TKI Dalam Kultur Saudi

Refleksi Haluan 22 November 2010

Oleh H. Fachrul Rasyid HF

Kisah sedih tenaga kerja Indonesia (TKI) di luar negeri, seperti di Arab Saudi seakan tak pernah habisnya. Korban terbaru Sumiati asal Dompu, Nusa Tenggara Barat. Sumiati sebelumnya berparas cantik, kini hampir seluruh wajahnya rusak. Bibir atasnya dipotong oleh majikannya. Kemudian Keken Nurjanah, TKI asal Cianjur, Jawa Barat. Keken dibunuh majikannya tiga hari sebelum Hari Raya Idul Adha. Mayatnya ditemukan dalam tong sampah umum di Kota Abha.

Kejadian itu adalah dua dari 22.035 kasus kejahatan diantara 960 ribu TKI yang ada di Saudi Arabia (2008). Migrant Care menyebutkan selama 2010 sekitar 5.563 pekerja rumah tangga  bermasalah di Saudi,1.097 menjadi korban penganiayaan, 3.568 orang sakit akibat situasi kerja tidak layak, dan 898 orang korban kekerasan seksual dan tidak digaji.

Meski dianggap belum sebanding dengan devisa yang dikumpulkan negara dari TKI itu, namun pengirimanTKI ke luar negeri tentulah tak cukup mempertimbangkan faktor materi belaka. Pengiriman TKI, apalagi kategori pembantu rumah tangga, juga harus dilihat dari faktor kemanusiaan martabat dan marwah bangsa Indonesia yang merdeka. Dan dari sisi ini, pantas jika banyak pihak menghimbau pemerintah untuk menghentikan pengiriman TKI ke Arab.

Saya termasuk salah seorang yang menyatakan keberatan terhadap pengiriman TKI pembantu rumah tangga ke Arab Saudi bahkan sejak zaman Menteri Transimigrasi dan Tenaga Kerja dijabat Sudomo sekitar 25 tahun silam. Alasan paling mendasar adalah perbedaan sosial kultural masyarakat Indonesia sebagai bangsa Timur yang tumbuh berkembang di bawah negara demokrasi yang merdeka dan bangsa Arab dengan latar belakang sosial kultural Badui dan padang pasir di bawah kekuasaan pemerintahan kerajaan yang obsolut yang jadi penyebab kekerasan terhadap TKI itu.

Untuk mencermati perbedaan tersebut secara objektif dalam kontek berbagai kasus kekerasan terahadap TKI di Arab Saudi itu, buat sementara kesampingkan dulu hubungannya dengan agama mayoritas yang jadi anutan masyarakat. Sebab, ajaran agama, apapun dan di manapun, termasuk di Indonesia, belum sepenuhnya berimplikasi pada kultur dan prilaku seluruh anggota masyarakat pemeluknya. Seadainya agama telah indetik dengan kultur dan prilaku pemeluknya tentulah seluruh TKI akan mendapat perlakuan yang baik. Bukankah pada pemeluk agama yang sama akan berlaku nilai-nailai yang sama tanpa memberbedakan suku, ras, negara dan sistem pemerintahannya.

Di Indonesia, apalagi di pedesaan, ikatan sosial dan nilai sosial masih sangat tinggi.  Tenggang rasa, kepedulian dan solidaritas sesama tanpa melihat status sosial masih menjadi ukuran moral, kepribadian dan integritas seseorang. Jangankan penganiyaan, perlakuan buruk meski cuma dalam bentuk kata-kata, baik terhadap keluarga sendiri maupun orang lain dianggap aib, tercela perbuatan dosa yang bisa dikenai sanksi sosial: dikucilkan atau dikenai denda adat. Kalaulah potensi sosial itu diberi tempat oleh negara secara legal formal seharusnya Indonesia tak perlu mengadopsi UU kekerasan dalam rumah tangga berkultur barat.

TKI, meski cuma pembantu rumah tangga, dalam sistem nilai budaya dan hukum di Indonesia adalah anggota masyarakat sebagaimana yang lainnya. Pada mereka berlaku hukum dan aturan yang memberikan perlindungan atas hak-haknya sebagai manusia, anggota masyarakat dan sebagai pekerja.

Dalam akar budaya Arab, seorang pembantu rumah, apalagi yang dikontrak dan dibayar, dianggap budak yang belum merdeka. Kemerdekaan mereka ada di tangan majikannya sampai kontrak itu berakhir. Maka, sebagai budak mereka bebas diperkerjakan/ diperlakukan bahkan masih ada yang menganggap halal dizinahi.

Selain itu perbedaan pola pergaulan sosial antara masyarakat kita dan masyarakat Arab juga sangat berpeluang mengundang kekerasan. Dalam masyarakat kita bertegur sapa, bercengkrama, saling mengunjungi bahkan dengan pria yang berasal dari daerah atau negara yang sama adalah sebuah realita sosial. Berbicara, bersalaman atau bertemu di depan umum, dengan wanita dan pria lain bukan hal tabu.

Dalam tradisi  Arab, sebuah keluarga sepanjang hari praktis berada di rumah masing-masing yang jaraknya satu sama lain bisa berkilometer. Kebanyakan rumah, rata-rata bertingkat, itu berpagar beton setinggi dua tiga meter dan selalu dalam keadaan terkunci. Apa yang terjadi di di satu rumah nyaris tak diketahui tetangga. Kecuali ke sekolah, anak-anak dan istri hanya keluar rumah berombongan didampingi suami atau saudara lelaki dewasa pada hari Jumat dan Sabtu. Biasanya pembantu ikut rombongan itu.

Biang lain adalah komunikasi. Sebagaimana diketahui, TKI yang dikirim ke luar negeri rata-rata adalah ibu rumah tangga dengan latar belakang pendidikan yang rendah. Mereka diajari bahasa Arab dalam satu dua bulan sekedar memenuhi tuntutan komunikasi sehari-hari. Ketika kemudian mereka tinggal dan hidup di tengah keluarga Arab, terdiri dari ibu bapak dan anak-anak mungkin ada yang masih kecil, bekal bahasa Arab tadi tak memadai. Mereka tak mengenal rasa bahasa, bahasa isyarat atau bahasa sehari-hari yang  hanya komunikatif di kalangan Arab.

Teknologi peralatan rumah tangga  masakan dan kebersihan adalah hal lain yang bisa mengundang celaka.  Rata-rata rumah tangga di negeri kaya minyak itu menggunakan teknologi modern serba elektrik yang belum tentu semuanya dikenal dan dikuasai TKI. Begitu pula masakan dan bumbunya yang nyaris beda dengan apa yang ada di Indonesia. Baik  jenis, takaran maupun pengolahannya. Bahkan soal kebersihan, misalnya pakaian. Jika di Indonesia bersih dan tak bersih dibedakan kotor atau tidak kotor, maka di Arab dibedakan dengan najis atau tidak najis. Meski kelihatan kotor sepanjang tak najis buat mereka tak masalah. Sebaliknya, meski kelihatan bersih tapi dianggap terkena najis, mereka anggap kotor.

Perbedaan latarbelakang kultural dan prilaku sosial antara Arab dan Indonesia inilah yang jadi penyebab berbagai tindak pidana pada TKI. Dan  itu tentu tak cukup diatasi dengan berbagai aturan, perjanjian dan apalagi himbauan-himbauan. Tak cukup juga dengan membekali handphone sebagaimana direncanakan Presiden SBY. Kalau tetap mempertahankan TKI di Arab, untuk menyelamatkannya  tempatkan mereka di asrama di bawah pengawasan Pemerintah Indonesia. Dari asrama itu mereka diantar bus khusus ke rumah majikannya sepanjang siang. Sebelum malam mereka kembali ke asrama. Artinya, jangan biarkan mereka serumah dengan majikannya. (*)

Satu Balasan ke TKI Dalam Kultur Saudi

  1. aishazuraidah mengatakan:

    terima kasih pak ,sangat membantu

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: