Air Tiris Bukan Air Bah

Oleh H. Fachrul Rasyid HF

Refleksi Haluan Riau 7 Maret 2011

Utang dibayar dosa disembah. Pribahasa itulah tampaknya yang dipilih pemuka masyarakat Air Tiris, Kecamatan Kampar, Kabupaten Kampar dan Kapolres Kampar AKBP MZ Muttaqien menyelesaikan kerusuhan antara warga dan Polisi Sektor Air Tiris. Buktinya, Ahad 27 Februari 2011 lampau, kedua pihak berdamai dengan kesepakatan : warga yang ditahan dibebaskan, markas polisi yang rusak diperbaiki warga. Artinya, utang dibayar dan yang bersalah minta maaf atas kesalahannya.

Solusi  berinspirasi kearifan lokal itu agaknya patut dicontoh aparat penegak hukum lain. Karena sudah begitu  banyak kasus tindak pidana selama ini, terutama yang dilatarbelakangi arogansi, salah paham dan miskomunikasi,  tak sepenuhnya bisa dituntaskan proses hukum pidana yang nota bene berkiblat ke barat

Sebab, hukum pidana (di luar kriminal murni seperti pencurian atau perampokan) hanya menghasilkan kata putus alias keputusan dan bukan menyelesaikan masalah. Yang salah dipenjara dan yang tak salah dibebaskan. Akibatnya, antara pelaku dan korban, yang bersaudara kandung sekalipun, bisa patah arang alias bakarek rotan. Kalah jadi abu menang jadi arang.  Bak memadamkan api, api bisa padam tapi puntung tetap berasap.

Kebijakan penyelesaian kasus Air Tiris yang merujuk  nilai-nilai sosial budaya, adat dan agama, justru membuahkan  kata selesai/ penyelesaian. Utang dibayar dosa disembah. Bak menarik rambut dalam tepung, rambut tak putus tepung tak berantakan sehingga biduk lalu kiambang bertaut. Tak ada yang jadi abu dan tak ada yang jadi arang.

Semua pihak, terutama aparat penegak hukum dan aparat pemerintahan, patut mendapat pelajaran berharga dari kasus ini. Paling tidak tentang krakter masyarakat Air Tiris khususnya dan Kampar umumnya. Sebagai masyarakat petani dan pedagang, mereka lazimnya lebih sabar, suka mengalah dan tak mau membuang waktu untuk urusan yang tak berfaedah. Bisa dimengerti berbagai perlakuan buruk, misalnya dipungli di sepanjang jalan atau distop tanpa alasan atau dimintai uang saat berurusan di kantor pemerintahan, dicurangi dalam penerimaan CPNS,  dan sebagainya, mereka memilih diam. Sejauh dianggap belum menginjak harkat dan martabatnya, mereka takkan beraksi apalagi melawan. Karena itu agaknya  K a m p a r  dipelesetkan kalau tak aman pasti akan ribut.

Sikap masyarakat Kampar, bak air tiris mentes perlahan. Meski kala bersenda gurau diantaranya suka bersuara keras namun bawaannya tidaklah keras. Senda gurau, ciloteh dan galetek keras merupakan bagian dari keramahan mereka. Tak aneh, meski diejek dengan sebutan ocu deyen, urang ulak dan sebagainya, mereka tak segera marah apalagi menatang berkelahi. Karena berkelahi bagi mereka dianggap aib dan tercela. Yang suka berkelahi menggunakan senjata tajam malah dijauhi /dikucilkan. Itu sebabnya, masyarakat Kampar, kecuali diprovokasi,  jarang berkelahi antar kampung. Berkelahi sekampung atau antar pribadi pun jarang terjadi .

Bukan berarti diantara warga tak terjadi perselisihan. Namun setiap perselisiahn cepat diketengahi ninik mamak sebagai pusat jala kumpulan benang sehingga perselisihan bisa berubah jadi kusuik-kusuik bulu ayam, yang cukup diselesaikan dengan paruh (musyawarah).

Air Tiris memang bukan air bah. Namun bak air menetes di atas batu lama kelamaan tetesannya bisa menembus cadas. Begitu juga Batang Kampar, meski tampak tenang namun pada gilirannya ia bisa membawa banjir dahsyat. Ingat misalnya kasus kerusahan berbau sara di Ujung Batu sekitar tahun 1996 silam. Begitu juga reaksi masyarakat terhadap Bupati Kampar (2004) Jefri Nur. Meski Jefri dinilai sering bicara dan bertindak arogan warga Kampar diam saja. Tapi begitu ia mengusir seorang guru saat dialog 16 Februari 2004, ribuan guru dan masyarakat tumpah ruah ke jalanan Bangkinang. Jefri pun dinonaktifkan Mendagri. Dan, kita juga diingatkan tahun 2007, seorang pemalak yang dibeking oknum aparat dihabisi warga sebuah desa di XIII Koto Kampar.

Kasus penyerbuan Mapolsek Kampar, Kamis 24 Februari lalu, adalah bukti yang lain. Aksi itu, seperti diberitakan banyak media,  dipicu tiga polisi yang tangkap dan main hakim sendiri terhadap  Zulkifli, 45 tahun, warga Desa Bukit Ranah. Hanya karena memegang kertas yang diduga buku rekap togel,  Zul ditangkap dan dipukuli hingga berdarahan dan terpaksa dirawat di rumah sakit. Padahal Zul bukan pejudi. Ia seorang pedagang dan muazin pula. Aksi warga kelihatannmya spontan tapi jika dirunut ke belakang spontanitas itu boleh jadi akumulasi dari sederatan perlakuan buruk aparat selama ini.

Maka tak aneh,  dalam waktu dua jam setelah Zul dianiaya warga berbondong-bondong menyerang Mapolsek Kampar itu. Meski pasukan dalmas dan TNI dikerahkan dan empat warga ditahan massa tak surut. Hebatnya, begitu ninik mamak pemuka adat dan agama turun berunding dengan polisi warga pun menahan diri. Tiga hari kemudian diperoleh kesepakatan perdamaian seperti disebutkan di atas. Toh, Kapolda Riau segera memutasikan tiga polisi yang menjadi biang rusuh. Mereka malah pantas dihukum karena tak mengamalkan prosedur penyelidikan dan penyidikan sesuai KUHAP, “kitab suci” polisi.

Kini kita memetik hikmah. Bahwa penegakkan hukum di negeri ini tak cukup hanya dengan kekuatan dan kekuasaan tapi perlu disertai keteladanan dan pendekatan sosiol budaya. Mengabaikan pendekatan kemasyarakatan itu, seperti banyak terjadi selama ini, bisa memicu air menetes jadi air bah.(*)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: