“Sanduak Dorong” Marzuki Ali

Oleh H. Fachrul Rasyid HF

Refleksi Haluan 6 Agustus 20011

Isu yang paling hangat dibicarakan pekan-pekan ini adalah pernyataan Ketua DPR RI Marzuki Ali tentang sarannya agar KPK dibubarkan. Lantas atas pernyataan itu nyaris semua pihak menyodok Marzuki. Ia dituding bukan seorang negarawan dan bahkan dianggap antipemberantasan korupsi.

Bila dilihat dari segi ilmu komunikasi, apalagi komunikasi politik, pernyataan Marzuki Ali sebenarnya adalah hal biasa. Bagi masyarakat Minang, terutama yang memahami kato nan ampek, kato mandaki kato manurun, kato melereng dan kato mandata, protes yang dialamatkan kepada Marzuki terasa lucu dan menggelikan. Soalnya, apa yang dikatakan Marzuki Ali dalam komunikasi Minangkabau disebut sanduak dorong, sesuatu yang dicintai diungkapkan dengan nada benci, sesuatu yang dibenci diungkapkan dengan nada sayang atau sesuatu yang ditolak diungkapkan dengan kata-kata menerima, sesuatu yang serius diungkapkan dengan seloroh dan seterusnya.

Coba cermati kembali pernyataan Marzuki. Katanya, bila tim seleksi calon ketua KPK tak menemukan lagi orang yang kredible, orang yang patut dan pantas karena calon-calon yang ada pada bercacat, sudah, bubarkan saja KPK itu. Begitu juga soal pengampunan koruptor. Marzuki meminta agar para koruptor diampuni dan dosa-dosanya diputihkan. Lalu negara ini dibangun kembali dari nol yang bersih. Sebab, korupsi sudah demikian merata di hampir semua elemen dan lini pemerintahan dan partai politik, bahkan Anas Urbaningrum, Ketua Umum Partai Demokrat, partai Marzuki sendiri, terkena tuduhan korupsi.

Pemikiran Marzuki juga bukan hal baru. Apa yang dikatakannya sudah lama menjadi pembicaraan di kalangan rakyat bawah. Dan, itu merupakan gambaran ketidak berdayaan kalau bukan keputusasaan rakyat terhadap prilaku korupsi di negeri ini. Sayang suara rakyat, meski disampaikan dalam aksi demonstrasi nyaris tak digubris. Padahal kalau dibandingkan Marzuki pernyataan Todung Mulya Lubis yang meminta agar dibentuk Tim Independen di KPK, jauh lebih keras. Bukankah KPK selama ini diakui sebagai lembaga independen? Lantas, kalau diminta agar dibentuk lagi Tim Independen berarti KPK sudah tak dianggap independen lagi.

Marzuki Ali tak perlu dibela karena dia sendiri tentu sudah siap menghadapi reaksi atas apa yang dilontarklannya. Apa yang dikatakannya juga tak perlu diperdebatkan. Bukankah kenyataan membuktikan bahwa apapun lembaga dan jabatan di negara ini nyaris tak ada yang bersih dari korupsi, kolusi/ penyelahagunaan kekuasaan dan nepotisme.

Seharusnya, orang-orang yang memiliki kecerdasan berpolitik dan punya idelisme menyelematkan bangsa dan negera menjadikan pernyataan Muarzuki sebagai garis star untuk meluruskan kembali penyelenggaraan negara ini. Sayang, semuanya sedang jungkir balik. Yang benar dianggap salah yang salah dianggap benar. Kejujuran hampir sama sebangun dengan kebohongan. Benarlah apa yang dikatakan Prof. Dr. Syafii Ma’rif bahwa negara ini sudah berada di bawah titik nadir alias di tubir jurang kehancuran. Karena itu tampaknya negara ini memerlukan sejumlah Marzuki lagi untuk mengubah keadaan. (*)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: