Muhammadiyah Perlu Organisator Berani

Refleksi Haluan 23 September 2010

Oleh H. Fachrul Rasyid HF

Pimpinan Muhammadiyah Wilayah Sumatera Barat akan menyelenggarakan Musyawarah Wilayah 24 September 2010 ini. Antara lain menyusun program kerja, menjawab persoalan yang dihadapi dan memilih pengurus baru priode mendatang. Sejauh ini, seperti diberitakan media, sudah muncul 56 nama kandidat calon ketua Pengurus Wilayah satu jumlah yang cukup besar.

Tapi adakah satu diantaranya yang memenuhi harapan Muhammadiyah ke depan?. Bisa jadi ada dan atau tidak ada. Dikatakan ada karena tak mungkinlah dari 56 nama itu tak ada layak memimpin wilayah Muhammadiyah. Boleh jadi selama ini orangnya tak pernah mencuat atau tampil di depan publik. Tapi bisa juga tak ada karena memang selama ini belum ada yang kelihatan.

Bagiamanapun peserta musyawarah perlu mempertimbangkan mana pemimpin yang dibutuhkannya, apakah pemimpin profesional, kompetensional atau pemimpin situasional. Sebab, melihat perkembangan sosial politik, budaya dan ekonomi sekarang yang diperlukan bukan hanya seorang pimpinan tapi seorang pemimpin.

Diantaranya, mungkin karena pengalaman dan pendidikannya dianggap profesional memimpin organisasi sosial kemasyarakatan seperti Muhammadiyah. Atau mungkin karena pengalaman, keterampilan dan keilmuannya, latar belakang pendidikan, dan kepemimpinannya  yang telah teruji ke dalam dan keluar Muhammadiyah dianggap lebih berkompeten memimpin Muhammadiyah. Tapi juga perlu dicermati mereka yang karena situasi yang berkembang hari-hari ini dianggap relevan memimpin Muhamadiyah.

Kajian itu diperlukan mengingat realita umum berbicara, dilihat dari jumlah papan nama lembaga pendidikan, rumah sakit dan masjid, masyarakat berpersepsi bahwa Muhammadiayah Sumatera Barat begitu besar. Tapi kalau dilihat secara organisatoris di mana satu lembaga dan lembaga lainnya hanya dipertautkan nama Muhammadiyah bukan oleh organiasinya tampkanya  Muhammadiyah hanya besar di nama dan kecil secara potensi kelembagaan.

Padahal kalau seluruh lembaga dan badan usaha bernama Muhamadiyah itu dikelola secara cooporat dan manejemen yang baik tentulah potensi sosial politik, budaya dan ekonomi  kebesaran Muhammadiyah menjadi tak tanggung-tanggung. Sayang, jangankan kelembagaan Muhammdiyah, identitas kemuhammdiyahan anggotanya pun mulai sama-samar. Jika di awal-awal kelahirannya anggota Muhammadiyah ditandai misalnya, sikapnya yang tegas cerdas, kritis, istiqamah dan berani, berpenampilan rapi, klimis dan berpeci kini sulit dibedakan diantara masyarakat umumnya.

Sementara anggota oragnisasi yang lain menunjukkan diri  misalnya,  dengan jenggot, celana yang sedikit menggantung, sorban, atau memiliki jumlah anak yang lebih besar, jidat yang menghitam dan sebagainya. Entah karena itu anggota dan kader Muhammadiyah seperti mudah sekali terseret-seret ke dalam berbagai partai dan organisasi lain sehingga Muhammadiyah diposisikan sebagai sebuah rumah makan yang cuma punya dapur tanpa telase. Etalase dan meja hidangannya dikuasai organisasi lain. Buktinya kader Muhamadiyah lebih suka jadi anggota legislatif dari partai-partai yang secara prsikologis dan politis tak menolong Muhammadiyah.

Melihat perkembangan 25 tahun terakhir, Musyawarah Piminan Muhammadiyah kali ini sepantunya bersungguh-sungguh memilih dan menentukan calon pemimpinnya. Sebab, selama rentang waktu tersebut pimpinan Muhamamdiyah Sumatera Barat nyaris jatuh ke tangan tokoh retorik atau mubalig yang hanya mampu berbicara di depan publik tapi tak mampu menguasai Muhammadiyah. Aatau akademis yang tenggalam di kampus dan atau ulama/ mubaligh yang lebih suka mencari populeritas pribadi ketimbang membesarkanMuhammadiyah. Dengan cara itu mereka mudah melompat ke jabatan politik atau ekonomi untuk keuntungan pribadi bukan  Muhammadiyah.

Belajar dari kenyataan tersebut, secara sederhana ada enam indikasi yang perlu dipertimbangkan dalam mmsuyawarh tersebut.  Yaitu tokoh yang punya kepribadian dan keluarga yang baik di mata masyarakat, punya kepedulian/ sensitifitas yang tinggi,  kejujuran, kecerdasan intlektual, dan keberanian yang teruji.

Selama ini banyak diantaranya yang memiliki kepribadian dan keluarga yang baik tapi rendah kepedulian terhadap perkembangan. Ada yang punya kecerdasan dan kejujuran tapi tidak punya keberanian. Akibatnya nyaris tak ada respon dan sumbangan pemikiran apalagi kritik darinya, kecuali memuji ke sana ke mari untuk kepentingan sesaat. Mereka seakan lupa bahwa sikap, pendapat, kritik dan respon selaku pemimpin Muhammadiyah menjadi tolok ukur, pertimbangan dan pedoman dalam masyarakat. (*)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: