Asuransi Seraya Jiwa Jawi

Refleksi Haluan 15 Oktober 2010

Oleh H. Fachrul Rasyid HF

Program pemberdayaan petani yang dicanangkan Gubernur Irwan Paryitno melalui seraya (serayo/ seduai) sapi alias jawi oleh pejabat/ PNS di lingkungan Pemda Sumatera Barat kepada peternak, tampaknya cukup menggiurkan. Para pejabat/PNS yang direkomendasikan mendapat pinjaman modal pembelian induk sapi kepada bank atau koperasi sebesar 7 hingga Rp 8 juta, cukup tertarik.

Namun bagi bank atau koperasi, untuk apapun dana itu digunakan, tetap pada prinsip pinjaman pribadi dengan konsekwensi jaminan pribadi. Bisa SK, surat berharga atau harta milik pribadi. Ketika kemudian kredit macet, apakah itu karena jawinya hilang, mati karena sakit atau kecelakaan dan dicuri orang, pihak pemberi modal tentu tak mau peduli.

Sejauh itupun tampaknya, belum jadi persoalan bagi PNS/pejabat Pemda Sumatera Barat.  Yang mengganjal di hati mereka adalah jaminan sapinya aman. Maksudnya, apakah ketika sapinya hilang, mati, dicuri atau kejadian lain yang merugikan, ada jaminan investasinya tak hilang alias ikut mati.

Kemudian siapa lembaga pengadaan, penyeleksi, serta penjamin bahwa sapi itu sehat atau sekurangnya tak mandul dan tidak takonceh. Lalu lembaga apa pula yang membina atau mendidik peternak sehingga pengemukan dan pembiakan sapi itu jadi sukses.

Kesangsian itu cukup beralasan. Pengalaman selama ini, misalnya program bantuan sapi bagi koperasi, sapi bantuan presiden atau sapi dalam berbagai prorgam pemberdayaan petani. Kebanyakan program sapi itu tak mencapai sasaran program. Ada saja sapi yang tiba-tiba hilang, atau dilaporkan dicuri orang atau ditemukan di pasar ternak. Atau yang diperbantukan sapi tapi yang sampai ke tangan petani justru kambing alias sapi sebesar kambing. Celakanya kasus-kasus seperti itu, mungkin karena bernama bantuan, banyak yang menguap di tengah jalan.

Kini, bila sapi itu merupakan investasi pribadi dengan dana bank, kemudian bermasalah tentu bukan negara yang dirugikan melainkan para pejabat/PNS. Setidaknya, jika kini gaji yang mereka terima sudah jauh berkurang untuk memenuhi kebutuhan pendidikan anak atau bayar kredit kendaraan tentu mereka juga harus mengurangi gajinya lagi untuk memenuhi cicilan kredit pembelian sapi.

Nah, dari situ muncul keinginan adanya lembaga penjamin bahwa sapi yang akan mereka investasikan cukup sehat. Kemudian adanya asuransi yang menjamin keselamatan jiwa jawi. Dengan demikian, apabila kemudian sapinya hilang, diterkam harimau, mati karena sakit atau dicuri orang, layaknya kendaraan ada  asuransi yang mebayar kerugian. Untuk itu jelas diperlukan nilai premi bagi seekor sapi untuk rentang waktu tertentu. Begitu juga dirumuskan aturan misalnya tentang keadaan sapi yang bisa diasuransikan. Kemudian diperlukan pula bentuk berita acara dari kepolisian tentang sapi yang hilang. Bisa juga ada otopsi atau pemeriksaan sapi untuk memastikan penyebab kematian yang boleh dibayarkan klaimnya.

Saya kira, meski kedengaran lucu, keinginan untuk mendapatkan asuransi seraya jiwa jawi itu adalah sesuatu yang rational dan logis dan perlu dipertimbangkan. Sebab, di zaman ini, katakanlah karena patuh dan hormat kepada gubernur, tapi siapa yang mau bersivesatsi berspekualsi dengan reskio tinggi seperti sapi. (*)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: