Menangkap Makna Tugu Gempa

Refleksi Haluan 5 Oktober 2010

Oleh H. Fachrul Rasyid HF

Mohammad Abduh, ulama dan pemikir Islam terkemuka, pernah berkata. Setiap kebenaran didahului keragu-raguan. Tapi bagi sebagian masyarakat Minang, kebenaran kadang didului dengan kecurigaan dan bahkan ejekan. Begitulah ketika Fauzi Bahar membangun dan meresmikan tugu alias monumen gempa di Taman Melati, Padang, 30 September 2010 persis setahun peristiwa gempa bumi dahsyat 30 September 2009.

Kendati demikian, sikap itu tak perlu disesali karena memang melawan tradisi lisan yang mengakar dalam masyarakat selama ini. Pada tradisi lisan setiap sesuatu lebih banyak dibicarakan ketimbang dituliskan. Apapun persoalan dan peristiwa penting dalam hidup masyarakat diabadikan secara lisan sehinga segala sesuatu berakhir sampai di mulut.

Tak aneh bila peristiwa dalam sejarah perjalanan Minangkabau/Sumatera Barat tak banyak ditemukan tulisan, catatan, benda-benda, yang bisa berbicara fakta.  Yang banyak justru dalam bentuk cerita atau kisah-kisah bahkan dongeng dan legenda. Ketika kemudian ingin mempelajarinya kembali, masyarakat tak punya bukti untuk mengungkap apa yang pernah terjadi.

Yang banyak meninggalkan bukti sejarah itu, benar atau tidak, justru penjajah Belanda. Sehingga, para ahli yang ingin merujuknya harus ke Negeri Belanda. Padahal dari catatan peninggalan Belanda itu sulit dipilah mana nilai kultur dan motivasi kepahlwan bangsa Belanda sebagai penjajah dan mana nilai kultur dan motivasi kepahlawanan bangsa sendiri. Gempa Padangpanjang tahun 1926 salah satu contoh. Gempa dahsyat saat itu kemudian bisa dikatakan semua orang tapi nyaris tak ada fakta atau sesuatu yang bisa berbicara menggambarkan bagaimana persis dahsyatnya gempa itu.

Peristiwa galodo di Sumatera Barat selama 30 tahun terakhir juga nyaris tak tercatat secara akurat. Sebut misalnya, galodo Pasir Laweh, di kaki  timur laut Gunung Merapi, Kabupaten Tanah Datar, tahun 1977 silam yang menghancurkan puluhan rumah dan belasan nyawa melayang. Begitu juga galodo Bukit Tui, Kelurahan Tanah Hitam, Padangpanjang, tahun 1985 yang menelan 145 jiwa.

Galodo Lubuk Basung yang meluluhlantakan belasan rumah dan ratusan hektar sawah sekitar tahun 1990, galodo hulu Batang Lolo yang memparakporanda Muara Labuh tahun 1995. Galodo Pasir Ampek Angkek tahun 1997. Terakhir galodo yang terjadi di Bukit Manguih, Malalak, 7 November 2008,  menewaskan enam warga, menghancurkan lima rumah dan 200 hektar sawah. Yang terakhir ini mestinya dapat diantisipasi, kalau memang jadi catatan dan dipelajari mengingat di tempat yang sama pernah terjadi peristiwa serupa tahun 1930 dan tahun 1979.

Pertistiwa gempa yang menguncang Sumatera Barat selama 12 tahun terakhir juga nyaris tak tercatat secara akurat. Mulai dari gempa Kerinci Mei 1996, gempa Bengkulu Februari 2000, gempa Mentawai 10 April 2005, gempa Tanah datar/ Padangpanjang dan Solok Maret 2007, kemudian gempa Mentawai 12 dan 13 September 2007 yang mengguncang Padang dan Pariaman. Padahal khusus gempa 10 April 2005, gempa 13 September 2007 termasuk 30 September 2009 terjadi dengan keuatan dan waktu bersamaan, sekitar 7 dan 7,9 pada Sekala Rechter, terjadi sekitar pukul 17.00 dan 17.30 sebuah indikator yang patut dicurigai untuk dipelajari.

Gempa pukul 17:16:10 Rabu 30 September 2009, tentu tak cukup diwariskan dengan tradisi lisan. Sebab, selain dahsyat manitudenya cukup luas. Gempa berkekuatan 7,9 Skala Rechter itu meluluhlantakan Kabupaten Padang Pariaman, Kota Pariaman, Kota Padang, sebagian Kabupaten Agam, Bukittingi, Pasaman Barat dan sebagian Pesisir Selatan. Sebanyak 1.117 nyawa melayang, 1.214 jiwa luka berat, 1.688 luka ringan . Sebanyak 135.448 rumah rusak berat, 65.380 rumah rusak sedang, 78.604 rumah rusak ringan.

Maka, tugu/ monumen gempa 30 September 2009 yang dibangun Walikota Padang di Taman Melati itu tentu bukan untuk populartitas mengingat gempa itu sendiri sudah amat populer di dunia. Monumen itu selain untuk membangun tardisi tulisan juga meninggalkan catatan fakta sejarah. Kala semua bangunan sudah direhab atau diganti, ketika musim berubah dan jalan pikiran beralih dari monumen itu tentu bisa dibaca hikmah tentang banyak hal. Mungkin akan menggugah kearifan tentang ilmu teknologi, sosial budaya, keimanan dan ketaqwaan sehingga bermakna bagi kehidupan generasi mendatang. (*)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: