Kalau SBY Belajar dari Obama

Refleksi Haluan 7 Oktober 2010

Oleh H. Fachrul Rasyid HF

Penundaan keberangkatan SBY ke negeri Belanda Selasa 5 Oktober lalu, sebagaimana bisa disimak langsung pernyataannya di televisi, adalah karena adanya tututan John Wattilete, pemimpin kelompok gerakan Republik Maluku Selatan (RMS) di Pengadilan Den Haaq yang akan digelar saat Presiden SBY berada di sana. Wattilete nenuntut agar Presiden SBY ditangkap atas tuduhan pelanggaran HAM di Maluku. SBY menilai digelarnya persidangan tersebut, terlepas dari bagaimanaa keputusannya, adalah sebuah penghinaan terhadap bangsa dan negara Indonesia.

Tak pelak peristiwa itu langsung menjadi berita dan pembicaraan hangat di media masa cetak dan elektronik.Ada yang menuding dengan sikapnya itu  SBY telah mengakui eksistensi RMS, dan menganggap gerakan sparatis itu sebuah lembaga yang sah. Namun sebelum terlalu jauh memberikan penilaian  ada baiknya kasus itu dikaji melelaui analisa dampak oponi pemberitaan (tentang pernyataan SBY).

Sebagaimana diketahui Presiden SBY berkunjung ke Negeri Belanda adalah atas undangan Ratu dan Perdana Meneteri Belanda. Artinya, pertemuannya nanti adalah pertemuan dua kepala negara. Kendati ada kelompok RMS yang mengajukan gugatan di pengadilan dan itu dianggap bisa membahayakan atau paling tidak mencemarkan nama baik kepala negara dan bangsa, staf presiden seharusnya tak menyarankan gugatan itu dijadikan alasan penundaan keberangkatan. Sebab, dalam opini, alasan itu mau tak mau akan mengesankan pengakuan atas keberadaan dan kekuatan RMS sebagaimana banyak dilontarkan para pengamat.

Kalaupun dianggap berbahaya Presiden bisa membawa pasukan khusus sebagiamana dilakukan Menteri Luar Negeri Amerika Condoleeza Rice yang datang ke Indonesia pertengahan Maret 2006 disusul Presiden  Amerika Gorge W. Bush saat berkunjung ke Indonesia 20 November 2006. Dengan cara itu, opini akan berbicara bahwa Indonesia juga punya kekuatan yang bisa diandalkan.

Kalau tidak akan membawa/ mendahulukan pasukan khusus, staf Presiden SBY bisa belajar dari sikap dan pernyataan Presiden Amerika Barak Obama yang beberapa kali membatalkan/menunda kunjungannya ke Indonesia. Obama pasti tahu bahwa di Indonesia sering muncul teror bom yang ditujukan kepada bangsa/ pemerintahan  Amerika dan Obam,a sangat kaut dengan teror itu.

Tapi Obama tak pernah beralasan Indonesia tak aman. Setiap kali membatalkan kunjungannya ke Indonesia ia justru berbicara tentang berbagai peristiwa dan persoalan yang sedang dihadapinya di negeri sendiri. Sehingga, opini yang mencul kemudian tidak memberi citra buruk/ penakut kepada Obama dan tidak pula menimbulkan kesan negatif terhadap Indonesia. Dengan cara itu Obama tak mengesankan penakut, meski ketakutannya setengah mati.

Presiden SBY bisa menggunakan alasan cara Obama. Misalnya ia menunda kunjungannya ke Belanda mengingat beberapa daerah sedang dilanda bencana alam, seperti di Wasior, Papua. Jika alasan itu yang digunakan tentulah opininya akan sangat positif baik di dalam maupun di luar negeri. Setidaknya orang akan menganggap Presiden SBY lebih peduli kondisi bangsanya sendiri ketimbang berkunjug ke luar negeri.

Tapi kalau trik diplomasi cara Obama itu dianggap terlalu “manis” Presiden SBY bisa menggunakan alasan yang lebih menyengat. Tanpa menyebut-nyebut gugatan kelompok RMS, Presiden SBY bisa menyatakan bahwa kondisi keamanan di dalam negeri Belanda tak menguntungkan. Pernyataan itu jelas akan berdampak ganda. Pertama menunjunjukan bahwa ancaman di negeri itu. Kedua, pernyataan itu pun bisa “menghajar” Belanda di mata dunia karena membuka permusuhan kepada tamu negara yang diundangnya sendiri dengan cara memberi peluang atau melindungi gerakan yang memsuhi tamunya.

Namun terlepas dari salah kata itu, entah karena demikian alam demokrasi atau dirasuki rasa benci, argumentasi dan komentar miring terhadap Presiden SBY belakangan tampaknya semakin tajam saja . Komentar dan pendapat itu nyaris tak membedakan SBY sebagai presiden dan sebagai pribadi. Apa saja tentang Presiden SBY, cara bicara, cara berjalan, pakaian, tetamu yang datang ke istananya nyaris tak pernah luput dari “gunjingan” . Kepala negara seolah bukan lagi pemimpin bangsa dan lambang kebesaran negara.

Kondisi ini jelas tak menguntungkan bagi kelangsungan kehidupan berbangsa dan bernegara. Selain Presiden SBY sendiri patut mengurangi pendapat dan komentarnya di media massa, untuk mengurangi berbagai penilaian, masyarakat pun perlu menyadari bahwa sejelek apapun SBY dia adalah Presiden Republik Indonesia. Buruk baik suatu  negara dan bangsa ikut ditentukan bagaimana rakyat menghargai presiden. (*)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: