Gubernur Datuk

Oleh H. Fachrul Rasyid HF

Opini Padang Ekspres Senin 31 Mei 2010*)

Melihat kecenderungan banyaknya calon bupati/walikota dan calon gubernur bergelar datuk, baik atas kehendak sendiri atau amanah kaum, mengundang pertanyaan sejauh mana relevansi gelar pemangku adat itu dengan jabatan kepala daerah.  Penelitian soal ini mungkin dilakukan namun secara struktural tentu tak ada relevansinya. Sebab datuk adalah gelar suku dan berwenang di dalam sukunya sendiri sebagaimana diatur petuah adat, pusako salingka kau adat salingka nagari.

Namun saecara kultural kepala daerah yang bergelar datuk tentu diharapkan lebih paham jo nan ampek.  Lebih mengerti seluk beluk adat istiadat sehingga memudahkannya bekomunikasi dengan bahasa dan etika adat masyarakat dalam menjalankan roda pemerintahan. Setidaknya, pemimpin yang memahami adat apalagi bergelar datuk mampu memanfaatkan kearifan lokal sebagai potensi pembangun masyarakat Minangkabau, bukan masyarakat partai atau golongannya. Artinya, mengandalkan gelar datuk tanpa pemahaman yang mendalam tentang adat itu sendiri tentulah akan beda jauh hasilnya.

Sumatera Barat sejak berdiri sendiri dari provinsi Sumatera Tengah tahun 1958 sudah dipimpin sebelas gubernur/pejabat gubernur. Yaitu Gubernur Kaharuddin Dt. Rangkyo Basa (1958-1965), Saputro Brotodirejo (pejabat Gubernur 1965-1967) Harun Zain Dt. Sinaro (1967-1977), Azwar Anas Dt. Rajo Suleman (1977-1987), Hasan Basri Durin Datuk Rakayo Mulie Nan Kuniang (1987-1997). Muchlis Ibrahim (29 November 1997 -27 Maret 1999), Dunija (pejabat gubernur 27 Maret 1997 – 24 Februari 2000).  Zainal Bakar (2000–  2005) Thamrin ( pejabat Gubernur 14 Maret /15 Agustus 2005) Gamawan Fauzi ( 15 Agustus  2005- 22 Agustus 2009) dan Marlis Rahman 7 Desember 2009 hingga sekarang.

Lima dari sebelas gubernur dan pejabat gubernur itu bergelar datuk. Mereka, Kaharuddin Dt. Rangkyo Basa, Harun Zain Dt. Sinaro, Azwar Anas Dt. Rajo Suleman, Hasan Basri Durin Dt. Rakayo Mulie Nan Kuniang, Gamawan Fauzi Dt. Rajo Nan Sati. Empat dari lima gubernur datuk itu terbilang sukses. Selain sukses membangun Sumatera Barat, mereka sukses melangkah ke kursi kabinet. Harun Zain diangkat jadi Menteri Transmigrasi, Azwar Anas diangkat jadi Menteri Perhubungan dan Menko Kesra, Hasan Basri Durin diangkat jadi Menteri Agraria dan Gamawan Fauzi, kini, jadi Menteri Dalam Negeri.

Jika ditelusuri lebih jauh sukses keempatnya tampaknya bukan karena bergelar datuk. Soalnya mereka bukan menjadi datuk sebelum mejabat kepala daerah, melainkan jadi datuk setelah sukses jadi kepala daerah. Hal itu sejalan dengan petuah adat ketek banamo gadang bagala. Artinya setelah gadang (sukses jadi kepala daerah) baru merekadiangkat jadi datuk. Bukan gelar dulu gadang kemudian. Harun Zain dan Azwar Anas bergelar datuk setelah kepemimpinanya diakui sukses saat menjabat gubernur. Hasan Basri Durin diangkat jadi datuk setelah sukses membangun Kota Padang dan diangkat jadi Pembantu Gubernur. Gamawan Fauzi diangkat jadi datuk setelah dianggap sukses menjabat Bupati Solok. Dan, prestasi yang mereka raih kemudian membuktikan makin mempebesar ke-gadang-an mereka.

Kenyataan ini dapat jadi bukti bahwa seorang pemimpin yang bergelar datuk tidak lebih  sukses ketimbang yang tak bergelar atau yang mendapat gelar datuk kemudian. Artinya, melihat pemimpin masa depan Sumatera Barat bukan pada sisi ke-datuk-annya, apalagi kalau besar dan tinggal di rantau, melainkan dilihat dari kemampuan, kecakapan dan pada kepeduliannya terhadap ABS-SBK dan Minangkabau selama ini.  (*)

*) Tulisan ini diterbitkan kembali mengingait banyak teman-teman yang menyoal karena sebelumnya tak termuat utuh.  Mohon maaf dan terimakasih.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: