Polisi Pagi

Refleksi Haluan 20 September 2010

Oleh H. Fachrul Rasyid HF

Ada pemandangan menarik tiap hari kerja dari pukul 06.30 hingga 07.30 pagi di jalanan kota-kota di jajaran Polda Sumatera Barat sejak lebih 20 tahun lalu. Di Kota Padang misalnya, hampir semua personil polisi lalulintas (polantas), dari yang berpangkat terendah hingga yang tertinggi berdiri di sepanjang jalan kota. Bahkan kadang melibatkan personil polisi dari kesetuan pengendalian masyarakat (Dalmas).

Mereka bertugas mengatur lalulintas dan membantu pejalan kaki menyeberang jalan dan sebagainya. Para pengguna jalan yang dianggap melanggar lalulintas bukan ditangkapi melainkan ditegur dan dinasehati. Tujuan mereka hanya satu bagaimana lalulintas jadi lancar sehingga semua orang bisa sampai ke tujuan dengan cepat dan selamat. Pemandangan itu mengesankan betapa polisi terasa benar-benar mengayomi masyarakat.

Kegiatan itu mungkin tak ada duanya di Indonesia. Karena itu agaknya, teman saya, seorang jurnalis dari Kota Medan, saat berkunjung ke Padang lima tahun lalu, sempat terheran-heran. “Ini luar biasa. Para perwira polisi pun turun ke jalan mengatur lalulintas. Saya belum pernah melihat hal ini di Medan dan kota-kota lainnya,” katanya.

Sebagai warga kota Padang sayapun  merasa tersanjung. Sebab,  kiprah polisi pagi seperti  itu sangat mencitrakan bahwa polisi itu memang melayani, melindungi dan mengayomi masyarakat. Maka, siapapun agaknya merasa bangga punya polisi yang berkiprah sesuai semboyannya “ melayani dan melindungi masyarakat”.

Seandainya semua polisi di semua bidang tugasnya bersikap seperti itu tentulah polisi akan mendapat tempat terhormat, dihargai dan disegani di mana-mana bahkan hingga mereka pensiun. Sebab, cara itu sangat kontras dengan pemandangan misalnya, polisi yang suka menggunakan gardu polantas sebagai pos menyetop pengendara sepeda motor atau pengemudi mobil sehingga tugas mereka terkesan lebih sebagai penangkap pengguna jalan raya ketimbang pengatur lalulintas. Bahkan ada yang memanfaatkan kerusakan lampu pengatur lalulintas sebagai jerat menangkapi dan memungli pengendara.

Pemandangan pagi itu juga sangat kontras dengan polisi bermobil patroli lalu lintas yang suka mengadakan razia di tikungan, di perbatasan daerah, di depan Polsek atau menunggu truk lewat di tengah malam di berbagai kota. Juga sangat kontras dengan sikap polisi yang di Polsek- Polsek di ujung-ujung daerah yang sering “maju tak gentar tergantung berapa dibayar”. Akibatnya banyak pengaduan masyarakat yang tak ditindaklnajuti. Bahkan warga yang meminta perlindungan sering berbalik jadi korban. Akibatnya, sebagaimana sudah sering terjadi, banyak kantor Polsek yang didemo bahkan dibakar massa.

Meski demikian kifrah polisi pagi tampaknya perlu dievaluasi. Soalnya, ada kecenderungan keramahan pelayanan di jalan itu menjadi kebaikan yang buruk. Betapa tidak. Lihat saja setiap pagi, polisi berusaha membantu menyeberangkan pejalan kaki di semberang tempat. Kemudian melewatkan kendaraan di persimpangan meski lampu pengatur lalulintas masih menyala merah.

Cara-cara itu, meski dimaksudkan untuk menolong penyeberang dan memperlancar arus lalulintas namun kebiasan itu sama artinya, pertama, mendidik masyarakat menyeberang di sembarang tempat. Dan itu  bertentangan dengan aturan yang berlaku bahwa menyerang haruslah di zebracros.

Kedua, melewatkan kendaran di persimpangan saat lampu jalan masih merah sama artinya dengan mendidik masyarakat melanggar larangan melintas di saat lampu merah. Ketiga, cara itu  sama artinya dengan mendidik dan mengajari masyarakat bahwa hukum atau aturan identik dengan polisi atau penegak hukum. Apabila polisi membolehkan berarti hukum juga boleh dilanggar. Dengan kata lain, penegakkan hukum dan aturan itu tergantung polisi dan penegak hukum.

Karena itu mungkin warga kini semakin biasa menyeberang di sembarang tempat meski zebracros terus dibuat di tempat-tempat yang telah ditentukan. Warga juga kian berani menerobos lampu merah, misalnya, ketika persimpangan dianggap sepi sehingga menimbulkan kecelakaan yang membawa maut.  Masyarakat pun kian biasa mematuhi ketentuan hukum di saat di depan aparat. Ketika polisi aparat lengah atau sedang tak ada hukumpun dilanggar. Dan, ini menjadi biang penyebab kecelakaan lalulintas, kecelakaan sosial dan kecelakaan  pemerintahan seperti korupsi dan penyalahgunaan kekuasaan.

Kita memang patut memuji dan menghargai kebiasaan baik yang telah dipertahankan polisi selama ini , khususnya polantas di jajaran Polda Sumatera Barat itu. Namun di masa yang akan datang tentu diharapkan agar setiap kebaikan yang diberikan polisi  lebih mendidik masyarakat mematuhi aturan hukum, termasuk berlalu lintas yang benar. Jika tidak, tentu kebaikan itu akan terus berdampak buruk dalam masyarakat. (*)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: