungan kuat para saudagar terpaksa dipundaki sendiri oleh para ulama dan pemuka adat.  Tanpa mengemban misi budaya dan kepeloporan seperti saudagar Minang di masa lalu,   saudagar Minang hari ini tentulah hanya akan dilihat sebagai agen kapitalisme dan sekulerisme yang akan dianggap membayakan adat dan agama. (*)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: