Kapur IX Mengusik Nyali Kepemerintahan

Haluan 24 Agustus 2011

Oleh H. Fachrul Rasyid HF

Berkunjung ke Nagari Sialang dan Gelugur Kecamatan Kapur IX sungguh menggugah  perasaan kemanusian dan nyali kepemerintahan. Inilah yang dirasakan saat menyertai rombongan safari Ramadhan Bupati Lima Puluh Kota Dr. Alis Marajo bersama sejumlah pejabat kepala satuan kerja pemerintah daerah setempat ke perbatasan Sumatera Barat dan provinsi Riau itu Sabtu 20 Aguastus 2011 lalu.

Berkendaraan dari Pangkalan Kotobaru ke Muara Paiti ibukecamatan Kabupur IX  (34 km) terus ke Kotobangun dan Durian Tinggi (9 km) terbilang nyaman. Maklum, meski agak sempit jalan provinsi ini masih mulus. Namun dari Durian Tinggi ke Sialang (3 km) kondisinya mulai parah. Di sepanjang jalan roda kendaraan hanya menginjak sisa aspal dan genangan air di lobang yang mirip danau-danau kecil. Tapi tak lama lagi ruas ini segera berubah karena kini sedang dilakukan perbaikan saluran dan bahu jalan oleh Dinas Prasarana Jalan Tataruang dan Pemukiman (Prasja Tarkim) Sumatera Barat.

Namun perjalanan berikutnya dari Sialang ke Gelugur melintasi daerah berbukit-bukit sejauh 24 km perlu ekstra hati-hati. Bukan hanya tanjakan dan turunannya tajam yang membuat gamang tapi kondisi jalannya pun amat parah. Di beberapa tempat jalan terbelah-belah saluran air hujan karena salurannya sendiri sudah lama buta. Meski hampir semua jembatan sudah terbuat dari rangka baja namun di beberapa titik cuma menyisakan bekas pengerasan dan coran beton awal pertama jalan ini dibuka sekitar tahun 1998 silam.

Begitupun sudah ada harapan perbaikan. Rencananya Dinas Prasja dan Tarkim Sumatera Barat tahun depan akan merekonstruksi dan melakukan pengerasan jalan dengan biaya sekitar Rp 17 milyar. Kepastian itu disampaikan pejabat 50 Kota saat berdialog dengan warga di Masjid Jorong Mongan Gelugur dan warga di Masjid Sialang. Katanya, perbaikan jalan ini mendapat prioritas karena mendukung rencana penempatan sekitar 100 kk warga transmigrasi korban gempa 30 September 2009 di Nagari Gelugur.

Mengusik Keprihatinan

Jalan raya memang merupakan urat nadi ekonomi. Toh, kalaupun Dinas Prasja dan Tarkim Sumatera Barat memuluskan jalan raya sepanjang Kapur IX, agaknya tak otomatis membuat perekonomian dan kesejahteraan sekitar 27 ribu rakyat kecamatan ini bisa ditingkatkan. Sebab, yang diperlukan Kapur IX tak sebatas jalan. Masih banyak sektor kehidupan rakyat yang perlu mendapat perbaikan dan pembinaan jajaran Pemda Kabupaten maupun Pemda Provinsi Sumatera Barat.

Lihat saja rumput dan semak sepanjang pinggiran jalan yang menutupi saluran di kiri kanan jalan dan bahkan melebar sampai ke badan jalan. Lihat pula pekarangan rumah penduduk yang tak berpagar dan tanaman pisang, pinang, coklat dan pohon sawit yang tak terawat serta ternak yang berkeliaran semaunya. Nyaris tak ada sebuah pekarangan yang berpagar rapi dengan tanaman yang terpelihara secara teratur dipenuhi tanaman ramuan masakan atau sayur-sayuran sebagai sumber gizi nabati. Sepohon singkong pun sulit ditemukan. Tak aneh jika warga di sini jarang makan sayur dan buah-buahan karena sayur dan buah-buahan didatangkan dari Bukittinggi atau Payakumbuh.Ini cukup jadi bukti bagaimana kondisi kehidupan masyarakat monokultur (mengandalkan ekonomi pada satu jenis tanaman).

Sumber protein hewani, seperti ikan juga termasuk barang mahal di sini. Kecuali beberapa nagari yang memelihara ikan kolam, kebanyak penduduk mengandalkan ikan sungai. Celakanya, ikan sungai ditangkap menggunakan racun serangga sehingga ikan pada punah. Kalau saja petugas Dinas Kesehatan Kabupaten atau provinsi mau mengecek kondisi kesehatan warga, terutama anak-anak, di sini agaknya akan banyak ditemukan anak-anak bergizi buruk.

Padahal warga Kapur IX, apalagi di sekitar Sialang dan Gelugur, bukan pemalas. Mereka malah pekerja keras. Bayangkan betapa mereka menghabiskan waktu dan menguras tenaga merambah hutan membuka ladang gambir, kebun karet, kakao dan sawit. Hanya saja hasilnya amat tak sebanding dengan tenaga, waktu dan  kerusakan hutan yang terjadi. Maklum, selain pengelolaannya yang sangat tradisonal, gambir adalah komoditi yang tak diawasi dan tak memiliki standar kualitas sehingga harganya pun sangat ditentukan negara pembeli, yaitu India, Pakistan dan Banglades. Ketika produksi melimpah harga pun jatuh. Kini harga gambir di sana sekitar Rp 12 ribu/kg dari sewajarnya sekitar Rp 20 ribu.

Tanaman karet yang menjadi andalan kedua setelah gambir juga belum tersentuh ilmu dan teknik perkebunan. Selain bibitnya yang tak standar pemeliharannya pun seadanya sehingga sulit membedakan antara kebun karet dan hutan belukar di sekitarnya. Bisa dimengerti jika produksi dan kualitasnya rendah. Kini harga karet di Kapur IX cuma sekitar Rp 19 ribu dari normal Rp 22 ribu.

Masyarakat Kapur IX, apalagi di sekitar Gelugur juga bertanam pohon sawit dan kakao. Namun mereka tampaknya belum paham bahwa sawit dan kakao adalah tanaman industri yang memerlukan perawatan dan pemupukan secara teratur dan terukur. Buktinya, warga memperlakukan sawit dan kakao layaknya tanaman tua, dibiarkan tumbuh apa adanya tanpa disiangi dan tanpa dipupuk selayaknya.  Pelepah sawit tak dipangkas dan buahnya tak didodos. Tak aneh kalau pohon sawit yang sudah setinggi dua meter tak berbuah. Keadaanya  mirip pohon enau yang tumbuh liar di hutan.

Nasib tanaman kakao serupa. Pohon kakao yang seharusnya dipangkas dipupuk dan disiangi dibiarkan tumbuh menghadang keadaan. Kalau pun berbuah, buahnya jarang dan kecil. Tak berlebihan kalau usaha rakyat bertanam sawit dan kako terbilang sia-sia. Dan ini cukup jadi bukti bahwa petani di sini belum terjamah penyuluhan dan pembinaan dari petugas Dinas Perkebunan. Akhirnya, yang terjadi bukan peningkatan kesejahteraan melainkan peningkatan kesengsaraan. Buktinya, bila harga gambir dan karet jatuh ekonomi jadi lumpuh, dan di musim hujan beberapa nagari direndam banjir dan irigasi yang ada, seperti di Durian Tiggi dan Sialang, ikut binasa dihantam banjir dan longsoran dari perbukitan yang digunduli untuk kebun gambir, karet dan kakao.

Kini perekonomian di Kapur IX terbilang sedang buruk. Hanya Nagari Muara Paiti, Koto Bangun, Durian Tinggi dan Sialang yang punya sedikit areal sawah sehinggga ketahanan pangan mereka agak tersanggah. Sementara Nagari Gelugur, berpenduduk 2.200 jiwa dan belum tersentuh listrik, sumber nafkah penduduk tergantung pada gambir dan karet. Saat kini harga karet dan gambir jatuh, warga Gelugur pun terancam krisis pangan. Soalnya, mereka tak punya setumpak sawah. Sumber berasnya selama ini hanya dari padi ladang. Ladang padi itupun gagal akibat musim kemarau panjang. Padahal, kecuali kayu api, semua kebutuhan hidup tergantung pasokan beras dari Payakumbuh lewat jalan darat via Sialang atau lewat jalur sungai dari Subaling Kabupaten Kampar, Riau.

Kini harga beras di Sialang rata-rata Rp 9.500/kg dan minyak tanah Rp 6 ribu/liter. Karena kendaraan dari Sialang ke Gelugur ( sekitar 24 km) mesti menggunakan mobil dobel gardan ongkospun mahal. Ongkos penumpang Rp 30 ribu/ orang dan barang rata-rata Rp 600/kg. Bahkan upah angkut kelapa saja Rp 600/ butir.

Kerpihatinan Kepemerintahan.

Secara keseluruhan kondisi kehidupan sosial, ekonomi dan pemerintahan di Kapur IX  masih memprihatinkan, terutama bila dikaitkan dengan misi pemerintahan yang menjadi tugas pokok dinas instansi yang ada. Kalau saja setiap dinas instansi yang ada, baik di provinsi maupun di kabupaten melaksanakan tugasnya secara benar dan sungguh-sungguh, tentulah seluruh sektor kehidupan rakyat akan dapat diperbaiki dan ditingkatkan. Sayang, jangankan  memenuhi tugas dan tanggungjawabnya, berkunjung ke Kapur IX saja, apalagi sampai ke Nagari Gelugur, masih ada pejabat yang belum pernah mencoba.

Maka, tidaklah aneh jika banyak warga yang belum tahu membuat kalkulasi usaha, belum menghayati pentingnya memelihara lingkungan yang sehat, berpekerangan yang sehat dan bersih, menanam dan memakan tanaman sayur-sayuran, bertani dan berkebun yang benar. Tak aneh juga jika rakyat belum menghayati bagaimana memelihara kesehatan yang benar.

Meski nagari-nagari sudah berwalinagari dan perangkat pemerintahan yang defenitif, tapi belum satupun nagari yang mampu membuat tata ruang sehinga nyaris tak satupun nagari yang memiliki jalan poros desa. Akibatnya,  tak jelas mana yang muka (land mark) dan belakang sebuah nagari. Kalau bukan dibedakan bangunan dan pasar, nyaris tak ada bedanya antara kebun dan pemukiman tak jelas mana yang koto dan mana yang kampung.

Dapat dipastikan, kalau saja pejabat Dinas Kesehatan bersama gerakan PKK rajin turun ke Kapur IX, tentulah warga tahu memelihara dan memilih makanan yang sehat dan bergizi. Warga akan tahu membenahi pekarangan yang sehat dan menyehatkan. Kalau saja Dinas Peternakan rajin mendatangi peternak  disini tentulah Kapur IX bisa jadi penghasil ternak yang sehat dan melimpah.

Kalau saja Dinas Perikanan mau meninggalkan mejanya sejenak, tentulah Kapur IX tak harus menunggu ikan kering dari Padang karena sumber air cukup melimpah dan Kapur IX bisa menjadi penghasil ikan air tawar yang andal. Seandainya pejabat dan penyuluh pertanian/perkebunan mau berkubang ke sana tentulah kakao, sawit dan karet yang ditanam rakyat bisa memberikan nafkah yang memadai. Singkat kata kalau saja semua dinas instansi mau mencari pahala, tentulah mereka akan sangat berpahala bila menolong membangun kesadaran dan kehidupan rakyat Kapur IX.

Sayang kepedulian itu belum tumbuh merata. Bahkan lima anggota DPRD Kabupaten Lima Puluh Kota asal Kapur IX belum dirasakan warga keberadaannya di pemerintahan daerah Kabupaten Limapuluh Kota. Mereka belum tergugah untuk menyerap aspirasi dan menyuarakan kepentingan Kapur IX dalam kebijakan pembangunan daerah ini. Meski demikian, Bupati Alis Marajo tak pernah merasa lelah.  Pada priode pertama ( 2001-2006) setidaknya Alis sudah tujuh kali berkunjung ke Gelugur. Tiga bulan pertama priode kedua jabatannya ia sudah sampai lagi di Gelugur.

Alis tak sekedar melenggang. Ia terus berusaha agar jalan raya ke Kapur IX hingga ke gelugur terus dapat ditingkatkan. Disamping berharap bisa membuka isolasi dan menyejahterakan rakyat, Alis menaruh harapan Kapus IX bakal punya masa depan yang lebih baik bila jalan raya bisa mempertautkan Kapur IX dengan Kabupaten Kampar, Riau dan Kabupaten Pasaman. Jika jalan itu terwujud dari Kapur IX dengan mudah bisa dijangkau Kota Pasir Pangiraian, terus ke Medan atau Pekanbaru.

Disamping itu Alis juga terus membagi anggaran pembangunan Kabupaten 50 yang masih terbatas untuk sektor kesehatan, pendidikan dan pertanian. Langkah itu mulai nyata. Sebuah Puskesmas dengan ruangan rawat inap sudah berdiri di Sialang. Kalau saja fasilitas rawat inap itu sudah lengkap hari-hari ini pasien sekitar Sialang Durian Tinggi dan Gelugur sudah bisa dirawat inap di Puskemas yang megah itu.

Keinginan Alis secara bertahap terus disahuti Kepala Dinas Prasja dan Tarkim Sumatera Barat. Jalan raya yang dirintis Bupati Limapuluh Kota, Jufri, 24 tahun silam dan dibuka oleh pejabat  Kepala Dinas Prasja dan Tarkim Sumatera Barat. Mulai dari Sabri Zakaria, lalu, diteruskan Ir. Hedyanto, kemudian secara bertahap ditingkatkan Dodi Ruswandi. Hanya saja selama pemerintahan Bupati Amri Darwis, jalan ke Gelugur nyaris tak mendapat perhatian sehingga kembali hancur. Karena itu ketika kembali ke kursi Bupati Limapuluh Kota Alis pun berjuang membangun kembali jalan itu. Harapan Alis disahuti Ir. Suprato Kepala Dinas Prasja Tarkim, pengganti Ir. Dody Rusmandi. Suprapto akan membangun kembali jalan Sialang – Gelugur yang sudah rusak parah itu.

Harapan kita tentu dengan adanya pandangan yang kritis terhadap kondisi yang memprihatinkan ini mampu menggugah perhatian para pejabat pemerintahan yang lain di provinsi ini. Dengan demikian, Kapur IX terutama Gelugur yang selama ini merasa bagian dari Riau kembali merasa bagian dari provinsi ini. (*)

Jembatan baja di Jorong Mongan Kenagarian Gelugur dibangun 1998 di masa Bupati Aziz Haili. (foto FR)

Jembatan Sungai Dingu Nagari Gelugur dibangun tahun 2007 kini sedang dalam perbaikan karena pangkal jembatan tergerus dan runtuh. (foto FR)

Jalan dari Sialang terus ke Tanjung Jajaran dibangun tahun 2000 di awal masa jabatan priode pertama Bupati Alis Marajo, kini kondisi jalan ini sangat parah. Saluran air beralih ke tengah jalan. (Foto FR)

9 Balasan ke Kapur IX Mengusik Nyali Kepemerintahan

    • fachrulrasyid mengatakan:

      Pertanyaan anda tentang kapan berbagai hal di Kapur IX akan diperbaiki, tergantung dua hal : pertama ditentukan oleh keasadaran, keinginan dan kemauan masyarakat Kapur IX sendiri dan kedua, tergantung kemauan dan kebiajakan Pemda Kabupaten dan provinsi ini.

  1. Uwang sialang mengatakan:

    Liputan yg sangat bagus pak. Kritis dan benar-benar menggambarkan kondisi real di lapangan, bukan spti wartawan yg mengarang dibalik meja. Infrastruktur vital di kapur IX mmg sangat parah, seolah2 wilayah ini tidak memiliki pemda. Bukan hanya jalan, infrastruktur utama lainnya juga memilukan: PLN tiap hari pasti mati smp 5 bahkan sehari semalam, air PDAM merana tak kunjung terwujud, kabel telpon telkom tidak kunjung tersambung padahal sudah puluhan tahun beli lahan kantor di muara paiti (kabel telpon dibutuhkan supaya disini ada warnet dengan biaya murah/speedy shg pelajar tidak ketinggalan sumber informasi buku digital dibanding daerah lain). Semua infrastruktur utama tsb tentu saja adalah tanggung jawab pemda, krn tidak mungkin dari swadaya masyarakat. Kalau wilayah ini dibangun dgn infrastruktur memadai, sy yakin akan menjadi lumbung pendapatan daerah karena wilayahnya yg luas kaya akan potensi perkebunan, perikanan dan tambang.

    • fachrulrasyid mengatakan:

      Terimakasih atas respon anda terhadap tulisan saya. Saya selaku wartawan dengan cara itu berusaha menggugah berbagai pihak terkait. Ternyata responnya sudah mulai tampak. Jalan ke Gelugur sudah dibangun. Tinggal perjuangan saya berikutnya bagaimana jala itu bisa diaspal dan menjangkau jorong-jorong di sekitar. Saya berharap jalan itu diteruskan ke Rokan Hulu sehingga status dan kelas jalan berubah dari jalan provinsi jadi jalan nasional. Suara saya ternyata juga didengar. Baru-baru ini saya sudah baca di koran bahwa jalan akan berstatus jalan penghubung jalan nasional. Alhamdulillah. Begitupun saya membutuhklan dukungan kawan-kawan dan masyarakat Kapur IX, Sialang dan Gelugur agar banyak hal bisa kita bangun untuk negeri asal saya ini. Terimakasih.

  2. Cal desma mengatakan:

    Sya sebagai bagian dri warga kapur 9 khusus di jorong sai nyanyiang.agar bpk bupati terhormt jg.. Menperhtikn jorng kmi. Yg jauh dri penbngungan

    • fachrulrasyid mengatakan:

      Terimakasih atas komentar anda. Saya juga berharap seperti anda berharap demikian. Barangkali satu waktu kita bertemu dan berbicara apa lagi yang harus kita perjuangan untuk daerah ini. Selanjut anda bisa baca juga tanggapan saya buat Uwang Sialang di laman ini.Anda bisa kontak saya ke 081276596020.

  3. Sjamsir Sjarif mengatakan:

    Tanggal 5-6 Oktober 2014 saya menjelajah Kabupaten 50 Kota — menggunakan Toyota Kijang — masuk dari arah barat Bukittinggi – Palupuh, Puagadis (Kab Agam) ke Pua Data – Kototinggi – Suliki – Pangkalan – Gunung Malintang – Muaro Paiti – Sialang dan kembali ke Bukittinggi.

    Tujuan saya, kami bertiga (saya Sjamsir Sjarif, adinda Rivai Sjarif dan kemenakan Zulfikri) ke Muara Paiti adalah untuk memperingati Ulang Tahun Satu Abad SD Muara Paiti. Penting untuk kenangan sejarah pribadi dan Sejarah Muara Paiti, karena Seabad yang Lalu tahun 1914 ayahanda kami Sutan Sjarif dari Balaigurah, Bukittinggi mulai menjadi Guru Pertama membuka Sekolah Dasar (Sekolah Nagari) Muara Paiti itu. Sayangnya dalam arsif SD Muara Paiti itu kami dapati tidak ada tercatat sejarah pembangunan SD di awal seabad itu. Kami adik kakak, Sjamsir Sjarif dan Rivai Sjarif, menambahkan nama Sutan Sjarif ke Arsif SD Muaro Paiti sebagai Guru Pertama yang membuka dan mulai mengajadr di sekolah itu seabad yang lalu. Pihak Guru-guru SD Muara Paiti merasa berterima kasih dengan keterangan kami itu.

    Jalan-jalan sudah dapat ditempuh dengan baik dengan catatan jalan tidak baik perlu dibangun dan diperbaiki antara Puagadis (Agam) dan Puadata (50 Kota). Juga dari Muara Paiti ke Sialang, buruk sekali dan waktu itu kelihatan sedang direncanakan perbaikan; mudah-mudahan sekarang (Mei 2015) sudah jadi baik.

    Hasrat ingin terus ke Gelugur dan Rao, tetapi orang Sialang menyarankan jangan, karena tidak dapat ditempuh. Mudah-mudahan jalan Sialang – Gelugur juga sudah dijamah pembangunan Limapuluh Koto sekarang (Mei 2015). selanjutnya kerjasama dengan Pasaman diperlukan untuk pembangunan jalan terus ke Rao. Begitu harapan dari Jauh.

    Sjamsir Sjarif
    Santa Cruz, California, USA
    May 10, 2015

    • fachrulrasyid mengatakan:

      Saya tak tahu berkomentar apa. Semua yang anda tulis sudah tulis juga. Namun begitu saya kirim sebuah tulisan saya berikut: Jalan Alternatif Efektif Sumbar – Riau
      Jalan terban atau longsor sudah biasa. Tapi jalan runtuh di kawasan perbatasan Sumbar- Riau itu sudah jadi kebiasaan. Betapa tidak, hampir tiap musim hujan, dua hingga tiga tempat terjadi longsor. Kalau bukan dinding bukit yang runtuh, jalannya rubuh. Tak pelak di sekitar Rimbo Datar (Kenagarian Tanjung Balit-Tanjung Pauah) Kecamatan Pangkalan Kotobaru, Kab. Limapuluh Kota hingga Pulau Godang, Kecamatan XIII Koto Kampar, Kabupaten Kampar, Riau selalu disiagakan satu dua alat berat.

      Tiap kali ruas jalan tersebut mengalami bencana otomatis lalulintas angkutan jalan raya Payakumbuh-Pekanbaru lumpuh. Dampaknya luar biasa. Lihat saja ketika jalan sekitar Tanjung Pauh rubuh dinihari Selasa 18 November 2014 lalu. Selama tiga hari lalulintas di kawasan ini terputus. Antrian kendaraan penumpang dan barang berjejer lebih tiga kilometer dari dan ke Riau. Harga makanan kebutuhan pokok di Pekanbaru sekitarnya melonjak tajam. Sementara transaksi hasil pertanian di Sumbar juga mengalami kemacetan karena gagal dipasarkan. Sumbar dan Riau memang bak hulu dan muara.

      Kini kepadatan lalulintas di jalur ini terus meningkat. Diperkirakan sekitar 15 ribu kendaraan melintasi jalan tersebut tiap hari. Sekitar 20 juta orang dan 35 hingga 40 juta ton barang melintasi jalan ini. Dari Sumbar khususnya lebih 75 % berupa produksi pertanian dan peternakan seperti beras, jagung, kacang, sayur mayur, pisang dan hasil peternakan sapi ayam dan telur. Semua hasil usaha rakyat.

      Padahal kondisi tanah di kawasan Rimbo Datar sejak awal dibangun 1993 silam sudah disadari, sangat labil. Daerah itu merupakan perbukitan dengan bebatuan berpasir yang sangat rapuh. Sebagian besar badan jalan berupa urukan. Sedikit saja dilewati air, pasir-pasir akan hanyut dan tebing bukit akan bergeser. Tak aneh jika PT. Bimantara yang membangun jalan baru (pengganti jalan lama Pangkalan- Rantau Berangin yang terbenam waduk PLTA Kotopanjang) ini terpaksa bekerja dua kali.

      Alternatif Efektif

      Selama ini tiap kali jalan ini mengalami bencana, satu-satunya alternatif dari Sumbar ke Riau yang dianggap efektif adalah lewat Solok-Kiliran Jao, terus ke Pekanbaru. Tapi jalur ini terbilang jauh. Dan, lebih jauh lagi kalau lewat Pasaman-Gunung Tua, Pasir Pangarayan –Pekanbaru.

      Mengingat anacama rutin yang muncul di jalur jalan penghubung dua provinsi ini selayaknya dibangun jalan alternatif yang lebih efektif, dekat dan cepat dibandingkan jalur Solok-Kiliran Jao – Pekanbaru.

      Peluang jalan alternatif antara lain melalui Pangkalan Kotobaru (dari arah Payakaumbuh) belok kini melwati Gunung Malintang terus ke Muara Paiti Kapur IX sekitar 34 kilometer. Kedua kecamatan ini sudah dilewati jalan provinsi sekaligus sebagai jalan strategi nasional sudah beraspal hotmix dan kini sedang dalam pelebaran dari 3,5 meter jadi 6 meter.

      Hanya saja diperlukan membangun jalan baru panjang sekitar 5 Km ( kini berupa jalan setapak) dari Muara Paiti ke arah timur menuju Nagari Tanjung Kecamatan Kampar Hulu, Kabupaten Kampar. Dari Tanjung melewati jalan provinsi Riau, bisa dilanjutkan ke Muara Takus-Batubersurat masuk kembali ke jalan nasional Payakumbuh – Pekanbaru.

      Untuk ruas jalan ini hanya diperlukan sebuah jembatan menyeberangi Batang Kampar sekitar 100 meter di kawasan Muara Pamanisan. Atau dari Muara Paiti melintasi perbatasan provinsi dibangun jalan baru langsung ke Muara Takus. Dan itu nyaris tak memerlukan pembangun jembatan.

      Jika jalur alternatif ini dibangun, selain lebih efektif dan tak memerlukan lebih banyak pembangun jalan baru, jaraknya juga lebih pendek. Jarak antara Pangkalan- Muara Paiti-Tanjung dan Batubersurat hanya sekitar 65 Km. Beda sekitar 15 kilometer antara Pangkalan-Tanjung Pauh- Batubersurat.

      Alternatif kedua adalah jalan Pangkalan Kotobaru lurus ke timur lewat Baluang (Kecamatan XIII Koto Kampar, Kabupaten Kampar) terus ke Siabu dan keluar di pinggir Kota Bangkinang. Jarak jalur ini hanya sekitar 30 Km. Ini pernah menjadi salah satu alternatif pengganti jalan lama sebelum PLTA Kotopanjang dibangun. Tapi kemudian dialihkan ke jalur Pangkalan-Tanjung Pauh-Batubersurat demi pemukiman relokasi penduduk korban PLTA dan membuka akses lebih dekat ke kawasan hulu Sungai Kampar.

      Cuma jalur Pangkalan Kotobaru-Baluang-Bangkinang ini pernah dirintis Bupati 50 Kota dr. Alis Marajo dan Pemda Kabupaten Kampar. Namun tak berlanjut. Karena itu jika jalur ini jadi pilihan alternatif jelas memerlukan dana lebih besar untuk membuka jalan bartu dan beberapa jembatan berukuran sedang.

      29 November 2014.

  4. Sjamsir Sjarif mengatakan:

    Beberapa hari sebelum “lingkaran kecil” perjalanan yang saya tempauh di atas (5-6 Oktober 2014), 1 Oktober 2014 saya juga sudah jalani “lingkaran besar” arah jarum jam Bukittinggi – Rao – Panyabungan – Padang Sidempuan – Sibuhuan – Gunung Tua – Dalu-dalu – Pasir Pangiraian – Pekanbaru – Bukittinggi. Lingkaran ini memang jarak jauh seperti anda bayangkan. Saya menempuhnya 3 hari Bukittinggi – Pekanbaru. Hari pertama Bukittinggi – Rao (bermalamdi Rawo. Hari ke-2 Rao ke Penyabungan dengan masksudad belok ke timur ke Dalu-dalu, dinasehatkan orang jangan, susah jalan; saya terus ke utara ke Padang Sidenpuan dan bermalam semalam.

    Perjalanan dari Padang Sidempuan makan waktu lama berangkat jam 8:00 pagi sampai di Pekanbaru jam 11:00 malam. Saya langsung ke Hotel Pangeran istirahat untuk besoknya kembali ke Bukittinggi. Jadi alternatif anda untuk gunakan lingkaran ini sebagai hubungan Sumatera Barat – Riau is not advisable, terlalu jauh.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: