Tim Safari (Poiltik) Ramadhan

Oleh H. Fachrul Rasyid HF

Refleksi Haluan  Agustus 2011

Untuk sekedar merefleksi ke belakang Tim Safari Ramadhan, sering disingkat Tim Ramadhan, yang kini sedang ramai turun ke masjid-masjid dan mushalla, dimulai sekitar tahun 1977 saat H.Ir.Azwar Anas menjabat Gubernur Sumatera Barat. Tim Ramadhan  adalah tim gabungan bentukan pejabat pemerintahan provinsi maupun kabupaten/kota.

Masjid dan mushalla yang dikun jungi Tim Ramadhan dipilih atau ditentukan sendiri oleh tim kepala daerah yang bersangkutan. Lazimnya, tiap masjid yang akan dikunjungi disurvey terlebih dahulu untuk mengetahui persoalan apa yang sedang berkembang di daerah di mana masjid itu berada. Pejabat yang tergabung dalam tim yang akan turun ke daerah itupun diupayakan punya kompetensi setidaknya relevan dengan  persoalan yang menonjol di daerah yang dikunjungi.

Konsepnya kala itu adalah melalui kunjungan tim pejabat di bulan Ramadhan baik pejabat-pejabat provinsi maupun kabupaten/kota bisa berdialog dan mendengar langsung aspirasi rakyat yang sedang berkumpul di masjid dan mushalla. Sebagai contoh, untuk daerah yang dianggap memiliki tingkat kriminalitas yang tinggi diturunkan tim yang diketuai Kapolda/Kapolres. Bila daerah yang dikunjungi menghadapi persoalan pertanian  maka pejabat yang diikutsertakan adalah pejabat asisten Kesra dan Ekonomi, dinas pertanian dan sebagainya.

Seperti lazimnya masing-masing tim membawa sumbangan atas nama pemerintah daerah. Sekarang sekitar 5 hingga Rp 10 juta untuk tiap masjid yang dikujungi. Bantuan uang itu sesungguhnya hanya sekedar buah tangan. Tujuan utama dari kunjungan tim tetap pada konsep pertama: berdialog, mendengar aspirasi langsung dari rakyat. Apa yang disuarakan rakyat, ada yang bisa dijawab langsung atau diikuti kemudian dengan kunjungan ke lapangan.  Karena itu setiap anggota tim perlu membawa buku harian untuk mencatat apa yang diutarakan rakyat. Catatan itu kemudian dilaporkan kepada kepala daerah untuk dibahas dalam rapat kerja masing-masing kepala daerah. Lazimnya pula Tim Safari Ramadhan nyaris mengambilalih sepenuhnya acara di masjid tersebut. Bahkan tim melengkapi diri dengan muazin, pembaca Alquran/ imam dan penceramah. Pengurus masjid hanya menyediakan waktu dan jamaah.

Tapi kini, entah karena sudah lupa atau memang disengaja, kunjungan Tim Safari Ramadhan mulai berberbelok arah. Tak semua Kepala/Wakil kepala daerah atau Ketua Tim membuka kesempatan berdialog. Para pejabat yang datang justru cenderung jadi  penceramah dan sekedar mengantarkan bantuan. Lebih celaka lagi  pertimbangan memilih masjid/mushalla yang akan dikunjungi didasarkan kepada pertimbangan politik, misalnya karena masyarakat di sekitar masjid itu dianggap sebagai basis pendukung kepala daerah saat pilkada atau bisa dirangkul jadi pendukung saat pilkada berikutnya.  Sehingga, kunjungan Tim Ramadhan yang seharusnya jadi wadah penampungan aspirasi rakyat berubah jadi ajang pembentukan jaringan politik. Tak berlebihan jika ada yang menganggap Tim Safari Ramadhan adalah Tim Politisasi Ramadhan.

Padahal kalau dicermati secara hukum, anggaran perjalanan Tim Ramadhan, juga dana bantuan yang diserahkan ke masjid-masjid itu, tak tercantum dalam APBD provinsi atau APBD kabupaten/kota. Yang ada hanyalah anggaran bantuan sosial yang diberikan berdasarkan permohonan atau bantuan yang bersifat darurat. Artinya, secara yuridis formal, biaya perjalanan dan bantuan tim Ramadhan itu merupakan sebuah pelanggaran. Tapi mungkin karena diberikan ke masjid-masjid, belum dipersoalkan oleh badan pemerikasa keuangan atau aparat penegak hukum.

Meski demikian, sebaiknya kunjungan Tim Safari Ramadhan dikembalikan ke format semula. Sehingga, meski sedikit menyimpang, wadah itu bisa digunakan untuk memberi kesempatan kepada rakyat berbicara kepada pemimpinnya tanpa harus berdemosntasi di jalanan. Dan para pemimpin pun bisa memperoleh masukan tanpa harus menunggu musrenbang yang kadang hanya sekedar memenuhi tuntutan formalitas ketimbang manfaat yang bisa dinikmati rakyat.(*)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: