Studi (tak se-) Banding

Opini Singgalang 8 Oktober 2010

Oleh H. Fachrul Rasyid HF

Baru 40 hari setelah dilantik jadi Gubernur Sumatera Barat, Gubernur Irwan Prayitno disertai staf khusus dan beberapa kepala SKPD pekan ini studi banding ke Jepang. Yang distudi antara lain peternakan sapi. Sebagaimana diberitakan,  Gubernur Irwan menemui peternakan sapi yang dikelola para lanjut usia. Hebat sekali. Sapi piaraan mereka tumbuh subur dan besar hingga bernilai Rp 100 juta.

Hasil studi banding itu tentu saja bisa memotivasi peternak di Sumatera Barat kelak. Mereka jels tergiur untuk menggemukkan sapinya sampai seberat dua ton atau sebesar gajah dengan harga Rp 100 juta. Sekali menjual seekor sapi sepasang suami istri bisa beribadah haji ke Mekah.

Tapi bisakah hasil studi banding itu diterapkan di Indonesia, atau di Sumatera Barat, sebagaimana di Jepang itu? Kalau saja hasil studi banding itu diterapkan di daerah asal, tentulah dari ratusan kali studi banding kepala daerah, pejabat teknis, anggota DPRD provinsi dan DPRD kabupaten/kota ke berbagai daerah dan negara selama ini sudah banyak kemajuan yang diraih. Tapi jangankan terapannya, hasil studinya pun sering tak jelas juntrungannya.

Hal itu terjadi karena studi banding selama ini mirip cerita seorang toke kopra dari sebuah kampung masuk kota di malam hari. Ia kagum melihat lampu marcury yang menjulang tinggi menerangi jalan raya. Ia pun mendatangi sebuah toko alat listrik dan membeli lampu tersebut. Pulang ke kampung, lampunya diikatkan di sebuh tiang kayu di pinggir jalan di depan rumahnya.

Tapi karena tak kunjung menyala ia balik ke kota dan memarahi tuan toko. Ia menuduh diberi lampu rusak dan minta diganti yang baru. Tuan toko Cuma tersenyum. Sebab,  kampung si toke belum dialiri listrik. “Pak, katanya, lampu jalan di kota ini dialiri listrik. Kabelnya tak tampak karena lewat di bawah tanah dan terus ke tiang. Mendengar cerita itu si toke balik pulang dengan rasa malu. Lampu itu ia di taruh di belakang tanpa pernah bercerita lagi.

Jadi, kenapa hasil studi banding yang dilakukan para pejabat dan DPR/DPRD selama ini tak efektif? Pertama karena niat diantara peserta hanya sekedar rekreasi alias melancong. Kedua, daerah atau objek yang distudi  tak sebanding atau punya beberapa perbedaan mendasar dibandingkan daerah asal peserta studi.  Antara lain berbeda kultur, pendidikan, hukum/ peraturan, fasilitas,  teknik, ilmu dan teknologi, organisasi dan kebijakan pemerintah yang ada.

Beternak sapi di Jepang itu misalnya. Jika di Jepang orang lanjut usia beternak sapi jadi kebanggaan, di Sumatera Barat malah bisa dianggap tak berprikemanusian. Selanjutnya, kalaupun ada peternak, mungkin teknik dan teknologi  belum memadai. Boleh jadi juga peternak kita sudah dibekali ilmu dan teknologi, namun oragisasi yang ada belum siap membina. Kalaupun ada organisasi, mungkin saja  program dan anggaran pembinaannya terbatas. Dan, seterusnya dan seterusnya.

Begitulah nasib ide one village one product satu desa/nagari satu jenis produksi yang dibawa pulang studi banding pejabat Pemda Sumbatera Barat dari Jepang sekitar 1990-an. Para pejabat terinspirasi melihat perusahaan Honda masing-masing komponennya diproduksi oleh tiap desa. Tapi begitu mau diterapkan di Sumatera Barat timbul kebingungan produk jenis apa yang bisa dibagi ke tiap desa. Padahal daerah Agam tuo ( Tilatang Kamang, Banuhampu Sungaipua dan Ampek Angkek) merupakan daerah one village one product sejak berabad-abad silam.

Nasib studi banding bidang kehutahan ke Korea Selatan sekitar tahun 2007 juga serupa. Pulang dari sana diceritakan bagaimana setiap pohon di hutan diberi nomor registrasi, usia dan ukurannya. Yang boleh ditebang hanya yang telah berusia dan berukuran tertentu. Akhirnya, hasil studinya sampai di depan wartawan saja. Sementara hutan di daerah ini terus dibabat tanpa pandang jenis dan ukurannya.

Sebetulnya studi banding bisa menjadi sumber inspirasi dan bahkan ilmu terapan jika para peserta menyiapkan kerangka pemikiran tentang kondisi sosial budaya, ilmu teknologi dan lemaga dan kebijakan yang ada. Kemudian menetapkan item studi yang ingin dibandingkan. Dari situ baru ditentukan daerah atau negara mana yang dianggap relevan menjawab kebutuhan studi itu. Artinya, studi banding memang dimaksudkan menjawab persoalan yang dihadapi.

Namun selama studi banding diselenggarakan bak menebar jaring, hasilnya tentu saja bak minyak habis samba tak lamak, api padam puntuang anyuik, urang kampung tingga mangango sajo.(*)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: